http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=253743
Senin, 30 Okt 2006,


Akses TNI Terlalu Kuat dan Luas 
Berbahaya bila Diberi Hak Pilih 


JAKARTA - Wacana hak pilih TNI masih dalam koridor pro dan kontra. Suara untuk 
menghadang pemberian hak pilih bagi tentara itu menunjukkan tren menguat. 
Sejumlah politisi Senayan masih mempertanyakan positifnya bila hak di bilik 
suara itu juga diberikan ke militer. 

Anggota Komisi I DPR Effendi M.S. Simbolon, misalnya, meminta semua pihak untuk 
realistis. Dalam konteks negara demokrasi, kata politikus PDIP itu, tentu tidak 
dibenarkan dikotomi atau diskriminasi terhadap hak kaum sipil dan militer. 
"Tetapi, melihat anatomi dan karakteristik bangsa ini, kita memang harus lebih 
jernih untuk meletakkan keberadaan TNI di tengah konflik kepentingan bangsa," 
ujarnya. 

Dalam kondisi bangsa yang serbamajemuk, lanjut dia, perlu adanya kelompok yang 
menduduki posisi netral sebagai instrumen bangsa yang bisa menjadi penyatu di 
tengah konflik komunal. "Jika TNI-Polri ingin netral dan profesional, wilayah 
itu cukup tepat bagi mereka untuk mengapresiasikan pengabdiannya kepada bangsa 
dan negara," katanya. 

Jika hak pilih TNI benar-benar diberikan, jelas Simbolon, bahaya akan mengancam 
stabilitas keamanan negara. Sebab, peluang intervensi kepentingan politik di 
internal korps TNI akan sulit dihindari. "Mereka (TNI) bisa membentuk kaukus 
kekuatan politik yang relatif besar, sebut saja 'Partai Babinsa' (TNI-Polri, 
Red)," tuturnya. 

Bagaimana tidak, lanjut dia, Partai Babinsa itu memiliki sekitar 700.000 
personel yang terangkum dalam 120 batalyon TNI dan sekitar 50 batalyon di 
Polri. "Mereka tersebar di bawah, dengan dana yang cukup dari suplai negara, 
kewibawaan yang mantap, legitimasi, legalitas, dan power yang besar. Itu akan 
menjadi komoditas politik yang selalu diincar banyak kalangan," katanya. 

"Jangankan diberi hak pilih, sekarang pun tidak diberi hak pilih mereka bisa 
bergerak dalam ruang politik dengan leluasa," tuturnya. 

Karena itu, Simbolon mengimbau semua pihak supaya tidak bersembunyi di balik 
posisi TNI sekarang netral. "Siapa yang tahu kalau ternyata selama ini sikap 
komando itu tetap digunakan," sindirnya. 

Sebelumnya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (Kabakin) Letjen TNI (pur) 
Moetojib berpandangan bahwa TNI memang tidak selayaknya diberi hak pilih. 
Sebab, hal itu akan menimbulkan efek politis berdampak negatif terhadap 
stabilitas negara. 

Purnawirawan yang pernah menjabat gubernur Lemhanas itu juga tidak terlalu 
percaya bahwa pemberian hak politik tersebut akan berjalan secara mekanis. 
Yakni, kemungkinan politisasi terhadap kekuatan TNI tidak akan terjadi. 
Padahal, dalam situasi tersebut, kesempatan bagi faksi-faksi militer dan 
politisi untuk main mata akan semakin terbuka. 

Selain itu, jelas Moetojib, partisipasi TNI dalam ruang politik juga berpeluang 
memunculkan perpecahan di internal korps. Situasi tersebut juga akan membawa 
konsekuensi logis bagi aspek profesionalitas TNI ke depan. "Akan ada 
kemungkinan para politisi melakukan intervensi ke kesatuan teknis TNI," 
tukasnya. 

Sikap lebih moderat dilontarkan Hilman Rosyad Syihab, anggota Komisi I DPR. 
Menurut dia, hak pilih itu tidak tepat jika diberikan pada Pemilu 2009. Sebab, 
hal itu akan memunculkan resistansi yang terlalu besar di kalangan sipil dan 
TNI sendiri. "Sebaiknya hak pilih TNI diberikan pada 2014," katanya. 

Kader PKS itu berpendapat bahwa tujuan diberlakukannya UU No 3 Tahun 2002 
tentang Pertahanan Negara dan UU No 34 Tahun 2004 tentang TNI adalah untuk 
memperkecil peluang masuknya TNI ke pusaran politik. Aturan itu sengaja 
diarahkan pada upaya pembentukan TNI yang profesional, terlatih, terdidik, dan 
terjamin kesejahteraannya. "Jadi, tidak perlu lagi berpikir politik karena 
supremasi sipil sendiri belum berjalan baik," tuturnya. (aku

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke