http://www.suarapembaruan.com/News/2006/11/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Petani Keluhkan Membanjirnya Produk Pertanian Impor Karyawan dan karyawati dari Boboan Turbansyah (pengusaha/ petani sayur-mayur di Cibodas, Bandung, Jawa Barat), menyiapkan sayur-sayuran untuk dikirim ke pusat-pusat perbelanjaan ke sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Foto diambil Kamis (9/11). [Pembaruan/Edi Hardum] [JAKARTA] Semua pejabat pemerintah, terutama Menteri Pertanian dan jajarannya diminta untuk selalu berkampanye melalui media massa, meminta masyarakat Indonesia agar mencintai produk pertanian Indonesia. Sebab, sampai sekarang, sebagai besar masyarakat Indonesia tidak mencintai produk pertanian Indonesia. Mereka lebih suka produk pertanian negara lain, seperti Jepang, Filipina. Demikian permintaan sejumlah petani sayur-mayur, jagung dan padi, dalam Pertemuan Nasional II Ikatan Alumni Magang Jepang (Ikamaja), di Desa Cibodas, Lembang, Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/11). Pertemuan itu dihadiri oleh ratusan petani sayur di Lembang dan sekitarnya, serta 150 alumni magang Jepang (petani yang magang di Jepang selama sembilan bulan sampai satu tahun atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Jepang sejak 1980-an). Turut hadir Menteri Pertanian, Anton Apriyantono serta sejumlah anggota Komisi IV DPR. Dimyati, petani sayur mengatakan, sebagian petani di Indonesia kurang bersemangat karena sikap masyarakat yang lebih mencintai produk pertanian impor, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. "Untuk itu, saya minta Pak Menteri, agar terus tampil di layar TV untuk berkampanye mengenai keunggulan produk Indonesia," kata pria bertubuh kecil itu. Boboan Turbansyah, petani sayur lainnya, menuturkan, dia sudah mendatangi sejumlah pusat perbelanjaan di sejumlah kota besar di Indonesia. Di pusat perbelanjaan itu, ia menjumpai masyarakat lebih memilih sayur-sayuran yang bertuliskan produk luar negeri daripada yang bertuliskan produk Indonesia. Atas dasar itulah, dia sengaja menamai sebagian jenis sayurannya dengan nama-nama asing, di antaranya berbahasa Inggris dan Jepang. Bahkan, di luar bungkusan sayuran yang dijualnya bertuliskan "Produced by Japan". Boboan menanam sayur-sayuran bersama dengan saudara-saudaranya di atas lahan seluas enam hektare. Untuk menjalankan usahanya itu, ia mempekerjakan 60 karyawan. Sayur- sayuran yang dihasilkannya, dijual ke sejumlah mal dan pusat perbelanjaan lain di kota-kota besar di Jawa, seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Hendra, seorang petani, yang juga merupakan alumnus Jepang, merasa prihatin dengan rendahnya minat generasi muda Indonesia terhadap pertanian. Untuk itu, ia meminta agar sekolah kejuruan di bidang pertanian kembali dibuka. Hendra juga menyayangkan Pemerintah Indonesia yang selalu mengimpor beras, padahal Indonesia banyak memproduksi padi. Pemerintah Indonesia, kata Hendra, tidak melindungi petani. "Pemerintah Jepang, sangat melindungi petani, sehingga beras dari luar sulit masuk ke Jepang," kata dia. [E-8] Last modified: 11/11/06 [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
