http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/07/0101.htm

Terutama di Kawasan Puncak dan Jabar Selatan

Longsor Mengancam Jabar Longsor Mengancam Jabar 
BANDUNG, (PR).-
Pada bulan kedua musim hujan, Jawa Barat akan banyak mengalami bencana tanah 
longsor. Beberapa daerah langganan longsor berada di Jawa Barat bagian selatan 
dan kawasan Puncak. Kedua daerah ini merupakan area yang paling rentan. Hujan 
pertama diperkirakan mulai membasahi Jawa Barat akhir November, atau awal 
Desember.

"Beberapa warga di sekitar daerah rawan longsor dan kawasan Puncak diharapkan 
waspada. Apalagi, tahun ini diperkirakan akan terjadi akumulasi hujan 
besar-besaran sebagai imbas dari musim kemarau panjang. Longsor diperkirakan 
mulai terjadi akhir Januari atau awal Februari," ujar Kepala Bidang Evaluasi 
Potensi Bencana PVG, Syamsul Rizal Wittiri, Senin (6/11).

Daerah yang berpotensi besar mengalami longsor adalah Sukabumi selatan, Garut 
selatan, Jalan Cagak Subang, Pegunungan Banjarnegara, Ciamis, Cianjur, 
Padalarang, Dago Pakar, dan kawasan Puncak. Menurut Syamsul, Sukabumi selatan 
dan kawasan Puncak, termasuk daerah Megamendung, Ciloto, dan Cugenang merupakan 
daerah dengan risiko tertinggi.

"Tingginya risiko tanah longsor ini tidak terlepas dari maraknya perubahan tata 
lahan ekstrem. Misalnya, penggalian pasir secara besar-besaran di lereng Gunung 
Guntur Cipanas Garut. Penggalian pasir juga mengakibatkan semakin luasnya lahan 
kritis di daerah tersebut," tuturnya.

Menurut Syamsul, lahan kritis dan kering sangat berisiko mengalami longsor. 
Pasalnya, lahan dengan karakteristik seperti itu tidak bisa optimal menyerap 
air tanah. Akibatnya, ketika terjadi curah hujan yang ektrem hingga mencapai 60 
mm/hari, tanah akan mengalami kejenuhan dan longsor pun tidak terhindarkan.

"Yang sangat berbahaya saat terjadi longsor adalah di wilayah permukiman. 
Bahkan, di beberapa tempat, longsor diperkirakan akan menimpa jalan raya. 
Selain sangat berbahaya, juga mengganggu arus lalu lintas. Terlebih lagi yang 
berpotensi mengalami longsor umumnya jalan yang memilik lalu lintas padat, 
seperti di jalur Puncak," katanya.

Penakar hujan

Untuk menghindari risiko tanah longsor, masyarakat di daerah rawan longsor, 
diminta ekstra waspada. Stasiun penakar hujan yang tersebar di 
kecamatan-kecamatan diharapkan bisa menjadi pemegang kunci awal untuk 
menghindarkan terjadinya longsor.

"Stasiun-stasiun tersebut diharapkan bisa memberikan data awal tentang potensi 
curah hujan. Ketika diketahui terjadi gejala curah hujan di atas normal, 
diharapkan petugas stasiun segera melaporkannya kepada pejabat untuk diteruskan 
ke sini," ujar Kepala Sub-bidang Pengamatan Gerakan Tanah, Gatot M. Sudrajat.

Gatot juga meminta masyarakat lebih sigap jika menemukan adanya retakan tanah. 
Pasalnya, retakan tanah merupakan indikasi awal kemungkinan terjadinya tanah 
longsor. Potensinya akan semakin besar, seiring dengan semakin tingginya curah 
hujan yang mengguyur kawasan tersebut.

"Kalau menemukan retakan tanah, masyarakat segera melaporkan kepada pejabat. 
Jika tidak, retakan tanah itu akan berakibat fatal bagi masyarakat. Kesigapan 
masyarakat dalam menyikapi hal itu akan sangat membantu untuk mengurangi risiko 
terjadinya korban akibat tanah longsor," kata dia.

Syamsul mencontohkan, kasus tanah longsor di Kecamatan Cicurug, Sukabumi 15 
Oktober 2006. Menurut dia, seharusnya bencana tersebut sudah bisa diantisipasi 
sejak Mei. Pasalnya, sejak itu di Kecamatan Cicurug sudah muncul retakan tanah.

"Akan tetapi, karena tidak ada laporan, bencana pun tidak bisa dihindarkan. 
Longsor terjadi pukul 22.00 WIB, saat turunnya hujan pertama. Tiga rumah rusak 
berat dan empat lainnya rusak ringan," katanya.

Syamsul berharap, masyarakat tidak panik. Informasi tentang titik-titik rawan 
longsor dan cara-cara untuk mengantisipasi bencana telah disebarluaskan ke 
setiap kecamatan.

Waspada

Kampung Cisarua, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur diduga kuat akan 
mengalami bencana longsor. Hujan pertama yang jatuh pada 29 Oktober 2006 telah 
mengakibatkan munculnya retakan pada tebing di samping jalur utama Puncak. 
Retakan terpanjang mencapai 25 m dengan kedalaman 30 cm. Empat rumah di kawasan 
tersebut terancam ambruk.

"Karena terletak di jalan raya, potensi kerugian akan semakin besar. Terlebih, 
jika longsor terjadi saat lalu lintas di jalur itu padat dan mengalami 
kemacetan. Walaupun volume material kecil, namun dengan ketinggian tebing yang 
mencapai 30 m, longsoran material akan sangat berbahaya," ujar Gatot.

Syamsul masih belum bisa memastikan luas daerah yang akan mengalami bencana 
longsor. Namun, ia memperkirakan, jika longsor terjadi saat jalur padat, 
sedikitnya sepuluh mobil yang terjebak akan terkubur tanah. Jika satu mobil 
dinaiki dua orang, sedikitnya dua puluh orang akan jadi korban.

Lokasi retakan tersebut ditutupi tumbuhan bambu dan dikelilingi pemakaman. 
Menurut Syamsul, berdasarkan hasil penelitian, jika pemakaman di kawasan 
tersebut dipindahkan dan ditanami pohon musiman, potensi longsor bisa 
dikurangi. Gatot menyebutkan, hingga saat ini sudah ada 30 makam siap 
dipindahkan. (A-150


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke