http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=253844
Senin, 30 Okt 2006, Miskin Kronis Oleh Djohansjah Marzoeki Suatu saat ada koran yang menulis "Orang miskin di Indonesia meningkat." Dibantah! Entah, mana yang benar. Tapi, jelas, orang miskin di Indonesia masih banyak. Dengan alat ukur apa saja, dengan ilmu statistik apa saja, jumlah orang miskin di Indonesia memang masih amat banyak. Kemiskinan harus ditanggulangi. Banyak teori ekonomi yang tersedia di lembaga perguruan tinggi dan riset, tapi tidak semua teori itu bisa dijalankan atau tidak mudah dilaksanakan. Menanggulangi kemiskinan kecuali menjadi tugas pemerintah, seperti menyediakan lapangan kerja, memberantas korupsi, menerapkan sistem ekonomi, menyediakan infrastruktur, dan mengundang investor, juga bisa mengajak perorangan untuk tertarik memikirkan perbaikan status ekonomi perorangan atau per keluarga dengan mengubah cara berpikir dan cara berjuang dari keluarga itu. Perubahan cara berpikir dan cara bertindak pada ukuran kecil orang per orang atau keluarga bisa berkembang dan punya dampak pada penerapan kebijakan umum yang dilakukan pemerintah. Tulisan ini akan lebih banyak membahas hal yang terakhir, mengapa di negara miskin seperti ini masih ada orang kaya bukan karena harta waris atau tindakan kriminal seperti mencuri, merampok dan korupsi, tetapi dari usaha yang wajar, legal, dan tidak merugikan siapa pun. Untuk hidup di hotel berbintang 4 atau lebih, kamarnya sekitar Rp 300.000 hingga Rp 2.000.000 semalam. Untuk makan dua orang di restoran hotel sekelas itu, sekitar Rp 60.000 hingga Rp 300.000 sekali makan. Hanya orang berpenghasilan cukup yang dapat menikmati kehidupan seperti itu. Sisanya? Harus perlu berjuang ke arah itu. Banyak di antara kita yang bukan hanya hidupnya tak bergerak, tidak keluar dari kemiskinan, tetapi malah menghancurkan atau menakutkan sumber-sumber pengembangan ekonomi, apakah itu infrastruktur, industri, dll. Banyak industri tutup atau lari ke negara lain akibat iklim yang tidak kondusif yang datang dari pemerintah maupun masyarakatnya. Kalau kita melihat di kampung-kampung, banyak keluarga yang miskin kronis. Artinya, dulu miskin, sekarang miskin, dan tak ada hari depan yang lebih menjanjikan untuk waktu waktu yang akan datang. Mengapa begitu? Sebagian di antara mereka adalah pegawai negeri, pegawai swasta, penarik becak, dan sebagian lagi pengangguran. Kapan penghasilan itu cukup? Ukurannya bukan garis kemiskinan atau UMR, tetapi penghasilan itu cukup untuk makan rutin, kebutuhan listrik, air bersih, membayar transpor dan sekolah, sedikit menabung, dan membayar asuransi kesehatan, kendaraan, dan jiwa dalam pengertian serba sederhana. Kalau untuk kebutuhan sederhana di atas masih belum mampu membayarnya, kita masih berada dalam situasi yang akan bisa mengancam kesukaran. Berapa besar pengasilan itu? Entahlah. Tetapi, tentu, itu jauh lebih besar daripada penghasilan Anda saat ini yang mengaku masih miskin. Gaji pegawai negeri saja masih terlalu sedikit. Penghasilan bulanan Anda harus ditambah! Pernahkah Anda bertanya atau mempertanyakan secara bersama-sama dalam keluarga, "Bagaimana cara kita menambah penghasilan?" Banyak keluarga miskin tidak pernah mempertanyakan hal itu. Mereka hanya menghitung pendapatan yang biasa dia dapat. Bahkan, sebelum gaji bulanannya diterima, utangnya di warung-warung rokok, kopi, beras sudah menunggu datangnya si gaji. Bila datang, gaji segera habis atau hampir habis membayar utang. Menabung? Asuransi? Ooh terlalu jauh... Tetapi, mereka tidak pernah bertanya, "Bagaimana menambah penghasilan keluarga?" Seluruh anggota keluarga kecil setiap hari pastilah selalu bertemu. Tetapi, dalam keluarga besar yang anak-anaknya sudah mulai dewasa, pertemuan keluarga lengkap seyogianya diadakan secara rutin, sebulan sekali, misalnya, dan mengubahnya menjadi semacam rapat dengan acara menambah penghasilan keluarga. Dengan bertanya terus tentang masalah itu, suatu saat, entah di rapat yang keberapa, akan ada yang mempunyai gagasan tepat, artinya laik dilaksanakan. Kalau begitu, akan lahir suatu "proyek" keluarga yang akan dijalankan. Keluarga itu mulai sibuk bekerja mempertanyakan bagaimana mendapatkan modal, pembagian kerja, siapa bekerja apa, lalu menghitung untung rugi yang semuanya ditulis dalam selembar kertas dengan judul Proposal. Mempunyai proposal bukan berarti hari ini atau minggu depan proyek itu jalan karena kadang tidak semudah itu. Apalagi ini pemikiran baru yang belum punya pengalaman di bidang seperti itu. Ada kata mutiara untuk itu: konsultasi, tanya kepada mereka yang lebih tahu daripada Anda. Seperti mencari modal, modal bisa berasal dari tabungan sendiri, bisa milik orang lain, bisa pula pinjam. Kalau pinjam, hendaknya hati-hati. Biasanya, bank meminta bunga yang wajar, tidak besar. Tetapi, bank pasar mungkin lebih besar, apalagi rentenir perorangan yang membungakan uang. Keuntungan yang bakal Anda peroleh bisa habis dimakan perorangan yang bukan bank. Tugas lain, misalnya, membuat "feasibility study" kecil-kecilan, memprediksi pemasukan dan pengeluaran uang. Sesudah ada proyek, rapat keluarga seperti tadi menjadi lebih sering diadakan, untuk evaluasi proyek. Untuk itu, ada semacam catatan kegiatan atau data untuk melihat maju mundurnya usaha. Dari situ, kita bisa melihat apakah usaha kita harus diperbesar, diperkecil, atau diubah. Kadang, proyek itu kurang biasa, bisa timbul rasa malu, semacam kurang terhormat, karena mungkin berjualan dan menjajakan barang ke mana-mana, bahkan door to door (dari rumah ke rumah). Ini adalah suatu contoh anggapan yang merusak. Gengsi kadang-kadang bagaikan racun yang meracuni diri sendiri. Tidak ada proyek yang tidak terhormat atau amat terhormat, selama tidak menipu, mencuri, atau korupsi. Aneh memang, orang-orang korup yang tidak beda dengan pencuri malah tetap merasa dirinya terhormat, begitu pula anggapan lingkungannya. Racun kedua adalah malas, tidak punya antusiasme, ogah, tidak ulet. Malu dan malas keduanya menjadi penghalang yang besar terlaksananya proyek. Djohansjah Marzoeki, guru besar pada Fakultas Kedokteran Unair [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
