http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=159124


Menagih Janji-janji SBY-JK
Oleh FS Swantoro 



Jumat, 3 November 2006
Dalam kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004, ketika satu janji telah 
terucap, tak ada yang lebih baik kecuali menepatinya. Banyak harapan 
digantungkan ketika rakyat untuk pertama kali memilih pemimpinnya secara 
langsung. Dengan mantap pilihan dijatuhkan pada pasangan SBY-JK, karena 
janji-janji yang diucapkan menggugah simpati dan harapan rakyat. 

Masih terngiang di telinga kita, ketika SBY mengatakan akan memberi perhatian 
lebih banyak kepada pendidikan dan mendatangi kantong-kantong kemiskinan; 
seperti petani, buruh tani, nelayan, buruh, pedagang kecil, termasuk guru. 

Tidak hanya sarana pendidikan, tetapi juga kesempatan memperoleh pendidikan dan 
pelayanan kesehatan bagi warga miskin dan tidak mampu, akan diusahakan. Namun 
apa yang dulu dijanjikan, ternyata masih jauh dari harapan. Lantas, bagaimana 
menagih janji yang sudah dua tahun berlalu? 

Berbagai penilaian terhadap kepemimpinan SBY memberi kesan kalau SBY kurang 
memiliki ketegasan, peragu, banyak berwacana, dan tidak mampu membangun mimpi 
bersama. Semua orang tahu, masalah yang kita hadapi begitu berat dan kompleks, 
terutama menyangkut ketimpangan ekonomi, kemiskinan, kesehatan/gizi buruk, 
pengangguran, penyediaan lapangan kerja dan penyakit sosial seperti korupsi, 
pungli, narkoba, kriminal, premanisme, dan konflik berdarah di beberapa daerah. 

Dalam dua tahun pemerintahan SBY-JK, sejoli itu masih belum memberi harapan 
terutama dalam penanggulangan kemiskinan dan penegakan hukum. Aparat hukum 
dinilai lemah dan kondisi hukum karut-marut, tak perpihak pada rasa keadilan 
masyarakat. Dalam pemberantasan korupsi, masih terkesan tebang pilih dan belum 
memuaskan harapan masyarakat. Selain prosesnya berbelit-belit, tak ada koruptor 
kelas kakap yang dijebloskan ke penjara. 

Sementara pilar demokrasi, seperti partai politik, DPR-DPRD, dan birokrasi 
justru menjadi institusi terkorup di negeri ini. Masalah budaya juga kurang 
mendapat sentuhan memadai, hingga menimbulkan kegamangan masyarakat. Karena itu 
tak berlebihan jika mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafi'i Ma'arif, 
beberapa waktu lalu meminta agar "Presiden SBY lebih berkonsentrasi di dalam 
negeri daripada rajin berpergian keluar negeri." 

Kesulitan terbesar dalam mengevaluasi kinerja pemerintahan adalah menjaga 
objektivitas. Kemungkinan, biasnya masih besar, andai kita menjadi bagian dari 
pemerintah. Sebaliknya bisa salah melihat, manakala kita menilai dari tempat 
yang terlalu jauh, baik secara fisik atau emosi. 

Namun tidak berlebihan jika penilaian sementara pihak terhadap hasil yang 
dicapai pemerintahan SBY-JK selama ini kurang seperti yang dijanjikan dulu. 
Meski cara pandangnya cenderung melihat sisi keburukan belaka. 

Seperti halnya ketika Presiden SBY berpidato di depan Sidang Paripurna DPR, 16 
Agustus lalu, menyangkut menurunnya angka kemiskinan di Indonesia. Data yang 
dikutip Presiden dinilai menyesatkan kalau tak dapat dikatakan membohongi 
publik, hingga menuai kritik tajam dari ekonom Indonesia Bangkit. 

Meski, ada kalanya kedua kubu menggunakan data kuantitatif yang sama, tetapi 
kesimpulannya bisa beda, dan bertolak belakang. Lagi-lagi ini karena bias 
posisi pandang dari kedua kubu. Namun secara objektif berbagai persoalan bangsa 
memang belum dapat diselesaikan secara memuaskan bagi masyarakat miskin. Dan 
hal itu diakui sendiri oleh Presiden SBY. 

Akibat sikap peragu dan kurang memberi inspirasi bagi banyak pihak, kebijakan 
yang diambil SBY justru membuat posisi pemerintah menjadi lemah, hingga 
mengakibatkan target penurunan pengangguran dan orang miskin belum tercapai. 
Kepala Bappenas Paskah Suzetta juga menegaskan "target pengurangan kemiskinan 
tak mungkin tercapai bahkan cenderung naik, akibat kebijakan yang diambil tidak 
menukik ke akar masalah." 

Sektor pertanian termasuk peternakan, kelautan dan perkebunan belum 
diberdayakan secara optimal. Padahal potensi pertanian kita sungguh 
menakjubkan, jika dapat diberdayakan dengan baik. Seperti swasembada pangan 
yang pernah dicapai tahun 1984 dan produksi gabah 54 juta ton setahun atau 33 
juta ton setara beras adalah merupakan warisan masa lalu yang dirintis Presiden 
Soeharto. 

Akselerasi pembangunan pertanian tak kunjung menampakkan sosok nyata dan belum 
ada langkah konkret terhadap pembangunan kelautan. Padahal kita negara maritim, 
pembangunan kelautan seharusnya diprioritaskan. 

Dengan kenyataan di atas, apakah pemerintahan SBY-JK telah gagal menjawab 
tantangan bangsa? Dan tidak ada harapan bagi perbaikan tiga tahun ke depan? 
Masa dua tahun merupakan pembelajaran berharga. 

Target yang belum tercapai bisa dikompensasikan pada tiga tahun sisa 
pemerintahan SBY-Kalla hingga 2009. Syaratnya harus ada konsolidasi atas segala 
kelemahan yang muncul selama ini termasuk mengajak seluruh komponen masyarat 
berpartisipasi membangun Indonesia ke depan. 

Sebagai catatan penutup, dua hal berikut perlu diperhatikan. Pertama, kita 
tunggu perubahan kepemimpinan SBY lebih kuat dan kejelasan peran Wakil Presiden 
Jusuf Kalla agar tidak terjadi benturan kepemimpinan. 

Kalau pembangunan ekonomi dan politik dinilai belum membuahkan hasil yang 
signifikan, perlu dibarengi pendekatan budaya. Dalam hal ini strategi 
kebudayaan perlu dijadikan landasan bagi pembangunan nasional ke depan, selain 
ekonomi dan politik. 

Kedua, rakyat berharap agar pertumbuhan ekonomi bisa meningkat secara riil, 
stabilitas politik dan keamanan kondusif, penegakan hukum memenuhi rasa 
keadilan masyarakat, hingga kemakmuran ekonomi menetes ke bawah secara merata, 
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 

Untuk meraih semua itu, kini saatnya kita berhenti menghabiskan energi saling 
menyalahkan, menghujat dan mencari kambing hitam. Sudah waktunya penyelenggara 
negara mencari solusi sebagai sumbangsih yang bisa diberikan kepada negara. 
Kita wajib bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah disumbangkan bagi 
terwujudnya mimpi bersama membangun bangsa, demi kemakmuran dan keadilan 
rakyat? 

Penulis adalah Ketua Departemen Politik, Soegeng Sarjadi Syndicate Jakarta 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke