http://www.indomedia.com/poskup/2006/11/07/edisi07/opini.htm


Sayembara Menulis Ledalero

(Sebuah catatan pinggir)

Oleh Juan Orong *

SEKITAR empat puluhan cerpen kategori SMU dan (hanya) belasan cerpen kategori 
PT (perguruan tinggi) yang diterima pihak penyelenggara Festival Ledalero. 
Sedikit di antaranya dipilih sebagai "terbaik' untuk dikompilasikan menjadi 
sebuah buku sayembara menulis Ledalero 2005/2006. Beberapa puisi yang 
dipikirkan cukup representatif juga ditentukan dan ditetapkan mewakili banyak 
karya lain untuk diterbitkan. Bagi yang karyanya dimuat dalam buku tersebut 
barangkali hal itu merupakan apresiasi paling bergengsi daripada sekadar 
mendapatkan trofi dan penghargaan material. Kendatipun untuknya bagi sedikit 
banyak orang mungkin menjadi motivasi awal mengikuti sayembara tersebut. Di 
atas semuanya kompetisi ilmiah sesungguhnya menjadi taruhan yang sangat intens 
diupayakan. Karakter kompetitif karya tulis yang bertandang dan bersaing dalam 
sayembara tersebut memang sangat terungkap. Tema yang ditawarkan pihak 
penyelenggara adalah "Pemuda, Budaya dan Komunikasi". Hampir semua peserta 
sudah berjuang mengomongi tema itu. Tentu dengan pelbagai macam pengembangan, 
penyempitan, dan "pengurungan" yang kreatif. Kreativitas menjadi semacam 
conditio sine qua non sebuah sayembara.

Menulis dan iming-iming

Ketika rencana sayembara menulis digelar sesungguhnya sebuah proyek intelektual 
dimanifestasikan. Ada semacam sebuah investasi akademik yang dibuat untuk 
mendongkrak semangat menulis bagi para pelajar dan mahasiswa NTT. Hal ini tentu 
sebuah "bayangan" yang tidak mustahil. Alih-alih mendapatkan "hadiah menarik" 
sayembara menulis adalah ajang mengaktualisasikan kemampuan menulis. Akan 
tetapi secara signifikan, "iming-iming" hadiah ternyata tak cukup "mempan" 
mewujudkan impian itu. Sebab tidak banyak sekolah menengah dan perguruan tinggi 
yang mengikuti kegiatan tersebut. Festival dibuat dengan tujuan lebih luas agar 
minat menulis (dan membaca) pada pelajar (dan mahasiswa) se-NTT bisa 
dimungkinkan bertumbuh.

Ternyata hal itu tidak cukup "menggema" bagi seluruh wilayah NTT. Tercatat di 
seluruh NTT hanya beberapa sekolah menengah dari dua kabupaten di Flores (Ngada 
dan Sikka) dan Kabupaten Lembata yang memberikan "respons' terhadap kegiatan 
tersebut. Kabupaten Ngada "diwakili" Seminari Todabelu-Mataloko (peserta 
terbanyak), SMU Regina Pacis, dan SMU Negeri Aimere. Kabupaten Sikka "diwakili" 
SMU Negeri 1, SMU Bhaktyarsa, SMEA Sint. Gabriel, dan SMEA Yohanes Paulus. Juga 
beberapa sekolah menengah dari KabupatenLembata. Data yang dikemukakan di atas 
memang belum cukup kuat untuk menakar "respons" sekolah-sekolah di NTT dan 
(sangat) tidak representatif terhadap penilaian akademik mengenai minat menulis 
pelajar NTT. Kendatipun demikian, apa yang dikemukakan itu tetap menjadi cermin 
yang memantulkan pertanyaan reflektif-kritis buat kita. Apa jadinya dunia tulis 
menulis tanpa sayembara?

Sebenarnya tak ada keinginan untuk menarik hubungan yang sedemikian tendensius 
antara keterlibatan peserta dengan iming-iming, semacam sayembara. Antara bakat 
dan kemauan menulis dengan daya tarik yang menjadikan aktivitas menulis menjadi 
sesuatu yang mungkin bukanlah hal ikhwal yang dipertaruhkan secara mutlak. 
Namun setidaknya bicara soal minat dan kemampuan menulis pada pelajar dan 
mahasiswa menarik untuk dikaji sebagai sesuatu yang punya kaitan erat dengan 
perlunya menciptakan "iming-iming".

Apabila karya tulis yang dikirim ke pihak penyelenggara sayembara Ledalero 
sedikit dibuat pemetaan dan klasifikasi mengenai siapa penulisnya, dari sekolah 
mana penulis berasal, dan apakah penulis bersangkutan sudah punya "nama" pada 
koran-koran lokal atau sekurang-kurangnya pada buletin dan publikasi-publikasi 
sederhana milik sekolahnya, maka hanya sedikit yang masuk kategori. Kesulitan 
barangkali bagaimana seharusnya dan apa urgennya melakukan kategorisasi macam 
itu. Ketika hal tetek bengek semacam itu bukanlah sesuatu yang hendak dicapai 
dalam pargelaran sayembara menulis tersebut, keterkaitan antara animo menulis 
dengan iming-iming yang dibuat penting untuk dikaji. Setidaknya ada banyak 
karya tulis yang memang baru "nongol" dengan kategori penulis yang juga 
"pemula" telah menempatkan kegiatan sayembara pada posisi yang memungkinkan 
terwujudnya hal tersebut. Apabila pengandaian seperti ini merujuk pada adanya 
sayembara sebagai momen pengaktualisasian bakat menulis dan karena itu dilihat 
sebagai "iming-iming" lahirnya seorang penulis, maka betapa miskinnya karya 
tulis berikut penulis yang bakal terlahir setiap tahunnya. Sebab kegiatan 
sayembara bukan sesuatu yang rutin. Yang dapat kita harapkan adalah spontanitas 
yang kreatif dari pelajar NTT atau minimal dari peserta sayembara menulis 
Ledalero 2005/2006 tetap dioptimalkan. Iming-iming hanyalah api penyulut untuk 
sesuatu yang pada hakikatnya mesti dilahirkan secara spontan dari kedalaman 
jiwa yang senantiasa berkelana.

"Tapak-Tapak Tak Bermakna"

Terus terang apa yang dikemukakan di sini sesungguhnya hanyalah sedikit 
"rangkuman" sederhana mengenai apa yang dikemukakan secara sangat "hebat" oleh 
Bapak Dr. Ignas Kleden dan Ibu Maria Mathildis Banda, dua narasumber bedah buku 
"Tapak-Tapak Tak Bermakna" di Ledalero, 29 Oktober 2006. Buku "Tapak-Tapak Tak 
Bermakna" merupakan kumpulan cerpen dan puisi hasil lombaFestival Ledalero 
2005-2006 yang diterbitkan oleh Penerbit Ledalero sebagai kompilasi para 
pemenang. Judul buku itu diambil dari judul cerpen pemenang pertama sayembara 
menulis Ledalero 2005/2006, yang ditulis oleh Yohanes F Maget dari SMU Seminari 
Todabelu-Mataloko. Buku "kompilasi" itu barangkali tidak terlalu spektakuler. 
Secara kualitatif barangkali ia bukanlah apa-apa. Namun apresiasi yang 
diberikan atasnya adalah ikhtiar untuk menumbuhkan ide-ide brilian. Betapa 
tidak, tapak-tapak tak bermakna menjadi sebuah pemaknaan terhadap kreativitas 
yang "luar biasa" dilahirkan oleh seorang siswa sekolah menengah (pujian kedua 
narasumber). Bahkan menurut Bapak Dr. Ignas Kleden, dari segi distribusi 
penulis, penulis SMU lebih bervariasi, berikut penjelajahan tema cerpen dan 
puisi SMU jauh lebih imajinatif daripada yang dihasilkan oleh mahasiswa. Dua 
narasumber menilai cerpen "tapak-tapak tak bermakna" sebagai "pengembaraan" 
imajinasi yang luar biasa dilakukan oleh seorang siswa SMU. Seorang anak SMU 
omong tentang kematian. Tentang hubungan antara badan dan jiwa. Sesuatu yang 
tidak mudah, karena selain eksistensial, tapi juga eskatologis. Seorang Yohanes 
Maget yang adalah anak SMU sanggup menjelaskan relasi kesatuan badan dan jiwa. 
Ketika tubuh pada akhirnya mengalami kematian, pertanyaan penting yang diajukan 
kepadanya oleh jiwa adalah, "Apakah buktinya kita jalan bersama-sama?" Sang 
tubuh menjawab, "coba tengok ke belakang, lihat tapak-tapakku". Jiwa tidak 
meninggalkan tapak, tapi badan yang meninggalkan tapak. Namun karena apa yang 
diperbuat tubuh selama hidupnya adalah sesuatu yang membuat jiwa kemudian 
menjadi menderita, maka tapak-tapak itu menjadi "tak bermakna".

Maget dipuji karena berhasil menjadikan cerpennya sebagai "ceritera yang 
berceritera". Dan bukan "penceritera yang berceritera". Cerpen yang baik 
menurut Dr. Ignas Kleden adalah ceritera yang berkisah tentang sesuatu dan 
bukan penceritera yang berceritera. Sebuah cerpen adalah apa yang pada awalnya 
mengandung pertanyaan untuk pada akhirnya coba dijawab atau secara gamblang 
atau secara samar-samar. Eksplisitasi message yang langsung pada awal ceritera 
bukanlah karakter sebuah ceritera rekaan. Dengan alur yang coba diciptakan 
untuk membuat pembaca penasaran, penulis berusaha menggiring pembaca pada 
pengembaraan pencarian yang mengejutkan. Setidaknya tapak-tapak tak bermakna 
mengandung di dalamnya seluruh tuntutan itu.

Masing-masing karya tulis di dalam buku itu mempunyai spesifikasi "kejutan" dan 
semuanya mengandung insigh yang memberi simbol bagi kehidupan yang riil. Para 
penulis sungguh menyadari bahwa di satu pihak, suatu karya sastra adalah 
lambang kenyataan sosial, dan di sisi lain, melalui karya sastra yang 
diciptakan, penulis juga bisa menciptakan kenyataan imajinernya sendiri. 
Sebagai lambang kenyataan sosial, ia memang tidak harus mengandung kenyataan 
sebenarnya sebagaimana seseorang sedang melihat foto kopi dari kenyataan 
tersebut. Namun,ke dalam pengertian lambang masih perlu diperhitungkan kadar 
kebenarannya.

Hampir semua penulis cukup berhasil mencari dan menemukan gagasan yang otentik 
mengenai karakteristik masyarakat lokal NTT atau daerah asalnya. Memang upaya 
pencarian dan penemuan gagasan yang terkandung dan kemudian melahirkan 
identitas sastra NTT terletak pada sejauhmana penulis fiksi mengasalkan 
insigh-nya pada latar kedaerahan NTT dan kemudian menggumuli realitas 
kemasyarakatan yang sederhana namun riil pada locus NTT yang rentan dengan 
problem sosial "berbaju" adat. Cerpen "Knawo", karya Gusty Masan Raya 
(mahasiswa STFK Ledalero) dan "Rumah Itu", karya Patrisius Kia (mahasiswa STFK 
Ledalero), misalnya merupakan dua karya yang sangat kuat mendefinisikan 
pencarian dan penemuan identitas seperti itu. Membicarakan realitas obyektif 
(realitas sebenarnya) yang terjadi sehari-hari secara fiktif dalam realitas 
karya sastra adalah upaya pencarian dan penemuan hakikat kehidupan yang sering 
kali terlupakan dan karena itu terlewatkan tanpa makna. Memang ada 
kecenderungan manipulatif dari upaya semacam itu. Tapi bagaimana pun sastra 
sangat dekat dan bahkan mendefinisikan dirinya sebagai entitas "rekaan". Dan 
karena itu pula sastra adalah sebuah dunia "lain", yang dari seberang dunianya 
yang lain itu sesuatu yang membeku dalam waktu keseharian dunia nyata, yang 
sekian sering merupakan "banalitas" karena tercerabut dari realitasnya yang 
hakiki, diberi makna. Pemberian makna itu mengandung unsur pencerahan atas 
nilai-nilai.

Pengangkatan realitas sosial lokal ke dalam karya sastra mengandung di dalamnya 
ikhtiar pembebasan. Sebuah karya sastra dibuat untuk sekurang-kurangnya 
mengantar pembaca pada pengretakan pengetahuan (epistemological break) atas 
dunia sosialnya. Dari sana, sastra akan mempengaruhi kehidupan pembaca, bukan 
saja secara kognitif, yaitu menunjuk kepada apa yang "ada", tapi terutama 
secara normatif, dengan menunjuk kepada apa yang "seharusnya ada". Sastra lalu 
menjadi antagonistik dan menjadi penyeimbang atas kehidupan. Sebagai 
penyeimbang, sastra acapkali hadir mewakili suara yang hilang, yang bungkam dan 
dibungkamkan. Kehadiran atas nama yang hilang, yang bungkam dan yang 
dibungkamkan identik dengan menjadi suara yang kritis, nyaring, keras, 
blak-blakan dan menggigit. Cerpen "Aku dan Danni", karya Yakobus B. Perpetua 
(siswa Seminari Todabelu) mengandung upaya pengatasnamaan orang-orang lemah 
yang didiskriminasi secara etnis. Perlakuan diskriminatif terhadap seorang 
siswa Tionghoa oleh teman-teman di sekolahnya layak diangkat ke permukaan. 
Cerpen "Aku dan Danni" adalah "perlawanan" seorang anak manusia terhadap 
perlakuan yang tidak adil oleh sesamanya.

Tak sedikit penulis yang menempatkan persoalan sosial sebagai pengandaian yang 
meniscayakan munculnya karya sastra. Karya sastra menjadi akibat dari pengaruh 
sebab-musabab sebuah persoalan sosial. Karya sastra adalah narasi reflektif 
dari pergumulan langsung penulis dengan dunia kesehariannya. Karya sastra 
adalahrefleksi yang memantulkan kepada masyarakat salinan sebuah realitas 
sosial yang secara evokatif merangsang timbulnya perasaan dan imaji tertentu 
dari pembaca. Orang lalu diantar pada pergumulan eksistensial tentang persoalan 
tanah yang sangat rawan di wilayah NTT, misalnya. Cerpen "Kado dari Etalase 
Metropolitan", karya Klaudius Brian Witak (siswa Seminari Todabelu-Mataloko) 
mengungkapkan kenyataan ini. Di sinilah identitas lokal sebuah karya sastra 
menemukan batasannya; baik secara kontekstual, yaitu dengan mengangkat 
persoalan dalam konteks sosial tertentu; tetapi juga secara inspiratif 
mempengaruhi pengalaman hidup pembaca. Identitas sastra lokal dalam pengertian 
ini setidaknya mengandung reproduksi suatu realitas sosial yang senantiasa 
terpatri dalam ingatan kolektif pembaca, dan pada saat yang sama secara 
imperatif mengandung pula gugatan sosial terhadap sesuatu yang "bengkok" dan 
"babak-belur".

Fungsi imperatif sebuah karya sastra lokal adalah gugatan terhadap 
persoalan-persoalan sosial yang lokal pula. Identitas sastra lokal merupakan 
penguraian unsur lokal. Yakni dalam keseluruhan usaha mereproduksi suatu 
realitas sosial lokal dalam konteks masyarakat dan kebudayaan setempat, 
sekaligus mempengaruhi pembaca secara imperatif. Apa yang dihasilkan dari upaya 
semacam itu adalah sebuah karya sastra yang mengandung identitas masyarakat dan 
kebudayaannya. Dalam hal ini, sastra berkaitan dengan fungsi-fungsi lain dalam 
masyarakat dan kebudayaan, seperti fungsi ekonomi, sosial, budaya, politik dan 
agama. "Tumbal", karya Aloysius Luis Kung (siswa Seminari Hokeng) dan "Aku, 
Mereka dan Reruntuhan", karya Et Babanong (siswa Seminari Todabelu) dua cerpen 
yang setidaknya menjadi contoh bagaimana imajinasi seorang penulis kemudian 
melahirkan deskripsi menyangkut persoalan sosial berbias agama. Problem sosial 
di NTT yang "berbaju" adat sekian sering merupakan bentuk yang "runyam" dari 
kompleksitas kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik dan agama masyarakat. 
Sastra mengidentifikasikan persoalan-persoalan itu dalam narasi dan puisi yang 
menggugat komponen penyebab. Ada simbolisasi yang tercerahkan dari 
pengidentifikasian itu. Cerpen atau puisi yang terlahir dari pergumulan dengan 
realitas sosial merupakan simbol ekspresi perwujudan diri sang penulis, yang 
bisa disampaikan dengan cara menyatakan sesuatu secara gamblang atau dengan 
menyembunyikannya. Ekspresi perwujudan diri penulis di hadapan realitas sosial 
bisa menjadi simbol perlawanan dan pemberontakan terhadap perlakuan 
diskriminasi agama misalnya. Atau ia bisa menjadi simbol resistensi sosial 
terhadap adat perkawinan yang terlalu membelenggu anak muda NTT. "Perbedaan 
yang Satu", karya Marselina Sherly Maran (siswi SMU Bhaktyarsa, Maumere) adalah 
cerpen yang mengandung celotehan serius mengenai cinta muda-mudi yang 
terbelenggu.

Bahasa daerah yang kalah gaul

Membaca karya tulis yang dimuat dalam "Tapak-Tapak Tak Bermakna" menghadapkan 
saya pada penemuan yang kaya akan farian ide-ide subyektif yang tercurah dari 
batok kepala penulis-penulis muda NTT. Banyak penulis yang sudah berusaha 
menukik ke kedalaman hidup orang NTT, tapi masih "kedodoran" dalam ekspresi, 
terutama akibat ketidaksetiaan pada dialek lokal. "Knawo" dan "Nuhan Awelolon", 
cerpen karya Gusty Masan Raya barangkali dua dari sedikit contoh penulis yang 
(masih) sangat setia dengan bahasa daerahnya. Orang ini tidak termasuk di 
antara mereka yang ramai-ramai menggunakan bahasa lain. Ketika pengarang 
menonjolkan nuansa "kedaerahan" dalam cerpennya, selain bahasa ibunya 
ditonjolkan, sesungguhnya ia menjadi wakil untuk warga dusun dan orang-orang 
yang bahasanya mulai tergusur. Karena bagaimana pun di dusun terdapat begitu 
banyak peristiwa bersejarah yang rentan terhadap bahaya "penggusuran". Orang 
dusun tak punya akses untuk mengapresiasi dan menghidupkan apa yang "terpendam" 
sebagai kekayaan. "Knawo" dan "Nuhan Awelolon" adalah dua cerpen yang memberi 
ruang bagi kehidupan dusun dengan bahasa dusun yang sangat kuat. Sang penulis 
menganggap dusun kelahirannya sebagai salah satu sumber ilham kreativitasnya.

Kendati demikian, bagi segelintir orang daerah asal-muasalnya merupakan masa 
silam yang harus dilupakan dan dibuang. Lembaran hidup baru menolak lembaran 
hidup lama. Karena itu misalnya sang penulis menggunakan bahasa baru. Penulis 
mulai mencari identitas baru dengan menciptakan idiom-idiom baru yang diambil 
dari bahasa asing. Bahasa ibunya tidak "gaul" untuk mengungkapkan sesuatu. 
Banyak karya tulis yang dipoles dengan kata-kata Jawa, misalnya. Seolah yang 
"gaul" adalah yang berbau "ndak-ndak".

Memang menghidupkan yang lokal adalah panggilan kepenyairan yang tentu tidak 
mudah. Setiap penulis mempunyai kekhasan dalam mengekspresikan karya tulisnya. 
"Tapak-tapak Tak Bermakna" sedikit banyak melahirkan ceritera yang variatif 
mengenai tuntutan tersebut. Identitas sastra yang ditumbuhkembangkan dalam 
"Tapak-tapak Tak Bermakna" setidaknya akan membangkitkan dalam diri pembaca 
atau penikmat sastra semangat lokalitas, yang secara positif dibaca sebagai 
penemuan kembali jati diri dari bahaya ketercerabutan budaya dan disorientasi 
budaya lokal. Gugatan sosial yang dimunculkan dari upaya pencarian dan penemuan 
gagasan yang bernuansa lokal bukan sekadar sebuah reproduksi suatu realitas 
sosial yang lokalistis. Gugatan sosial yang dibangkitkan dari upaya semacam itu 
mengandung respons dan reaksi atas persoalan sosial, dan secara simbolis 
mengandung pula upaya "perlawanan" menuju pencerahan. Penulis sastra NTT 
diidentifikasikan dalam entitas kepenyairan NTT yang secara sosiologis berakar 
pada dunia yang "berat" untuk bersikap "antagonistik" dan "memberontak". 
Sastrawan NTT harus bisa memandang dirinya sebagai ahli waris kebudayaan 
daerahnya yang memberikan perhatian pada kehidupan sosial NTTyang "berat". 
Dengan ini, setidaknya, penulis sastra dan pembaca (penikmat) sastra dihadapkan 
pada upaya "kole beo" atau "bale nagi" ("kembali ke kampung halaman") daripada 
hanya terpesona dan terpukau pada susuatu yang fantastik ala Jawa, Melayu, 
Sunda, atau Bali.

* Penulis, penikmat sastra, tinggal di

Wisma Rafael Seminari Tinggi Ledalero


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke