http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006110501002015

      Minggu, 5 November 2006 
     
      BURAS
     
     
     
     
Domba Paling Depan! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:



      BU GURU menanya murid. "Di kebun ada selusin domba, yang enam ekor 
menerobos pagar. Berapa ekor sisa domba di kebun?"

      "Tak seekor pun!" jawab Adi, seorang murid.

      "Tak ada?" entak guru. "Adi kau tak becus berhitung!"

      "Ibu tak mengerti domba!" timpal Adi. "Kalau yang paling depan menerobos, 
semua ikut!"

      "Kau pikir domba seperti manusia, kalau melihat orang supaya urusannya 
cepat beres pakai uang pelicin, yang lain ikut-ikutan pakai uang pelicin! Sebab 
itu pungli dan korupsi sukar diberantas karena para pelaku tidak bertepuk 
sebelah tangan?" tukas guru.

      "Domba bukan jenis hewan peniru seperti manusia!" sambut Adi. "Mereka 
hanya suka berkerumun dan mengikuti gerombolannya!"

      "Suka berkerumun dan mengikuti tingkah gerombolannya itu juga kelaziman 
manusia ketika berada dalam kerumunan bernama massa!" timpal guru. "Kerjamu 
setiap pulang sekolah menggembala domba, ya?"

      "Tampak banyak persamaan domba dengan manusia!" tukas guru. "Mungkin itu 
sebabnya banyak pemimpin agung masa kecilnya selalu dilatih sebagai gembala 
domba!"

      "Kenapa buyutku, kakekku, dan ayahku yang masa kecilnya jadi gembala 
domba tak jadi pemimpin?" kejar Adi.

      "Mungkin zamannya telah berubah!" jawab guru. "Dulu zaman jahiliah! 
Jahiliah itu artinya bodoh! Sedang sekarang bukan lagi zamannya orang bodoh!"

      "Tapi ibu tadi mengatakan banyak persamaan domba dengan manusia, apakah 
itu bukan berarti sekarang juga masih dalam zaman kebodohan?" potong Edo, murid 
lainnya.

      "Resminya sekarang ini sudah zaman post-modern, sudah lewat dari zaman 
modern!" jelas guru. "Tapi aneh kalau ternyata tingkah laku orangnya masih 
lebih dekat dengan zaman jahiliah, perilaku yang mencerminkan kebodohan, malah 
ada yang mengeksploitasi kebodohan itu untuk keuntungan dirinya!"

      "Mengeksploitasi itu apa, Bu Guru?" sela Tina, siswi.

      "Mengeksploitasi itu memanfaatkan kebodohan orang dengan kekuasaan yang 
dimilikinya!" jelas guru. "Misalnya itu tadi, sebenarnya merupakan kewajiban 
pejabat melayani warga, tapi sengaja dibuat birokrasi yang berbelit-belit agar 
orang-orang bodoh yang tak mengetahui kewajiban itu memberi pelicin untuk 
dilayani lebih cepat!"

      "Tapi kalau atasan dari para pejabat itu tegas agar melayani warga dengan 
cepat tanpa pelicin, kalau kedapatan pakai pelicin ditindak tegas, tingkah 
mengeksploitasi warga yang bodoh itu kan bisa dihabisi!" tegas Adi.

      "Selama ini atasan para pejabat itu selalu bicara akan menindak tegas, 
tapi nyatanya tak begitu!" sambut guru.

      "Mereka malah keberatan pos-pos yang bisa menjadi tempat pungli dihapus!" 
tukas Adi. "Rupanya pos-pos itu tampak selayak ladang hijau di mata domba 
paling depan!" ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke