http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/1210/bud2.html


Adakah Hubungan Sastra dan Korupsi?
Oleh
Ngatini Rasdi


MARAKNYA kasus korupsi (juga dekadensi moral lainnya) di Indonesia, agaknya 
bisa dikaitkan dengan rendahnya apresiasi sastra (juga karya seni lainnya) di 
negeri ini. Jika benar ada hubungan antara sastra dengan korupsi, masalah 
apresiasi sastralah yang layak dianggap sebagai penghubungnya.
Marilah kira mencoba membandingkan tingkat apresiasi sastra di negara ini 
dengan di negara-negara lain. Misalnya saja, betapa siswa sekolah menengah di 
Malaysia, Filipina dan Thailand telah akrab dengan novel-novel karya Pramoedya 
Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan besar dunia lainnya, sedangkan 
rekan-rekannya di Indonesia hanya sedikit yang mengenal sosok Pramoedya Ananta 
Toer.

Anak-anak sekolah menengah pertama di sejumlah negara maju sudah rajin berlatih 
drama berjudul Hamlet, Romeo and Juliet, Macbeth, Othello, King Lear dan Julius 
Caesar karya William Shakespeare misalnya, sementara mahasiswa-mahasiswa di 
Indonesia baru mengetahui bahwa William Shakespeare (1564-1616) adalah pujangga 
Inggris yang sudah terkenal selama lima abad.

Kurikulum

Jika rendahnya tingkat apresiasi sastra di Indonesia memang dapat dikaitkan 
dengan maraknya kasus korupsi dan dekadensi moral lainnya (seperti penebangan 
liar yang menghancurkan ekosistem lingkungan), kita harus berani menuduh dengan 
tegas bahwa kurikulum pendidikan yang menjadi biangnya.

Sebab, semua generasi bangsa tidak akan memiliki apresiasi yang tinggi terhadap 
sastra jika sejak kecil tidak memperoleh pendidikan yang baik. Dalam hal ini, 
guru-guru sebagai pendidik di sekolah tidak bisa dijadikan kambing hitam, 
karena faktanya, kurikulum pendidikan yang menjadi pedoman mengajar anak didik 
sangat kurang memberi peluang untuk menyemai apresiasi sastra anak.

Sungguh menyedihkan, jika kita memperhatikan soal-soal ujian di sekolah-sekolah 
menengah di negeri ini yang berkaitan dengan sastra, Masalah-masalah remeh 
seperti misalnya di mana penyair Chairil Anwar dilahirkan dan apa salah satu 
judul novel karya Marah Rusli selalu dijadikan soal ujian.

Belum pernah kita menemukan bahan ujian yang mengharuskan murid di 
sekolah-sekolah kita menghafal satu bait puisi karya Chairil Anwar atau 
mengharuskan murid membuat komentar pendek tentang novel karya sastrawan 
Indonesia, misalnya. Dalam jeratan kurikulum pendidikan yang cenderung 
memperbodoh anak didik di sekolah, khususnya yang berkaitan dengan apresiasi 
sastra, bangsa kita benar-benar menjadi bangsa yang miskin spiritualitas, 
sehingga mudah melakukan hal-hal nista tanpa rasa bersalah atau malu.

Tanpa bermaksud membesar-besarkan pentingnya sastra bagi kehidupan manusia, 
jika sejak kecil anak-anak kurang mendapatkan pendidikan tentang apresiasi 
sastra, sangat sulit mengharapkan mereka tumbuh dan berkembang menjadi 
manusia-manusia yang memiliki kekayaan spiritualitas yang dapat membuatnya 
hidup terhormat. Sebab, di dalam karya sastra terkandung banyak nilai-nilai 
spiritualitas yang dapat mempengaruhi perilaku kehidupan bangsa, setelah ajaran 
agama.
Bagaimana kehidupan berjalan dengan baik, baik hubungan antarmanusia, hubungan 
manusia dengan alam, maupun hubungan antarbangsa harus dibentuk, sering berawal 
dari gagasan-gagasan sastrawan yang tertuang dalam karya sastra mereka.

Sastra juga banyak memberikan informasi tentang masa lalu yang berkaitan dengan 
sejarah suatu bangsa yang bisa menjadi spirit hidup dan yang bisa dikembangkan 
oleh generasi-generasi selanjutnya di abad-abad berikutnya, dan semua itu hanya 
bisa dimengerti jika dibaca dengan seksama.
Oleh karenanya, pendidikan sastra di sekolah-sekolah kita harus ditingkatkan 
dan difokuskan ke arah upaya meningkatkan apresiasi sastra, sehingga anak-anak 
sejak kecil terdorong untuk bersemangat mengenal karya-karya sastra dengan 
serius.

Terlalu bebal, jika kurikulum pendidikan dibiarkan cenderung meremehkan upaya 
meningkatkan apresiasi sastra, dengan terus menerus meminimalkan kuota 
pelajaran sastra di sekolah-sekolah kita, hanya karena menganggap sastra tidak 
penting bagi pembangunan bangsa.

Sebab, sudah terbukti sejak dulu, bangsa-bangsa yang kini telah maju memiliki 
kurikulum pendidikan yang cenderung memposisikan upaya meningkatkan apresiasi 
sastra sebagai "primadona" di sekolah-sekolah.

Misalnya, siswa sekolah di negara-negara maju bisa membanggakan orang tua dan 
guru-gurunya jika mampu memerankan tokoh utama dalam pentas drama klasik pada 
acara perpisahan di sekolahnya.
Dan mungkin karena itulah, di negara-negara maju tidak banyak siswa sekolah 
yang berperilaku barbarian seperti mencorat-coret baju seragamnya setelah 
dinyatakan lulus. Atau, tidak ada kasus tawuran antarpelajar di negara-negara 
maju, karena hampir semua siswa di sekolah sudah memiliki etika dan budi 
pekerti yang diserapnya dari karya-karya sastra yang dibacanya.


Layak Ditingkatkan
Ketika agama dan berbagai perangkat hukum sudah layak dianggap gagal mengatur 
kehidupan bangsa, dengan bukti semakin maraknya kasus korupsi dan kejahatan 
lain yang berdampak buruk dan luas pada masa depan umat manusia di negeri ini, 
apresiasi sastra sudah selayaknya ditingkatkan.

Tanpa bermaksud meremehkan agama dan perangkat hukum, kenyataannya berbagai 
kasus buruk yang berkaitan dengan ambruknya moral dilakukan oleh semua orang 
yang mengaku beragama dan bahkan tampak rajin beribadah.

Dalam hal ini, agama dan perangkat hukum harus dianggap tidak cukup mampu 
mengatur kehidupan bangsa, dan karenanya harus didukung spiritualitas sastra 
sebagai produk peradaban dan kebudayaan yang bersifat universal.

Setiap karya sastra, dapat dipastikan mengandung nilai-nlai spiritualitas 
tentang kehidupan yang bisa dijadikan modal dasar membangun karakter bangsa.
Bahkan, karya-karya sastra yang dikategorikan "berbahaya" seperti novel-novel 
berdimensi erotisme tetap mengandung nilai-nilai moral yang layak dikaji dengan 
sikap apresiatif.

Jika seseorang membaca karya sastra yang memuat deskripsi tentang adanya 
penyimpangan seksual misalnya, justru is tidak akan memiliki perilaku seksual 
yang menyimpang. Ini karena di balik deskripsi tersebut secara implisit 
terdapat rambu-rambu yang menjelaskan dua arah yang saling berlawanan. 

Dalam hal ini, karya sastra seburuk apa pun bisa "mendidik" pembacanya untuk 
bersikap kritis dalam memilih dan memihak nilai-nilai moral yang ditawarkannya.

Dan untuk lebih amannya, jika memang ada niat baik untuk meningkatkan 
apreasiasi sastra di sekolah-sekolah kita, pihak otoritas sekolah dapat memilih 
karya-karya sastra klasik yang banyak memuat nilai-nilai tentang ajaran moral 
dan spiritualitas hidup untuk menjadi kajian siswa-siswanya. 
Dalam hal ini, harus selalu ada pekerjaan rumah berupa tugas membaca 
karya-karya sastra sebanyak-banyaknya bagi siswa untuk kemudian 
direpresentasikan di depan kelas.

Demikianlah, jika kini korupsi dianggap sebagai penyebab robohnya banyak gedung 
sekolah, rusaknya jembatan dan jalan-jalan yang baru dibangun serta hancurnya 
lingkungan hidup di negeri ini, mungkin ini bisa dikaitkan dengan minimnya 
pendidikan sastra. Jadi, sudah selayaknya pendidikan (apresiasi) sastra segera 
ditingkatkan sebelum negeri ini ambruk oleh merajalelanya korupsi.

Penulis mengaku dirinya penikmat sastra

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke