http://www.indomedia.com/poskup/2006/11/04/edisi04/opini.htm

Generasi muda, generasi global,

generasi penuh tantangan

Oleh Dr. Paul Budi Kleden, SVD *

PERINGATAN sumpah pemuda tahun ini di diperkaya Kompas (30 Oktober) dengan 
sebuah jajak pendapat mengenai idealisme kaum muda. Disinyalir bahwa semangat 
muda pada umumnya mulai meredup. Menurut jajak pendapat itu, generasi muda 
dewasa ini tidak lagi dilihat dan dinilai sebagai kelompok yang memperparah 
kerukunan dalam masyarakat. Hasil jajak pendapat ini mesti menjadi satu masukan 
yang serius untuk mempertimbangkan pendampingan terhadap kaum muda. Untuk itu, 
dibutuhkan pemahaman yang jujur mengenai kondisi kaum muda dewasa ini. Kaum 
muda tidak dapat dipersalahkan begitu saja.

Generasi muda kita adalah generasi yang mengalami secara intensif akibat dari 
runtuhnya berbagai batas yang secara tradisional mendefinisikan sebuah kelompok 
masyarakat. Batas yang dirasakan agaknya lebih luas terbentang antara generasi 
tua dan generasi muda dalam lingkup budaya yang sama, daripada batas yang 
terbentang antara orang-orang muda dari lingkaran budaya berbeda. Secara 
spontan generasi muda kita lebih mudah menemukan ekspresi dirinya di dalam 
tarian dan musik generasi muda dari luar, daripada di dalam lantunan syair dan 
gerak tarian budayanya sendiri. Sejumlah kaum muda memang masih melantunkan 
syair daerah dan mengadakan tarian budaya tetapi itu lebih merupakan sebauh 
pengecualian.

Namun sebagai generasi global generasi ini mesti menghadapi kemenduaan yang 
sering dialami di dalam globalisasi. Globalisasi memang di satu pihak dialami 
sebagai sebuah proses kehadiran berbagai pengaruh lain yang memperkaya, yang 
justru membantu sebuah kebudayaan menyatakan dirinya secara lebih jelas. Di 
hadapan tawaran pengaruh berbagai kebudayaan lain, satu kebudayaan ditantang 
untuk membenah diri. Berbagai elemen budaya yang membelenggu dapat diubah 
berkat pertemuan dengan budaya-budaya lain. Di dalam globalisasi yang dipahami 
seperti ini terjadi pembebasan dari kungkungan penguasaan sewenang-wenang oleh 
pihak-pihak tertentu.

Tidak jarang, globalisasi, untuk banyak wilayah dunia dan sebagaian manusia, 
dialami sebagai pengambilalihan sejumlah pola pikir dan ungkapan perasaan dan 
pikiran dari luar, sementara sebagian besar pikiran dan ekspresi perasaan dan 
pikiran masih berada di bawah penentuan tradisi lama. Orang mengambil alih 
sejumlah hal dan menempelkannya pada sebuah sosok yang mempunyai mentalitas 
yang lain. Misalnya: kita mengambil alih musik berat dari barat, tetapi kita 
tidak memperhatikan bahwa di barat musik dimainkan dalam ruangan yang rata-rata 
memiliki peredam suara, sehingga orang lain tidak mesti sangat terganggu. 
Kitamengambil alih kebiasaan menciptakan tempat-tempat hiburan seperti biliar. 
Tetapi hal baru itu kita tempelkan pada mental santai kita, sehingga dengan 
agak mudah orang menjadikan hiburan sebagai pekerjaan utamanya. Dan lebih parah 
lagi, tempat-tempat hiburan itu ada di tengah-tengah kampung, sementara orang 
bermain di sana terkadang semalam suntuk. Generasi mudah kita dapat terbawa 
oleh kebiasaan seperti ini.

Di dalam menghadapi masukan dari luar, sering terjadi bahwa generasi muda 
menjadi tidak realistis. Seperti dikatakan di atas, dia mengimpikan apa yang 
dialami oleh generasi muda di tempat lain, tetapi dia tidak memperhatikan 
lingkungannya. Dia menjadi asing di depan kenyataan sendiri. Dia adalah 
generasi yang teralienasi.

Karena itu dia menjadi apatis terhadap berbagai isu di dalam masyarakatnya. 
Kenyataan ini bukan cuma disebabkan oleh kebudayaan kita yang masih terlalu 
kurang menghargai orang muda dan melibatkan mereka dalam berbagai penyelesaian 
persoalan, tetapi juga karena orientasi generasi muda sendiri. Globalisasi 
sepertinya membawanya pergi dari perhatian terhadap keadaan masyarakat sendiri.

Dunia pendidikan di dalam era globalisasi juga mengalami globalisasi sebagai 
sebuah tugas penuh ambivalensi. Di satu pihak, dunia pendidikan sebenarnya 
sudah banyak dibantu dengan adanya arus informasi dan perluasan akses 
informasi. Hal ini berperan besar dalam memperluas cakrawala kaum muda. Dengan 
mudah orang memperoleh dan menyimpan informasi tentang berbagai hal. Pada pihak 
lain muncul persoalan besar berkenaan dengan pertanyaan, mau diapakan semua 
informasi itu.

Saya kira, ungkapan 'banjir informasi' itu mengungkapkan secara cukup baik 
tantangan pendidikan di era global. Aliran air yang biasa dan banjir pada 
tingkat tertentu dapat digunakan untuk sesuatu yang berguna. Namun, seperti 
banjir yang deras dapat membobolkan sebuah bendungan yang bertugas 
meregulasikan arus air, demikian pun banjir informasi dapat saja membobolkan 
ketahanan orang, menyapu bersih segala yang tak kuat dan menyisakan 
keporak-porandaan. Kalau demikian, bagaimana banjir informasi itu dialami dan 
digunakan akan sangat bergantung ketahanan bendungan. Pendidikan mempunyai 
peranan yang ambivalen terhadap bendungan. Di satu pihak pendidikan mesti 
berhadapan dengan bendungan yang ada pada seseorang. Karena sudah terbentuk 
dalam lingkungan tertentu, seorang peserta didik sudah membangun 
tendensi-tendensi resistensi sesuai dengan nilai dan ideal yang diinternalisir 
dari lingkaran budayanya.

Tendensi resistensi ini dapat sekian kuat, sehingga orang menolak segala yang 
lain, yang baru, yang datang dari luar. Orang tidak mau belajar karena hanya 
mau mempertahankan apa yang telah dimilikinya, karena sudah merasa puas 
denganapa yang telah ada. Di sini peran pendidikan perlu mengambil bentuk 
kritik kebudayaan. Pendidikan mesti menjadi banjir yang membobolkan benteng 
pertahanan yang terlalu kuat itu. Melalui pendidikan orang mesti dapat mengenal 
kerangka berpikir tradisionalnya, dan kalau perlu, mengoreksi kerangka berpikir 
itu apabila dia tidak sanggup lagi menjelaskan berbagai fenomena baru yang 
dialami di dalam kehidupan dan dunia.

Tetapi pendidikan pun harus membantu menyusun ketahanan baru, mengangkat dan 
merumuskan nilai-nilai baru atau memperbaharui nilai-nilai lama yang akan 
berfungsi sebagai penyekat untuk menyaring arus informasi. Melalui pendidikan 
orang perlu dibantu untuk menyusun sebuah kerangka nilai dan pengetahuan, 
ketajaman kritis akal dan kepekaan nurani, agar dapat secara kritis menilai 
tawaran informasi. Generasi muda perlu dibantu untuk memiliki kriteria 
penilaian moral di dalam dirinya sendiri. Hal ini merupakan sebuah persoalan 
besar, karena kita hidup di tengah sebuah kebudayaan, yang memberikan fungsi 
hati nurani kepada pihak luar seperti guru, polisi, pastor.

Untuk mengarahkan pendidikan kepada sebuah pendidikan yang menumbuhkan otonomi, 
kita harus beralih dari pendidikan bertujuan memberikan informasi 
sebanyak-banyaknya kepada orang, sebab tawaran informasi itu sudah diperoleh 
melalui berbagai jalur lain. Pendidikan mesti secara sadar mengarahkan orang 
untuk menilai informasi secara kritis. Mengumpulkan informasi sebanyak-banyak 
tidak lagi menjadi tujuan pendidikan di dalam era globalisasi. Yang menjadi 
tujuan pendidikan adalah kesanggupan untuk memilah-milah informasi. Kita mesti 
memperhatikan perubahan paradigma pendidikan ini: dari pengumpulan informasi 
menjadi kesanggupan menggunakannya. Karena itu, yang perlu diperhatikan di 
dalam pendidikan bukannya banyak informasi atau bahan yang diberikan kepada 
generasi muda, melainkan latihan berpikir kritis untuk menganalisis masalah.

Otonomi pendidikan yang banyak dibicarakan sekarang adalah satu bentuk jawaban 
yang hendak diberikan atas persoalan kita. Saya tidak memahami otonomi 
pendidikan terutama di dalam kerangka otonomi daerah, artinya di dalam kerangka 
hak yang lebih besar yang dipercayakan kepada daerah untuk mengatur dirinya. 
Bahwa otonomi daerah membantu perwujudan otonomi pendidikan, adalah sesuatu 
yang kita harapkan. Yang saya maksudkan dengan otonomi pendidikan adalah sebuah 
pengertian harafiah: otonomi sektor pendidikan dari kooptasi sektor lain. Di 
dalam era globalsiasi absolut dari dominasi sektor ekonomi.

Otonomi pendidikan adalah sebuah langkah pembebasan dunia pendidikan, agar 
cita-cita pendidikan sebagai pendidikan yang membebaskan dapat tercapai. Kita 
tetap memperhatikan faktor ekonomi dalam pemikiran arah pendidikan, tetapi 
pendidikan kita tidak pertama-tama bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar, 
melainkan menciptakan pasar. Dengan pendidikan kita juga hendak menghasilkan 
manusia-manusia yang sanggup menjadi pelaku ekonomi yang jeli menangkappeluang 
usaha. Tetapi itu bukan satu-satunya misi pendidikan. Hemat saya, otonomi 
daerah mesti dipahami untuk menunjang otonomi pendidikan dalam pengertian ini, 
agar di daerah otonomi yang lebih besar diberikan kepada sektor pendidikan 
untuk memikirkan tujuan dan menyusun langkah-langkah perwujudannya.

Persoalan lain yang dihadapi oleh generasi muda berkenaan dengan pendidikan 
adalah kenyataan pengaburan cita-cita pendidikan karena berbagai praktek yang 
mematikan motivasi belajar. Kematian motivasi ini terjadi secara perlahan dan 
di luar kontrol kesadaran, namun mempunyai akibat yang fatal. Kenyataan 
meningkatnya jumlah pengangguran para akademisi akan melontarkan pertanyaan 
besar kepada orang-orang muda tentang kegunaan pendidikan formal yang menuntut 
biaya tinggi. Demikian pula praktek KKN secara mendasar turut melemahkan 
keinginan belajar generasi muda.

Apabila banyak orang terdidik menggunakan statusnya untuk memperbodoh 
masyarakat, maka orang-orang muda yang masih memiliki idealisme akan bertanya 
secara serius, entahkah mereka perlu mengikuti pendidikan formal seperti ini? 
Juga, kalau kriteria untuk memperoleh pekerjaan di dalam masyarakat tidak 
ditentukan oleh kualifikasi pendidikan melainkan ikatan keluarga dan jumlah 
sogok, maka minat untuk belajar bagi generasi muda dari keluarga-keluarga 
sederhana tanpa koneksi akan diperlemah.

Memperhatikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh generasi muda di dalam era 
globalisasi dan secara khusus karena menghadapi berbagai tendensi dan kebiasaan 
di dalam masyarkaat kita, maka yang perlu menjadi opsi dasar untuk pendidikan 
bagi generasi muda.

Di dalam era globalisasi dan reformasi ini kita perlu menata dunia pendidikan 
secara mandiri agar pendidikan jangan menjadi lahan pemandekan pemikiran 
kritis. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang otonom, manusia yang sanggup 
berpikir sendiri dan memiliki hati nurani yang belum disewakan kepada pihak 
lain. Otonomi tidak sama dengan kesewenangan-wenangan atau sesuka hati. Otonomi 
berarti memberikan kepada diri sendiri sebuah hukum, nomos. Pribadi yang otonom 
menentukan sebuah arah untuk dirinya, mengikat diri pada arah itu dan 
mengarahkan diri untuk mencapai penentuan arah, kesanggupan mengikat diri, dan 
kecapakan mengkoordinasikan diri demi sesuatu.

Otonomi mensyaratkan suasana kebebasan. Orang mesti dibebaskan dari tekanan 
luar untuk dapat secara pribadi menentukan sendiri arah tindakan dan 
gagasannya. Hanya di dalam suasana kebebasan, tuntutan tanggung jawab atas diri 
mempunyai landasan pembenaran. Tetapi itu tidak berarti, bahwa pribadi yang 
otonom harus dijauhkan dari segala macam arus informasi yang menantang dan 
menawarkan berbagai kerangka pemikiran. Otonomi tidak berarti, bahwa setiap 
orang harus menciptakan sendiri sebuah kerangka kehidupan yang sama sekali 
baru. Selain ituhal ini merupakan sebuah kemustahilan, hal ini pun tidak 
dibutuhkan. Yang terpenting di dalam otonomi adalah bahwa orang menentukan 
sendiri sebuah kerangka pemikiran dan tindakan.

Pribadi yang otonom seperti ini tidak terperangkap dalam sikap budaya yang 
tradisional, yang mempertahankan atau menghidupkan sesuatu dari tradisi hanya 
karena itu adalah tradisi. Sebaliknya, dia akan sanggup menghadapkan tradisi 
itu pada nilai-nilai universal yang dihirupnya dari perjumpaan dengan berbagai 
gagasan baru. Dia akan mempertanyakan tendensi perjajahan dan pendominasian 
yang mungkin masih ada dan melekat di dalam tradisi budayanya. Dari pribadi 
yang demikian kita dapat mengharapkan sebuah transformasi kebudayaan. Pribadi 
seperti ini pun tidak akan menerima tanpa komentar segala yang datang dari 
luar. Dia akan mempertanyakan mereka yang termarginalisasi dalam tendensi 
penyeragaman di era globalisasi. Dari kesadaran akan mereka yang terdepak ini 
akan muncul sebuah penentuan kodeks yang diterima dan diiyakan secara pribadi, 
kepadanya tindakan dan pikiran diarahkan

Manusia yang memberikan hukum, nomos kepada diri sendiri adalah manusia yang 
belajar mengenal dan mengetahui apa yang dikehendakinya, apa yang menjadi 
kemampuannya. Dia adalah orang yang tahu menghargai dirinya. Untuk maksud itu, 
perlu dipikirkan secara serius pendekatan pendidikan yang meyakinkan anak muda 
akan nilai dirinya dan membantunya menemukan bakat dan kemampuannya.

Pengadaan jalur pendidikan keterampilan dan pendidikan khusus sangat dibutuhkan 
untuk itu. Manusia yang otonom adalah manusia yang menemukan kesanggupannya dan 
belajar menghargai kemampuan itu pada waktunya. Otonomi pribadi terungkap di 
dalam otonomi pemilihan jalur pendidikan. Termasuk di dalam tugas penanaman 
otonomi pribadi adalah peningkatan penghargaan terhadap berbagai jenis 
pekerjaan tangan. Kita masih terlalu memandang pekerjaan tangan dan kasar 
sebagai pekerjaan yang terpaksa dipilih karena tidak ada kemungkinan lain. 
Karena itu, orang-orang yang melakukan pekerjaan ini sering bekerja secara 
terpaksa tanpa minat untuk menambah keterampilannya. Selama orang menjadi 
tukang batu hanya karena tidak atau mendapat kesempatan untuk menjadi pegawai 
negeri, maka dia tidak akan meningkatkan keterampilannya bertukang batu. Ukuran 
SDM bukan hanya didasarkan pada tingkat kelulusan sekolah, melainkan juga pada 
tingkat keterampilan khusus yang diperoleh seseorang lewat pendidikannya. 
Memiliki keterampilan seperti ini akan memperkuat rasa percaya diri seseorang, 
dan pada gilirannya rasa percaya diri ini akan membantunya bertahan berhadapan 
dengan berbagai pengaruh lain.

* Penulis, staf pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke