http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=256659

Rabu, 15 Nov 2006,



Fenomena Politik Fundamentalistis


Oleh Zuhairi Misrawi 



Politik praktis di kalangan para agamawan, khususnya ulama dan santri, kini 
memasuki babak yang paling suram. Konflik di antara para ulama soal PKB masih 
menjadi masalah serius, yang mutakhir tidak jelas juntrungnya. 

Umat lagi-lagi dibuat bingung dengan munculnya pendaftaran Partai Kebangkitan 
Nasional Ulama (PKNU) ke Departeman Hukum dan HAM. Ada ulama yang menghendaki 
perbaikan dan rekonsiliasi, tetapi arus untuk membuat partai baru harus diakui 
mempunyai kekuatan tersendiri.

Terlepas dari adanya lokomotor di balik konflik PKB, yang terasa hilang dari 
praktik politik para ulama ialah pedoman dasar berpolitik. Dalam hal ini, amat 
kentara bila politik hanya dimaknai sebagai kehendak untuk merebut kekuasaan. 
Buktinya, semangat kebangsaan yang sudah mendarah daging di kalangan ulama 
lambat laun luntur. 

Kaidah dasar dalam politik: mencintai bangsa adalah salah satu cabang dari 
keimanan seakan hilang ditelan ombak. Yang terjadi ialah munculnya klaim 
kebenaran di antara para pemuka agama untuk mencapai tujuan kepuasan pada 
tataran kekuasaan dan gengsi.

Fenomena lain adalah hubungan mesra ormas dan lembaga keagamaan dengan faksi 
politik tertentu. Fenomena tersebut dapat dimaklumi sebagai dampak dari 
demokratisasi yang mengabsahkan adanya negosiasi. Tapi, pada akhirnya, 
negosiasi yang terbentuk lagi-lagi bukan untuk kepentingan bangsa, melainkan 
kepentingan sempit dan ujung-ujungnya hanya kepentingan material. 

Tidak adanya pembelaan pemuka agama terhadap korban lumpur gas di Porong, 
Sidoarjo, menunjukkan kesalahkaprahan dalam praktik politik agamawan. Diam dan 
bungkamnya ulama terhadap kemiskinan dan kemelaratan yang dianggap sebagai 
takdir Tuhan belaka. Bahkan, mereka seolah-olah menikmati fakta tersebut. 

Sayang, mereka lupa bahwa akidah tidak terpisah dari kondisi objektif 
kemiskinan. Dalam sebuah hadis disebutkan, kefakiran menjadi tangga yang paling 
mungkin menuju kekufuran. Karena itu, bila berbicara tentang akidah, para ulama 
perlu memikirkan kemiskinan sebagai penyebab utamanya. 

Di sini, tidak berlebihan bila yang terjadi adalah meluasnya fenomena politik 
fundamentalistis. Penyempitan praktik politik sekadar membela, mempertahankan, 
dan merebut kekuasaan. Kaidah yang berlaku adalah kejarlah kekuasaan itu hingga 
titik darah penghabisan. Bila sudah didapat, kekuasaan itu harus dipertahankan 
untuk memapankan kepentingan kelompoknya. Sebaliknya, bila kekuasaan tidak bisa 
didapat, kerahkan seluruh upaya untuk mendapatkannya. 

Belajar dari Sejarah Islam

Semestinya ulama belajar dari jatuh bangun dan maju mundurnya kekuasaan dalam 
sejarah Islam. Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyyah yang merupakan 
potret kekuasaan dalam Islam pernah mengalami masa kejayaan. Kekuasaan 
dimanfaatkan beberapa khalifah saat itu untuk mengabdi kepada masyarakat. Yang 
ditorehkan adalah prestasi, bukan prestise. Karena itu, mereka mampu membangun 
imperium yang mengangumkan dunia. 

Abid al-Jabiri memberikan catatan khusus terhadap keberhasilan dinasti Islam 
bahwa di saat mereka berkuasa, Barat betul-betul dilindungi. Tapi, tatkala 
Barat yang berkuasa, orang-orang Timur tidak dilindungi. 

Namun, fakta kejayaan tersebut harus berakhir dengan sangat menyedihkan. Sebab, 
sistem dan tradisi politik yang digunakan dalam kekuasaan tidak sebagaimana 
diteladankan Rasulullah SAW, para sahabat, dan khalifah yang penuh prestasi 
tersebut. 

Beberapa khalifah terlena dengan gemerlapnya kekuasaan. Para khalifah mulai 
membangun rezim yang sama sekali tidak menjadikan kekuasaan sebagai amanat 
untuk memakmurkan masyarakat. Mereka membangun kekuasaan untuk memakmurkan 
lingkaran istana khalifah. 

Antony Black (Serambi: 2006) dalam The History of Islamic Political Thought: 
From the Prophet to the Present menyebut kenyataan itu sebagai patrimonialisme. 
Yaitu, sistem pemerintahan yang memberikan hak kepada para pemimpin untuk 
menganggap negara atau kekuasaaan sebagai miliknya dan bisa diwariskan kepada 
keluarganya, sementara rakyat dianggap sebagai bawahan.

Fakta seperti itu ditemukan dalam kenyataan kontemporer. Saya sangat terkejut 
melihat rumah seorang kiai yang kebetulan menjadi orang nomor satu di salah 
satu daerah di Jawa Timur. Rumahnya amat mentereng, mobil berjejer, sementara 
masyarakat di sekitarnya kumuh. Dalam hal ini, kekuasaan telah menyihir para 
pemimpin. Mereka melupakan misi utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan umat. 

Dari fakta seperti itu dapat dibaca bahwa politik fundamentalistis merupakan 
masalah serius yang harus diatasi secepatnya. Salah satu cara pernah digulirkan 
tokoh paling berpengaruh dalam tradisi politik Islam, yaitu Ibnu al-Muqaffa. 
Dia pernah berpesan kepada penguasa atau khalifah agar memerankan dirinya 
sebagai seorang dokter yang bekerja secara cermat dan teliti untuk menyembuhkan 
pasien. 

Seorang penguasa, menurut dia, tidak sepatutnya menjadi seorang pedagang, yang 
di dalamnya hanya memikirkan keuntungan sebanyak-banyaknya, walau dengan 
cara-cara yang tidak pantas.

Kekuasaan harus dimaknai dengan menggunakan kacamata etika. Kekuasaan yang baik 
adalah kekuasaan yang mampu memberikan pendidikan dan menciptakan perubahan 
bagi masyarakat. Sebaliknya, kekuasaan yang buruk adalah kekuasaan yang 
mengabaikan aspek pendidikan dan sekadar menjadi ajang perebutan untuk 
memperkaya diri. 

Karena itu, yang harus dihindari adalah politik fundamentalistis yang makin 
menggejala dalam pentas politik, terutama di era otonomi daerah. Semua 
kalangan, termasuk ulama, dengan mudah terjerambab dalam kubangan perebutan 
kekuasaan tersebut.

Ormas dan lembaga keagamaan semestinya mampu menjadi salah satu kekuatan utama 
untuk mengingatkan para ulama agar perebutan kekuasaan dibingkai dengan etika 
yang digariskan dalam tradisi keagamaan.


Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU di Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke