http://www.indomedia.com/bpost/112006/8/opini/opini1.htm
Menanti Ledakan 'Bom' Bayi Miskin Apalagi di negeri ini banyak hal tidak jelas. Fakta, isu, kasak-kusuk, lelucon sering campur aduk hingga mudah dipelintir ke kiri maupun kekanan oleh narasumber dan sulit dipilah. Oleh: Pribakti B Dokter RSUD Ulin Banjarmasin Mohon maaf, bila judul opini ini agak keterlaluan. Tetapi, sebuah kenyataan cukup banyak jumlah orang yang bersikap 'dingin' dalam menanggapi kehamilan orang miskin di negeri ini. Jadi mohon maaf. Sewindu lebih reformasi bergulir ternyata hidup bangsa ini masih dipenuhi kemiskinan dan berbagai kritik keras. Harapan? Terasa tipis. Hingga manusianya pun terlukis begitu payah, habis daya, frustrasi, sebagian merasa 'mati di lumbung padi'. Yang tinggal hanya keberanian untuk menegaskan: "Cukuplah sudah itu semua." Logikanya sederhana, kalau ibu miskin hamil saja tak terurus, bayi yang lahir bodoh-bodoh, maka yang terlanjur jadi presiden atau penguasa tak bakal ada yang mampu menggantikan nantinya. Akibatnya dapat ditebak, bangsa ini akan semakin bodoh, miskin dan sakit. Apa mau? Lagi pula sekarang, kita dipaksa percaya bahwa sesungguhnya ukuran kebesaran suatu bangsa bukan cuma ditentukan oleh luas wilayah dan penduduk yang berlimpah. Singapura misalnya, adalah negara dengan luas wilayah tak lebih besar dari Pulau Jawa, penduduknya tak banyak apalagi sumber daya alam (SDA)-nya. Tapi mereka memiliki stereotip yang dikenal sebagai bangsa besar, minimal maju, minimal lagi terkenal. Lalu Indonesia? Negeri ini hampir memiliki semuanya. Jumlah penduduk, luas wilayah dan SDAsumberdaya alam. Tapi semua modal itu tetap saja tak menghapus keraguan apakah kita telah otomatis menjadi bangsa besar. Negeri ini seperti terlambat menyadari, kebesaran tak selalu ditentukan oleh luas dan lebar. Pendek kata, untuk menjadi bangsa yang kaya, ternyata tak ditentukan oleh SDA yang tumpah ruah. Jadi, fungsi wilayah, jumlah dan SDA telah gugur sebagai satu- satunya penentu kebesaran bangsa . Kalau hal itu benar, boleh saja kita mengatakan Indonesia adalah negeri yang tak memiliki modal untuk menjadi bangsa yang besar. Sinyalemen ini walau serampangan tapi logis dan sah. Toh nyatanya, meski telah lama kita ge-er menjadi bangsa terkenal, Indonesia masih selalu gagal mengejar prestasi negara tetangga. Seperti hari-hari belakangan ini, teramat banyak kisah sedih yang saya dengar. Menjelang lebaran lalu, terbetik kisah kawanan yang mencegat kendaraan di jalan pantai utara Jawa (pantura) dan setengah memaksa penumpang mobil untuk memberikan uang. Bukan cuma perampok, namun juga massa yang umumnya pekerja musiman di Jakarta dan terpaksa pulang kampung. "Mereka marah pada kita yang pakai mobil. Di mata mereka, kita begitu mewah punya mobil sedangkan mereka benar-benar kelaparan," kata seorang kawan yang mengaku memperhatikan cermat perilaku massa itu . Kita semua tahu, krisis ekonomi telah melahirkan ledakan kemiskinan luar biasa. Ledakan yang tak pernah kita bayangkan dapat terjadi. Meskipun demikian, tampaknya kita semua baik pemerintah maupun masyarakat masih mengabaikan ancaman yang tak kalah mengerikan. Yakni, kemiskinan itu akan melahirkan ledakan kemiskinan berikutnya yang sangat serius. Harus diakui, kemiskinan di Indonesia tak pernah usai. Dulu lawan kita adalah penjajah, kini kemiskinan. Jumlah penduduk miskin Indonesia sampai Maret 2006 mencapai 39 juta jiwa (sebelumnya 35 juta jiwa) atau 17,75 persen dari total 222 juta jiwa (Gatra, 11 Oktober 2006). Memburuknya kemiskinan ini bisa disimak dari pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang terpaksa ditutupi dengan cara berutang. Kemiskinan membuat daya beli masyarakat kian tenggelam. Kemiskinan memaksa masyarakat untuk lebih memfokuskan diri pada kebutuhan bahan pokok, terutama beras. Akibatnya, alat kontrasepsi kian tak terjangkau dan memang tak menjadi prioritas. Maka, dapat dipastikan pada masa mendatang terjadi 'boom' bayi miskin. Perkiraan sementara, jumlah bayi yang lahir di Indonesia tahun ini sekitar 75-80 persen berasal dari keluarga miskin. Bayangkan, jika satu tahun saja lahir 10 juta bayi maka berarti 7-8 juta warga miskin baru. Dapat dipastikan, tahun-tahun ke depan pertumbuhan kemiskinan kemungkinan jauh lebih cepat lagi. Celakanya, menurut data Badan Pusat Statistik, sebanyak 50 - 60 persen ibu hamil terutama kaum miskin terkena anemia ( kekurangan sel darah merah). Air susu ibu yang anemia bisa berakibat otak bayi kosong alias bebal. Tak percaya? Hasil foto CT scan kepala bayi bisa dipakai acuan. Lebih dari itu dan asal tahu saja, ternyata telinga bayi adalah organ pengindra pertama yang berkembang. Di dalam rahim ibu, bayi disebut-sebut mampu nguping sepanjang waktu. Suara yang menjalar melalui kulit, otot dan cairan di tubuh ibu ditangkap oleh telinga bayi. Kesimpulannya sederhana: jika otak kosong dan kuping tak berfungsi sempurna maka kemampuan untuk nguping bisa bias. Bila itu yang terjadi, saya yakin, seberapa pun upaya pemerintah tak akan mampu mengatasi masalah kemiskinan. Apalagi dengan struktur birokrasi yang tak efektif seperti sekarang. Persoalan ini akan terus menggelayuti dan menghambat laju gerak bangsa. Oleh karena itu, pembagian alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat miskin menjadi pilihan yang harus kita pikirkan serius. Bahkan perlu menjadi prioritas terutama dalam pemanfaatan dana Askeskin (Askes Masyarakat Miskin). Sebab, kemiskinan melahirkan kemiskinan. Kemiskinan melahirkan tindak kriminal dan berbagai problem sosial. Kemiskinan dekat dengan kekufuran. Sekarang semua itu ada di depan mata kita. Lalu, tidakkah kita akan mencegahnya? Apa orang miskin dilarang hamil? Melihat realitas sekarang, pembagian kontrasepsi itu hukumnya 'wajib'. Bukan lagi 'sunah', 'mubah' atau 'makruh' dan malah 'haram'. Secara umum, dalam ajaran (Islam ) nyawa dan rezeki hak Allah semata adalah benar. Namun ayat Allah yang lain pun mencolok mata kita sepanjang peradaban, jutaan manusia mati kelaparan akibat ketidakbecusan kita dalam manajemen masyarakat. Bukan hanya di Afrika, namum juga di Papua dan mungkin di sekitar kita. Kaidah Usul Fikih pun tegas menyatakan, kita harus mendahulukan mencegah kemungkaran daripada mendorong kebajikan. Mencegah mudharat harus lebih dipentingkan ketimbang mengejar maslahat. Untuk itu, gubernur/bupati/walikota di negeri yang tengah tenggelam ini harus bersikap lebih tegas dan berani memilih gagasan yang boleh jadi tak harus ada presedennya dalam sejarah internal maupun perbandingan eksternal. Karena sesungguhnya, 'boom' bayi miskin itu adalah mudharat yang bukan alang kepalang. Setuju! [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
