http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=256656

Rabu, 15 Nov 2006,



Dwitunggal dan Masalah Koalisi


Oleh Kacung Marijan 

Adanya perbedaan yang mengemuka antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Kalla) memang bukan rahasia lagi. Isu terakhir 
yang mengindikasikan realitas itu adalah berkaitan dengan pembentukan Unit 
Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R).

Yang sering dijadikan rujukan bagi lahirnya perbedaan itu adalah berkaitan 
dengan dua karakteristik kepribadian yang berbeda. SBY selama ini dikenal 
sebagai pemimpin yang "peragu" dan berhati-hati dalam setiap mengambil 
keputusan. Sebaliknya, Kalla dikenal sebagai orang yang cepat dan bahkan 
terkesan mendominasi.

Selain disebabkan karakteristik kepribadian yang berbeda, mengemukanya 
perbedaan antara kedua pemimpin atau yang sering disebut "dwitunggal" itu tidak 
lepas dari kekuatan politik yang menjadi pendukung masing-masing. 

Saat pencalonan dan awal-awal debut dwitunggal tersebut, masalah yang terakhir 
itu tidak mengemuka. Sebab, saat pencalonan, Kalla tidak didukung Golkar secara 
kelembagaan. Tetapi, masalahnya menjadi lain ketika Kalla terpilih sebagai 
ketua umum Golkar.

Realitas yang terakhir tersebut membuat bargaining position bertambah. Hal itu 
tidak lepas dari realitas empiris tentang sistem pemerintahan kita 
pasca-Soeharto yang memiliki nuansa kuat parlementer, meski secara formal 
bercorak presidensial. Dalam sistem demikian, posisi tawar-menawar parlemen 
cukup kuat.

Masalahnya, basis dukungan SBY di parlemen sangat kecil. Karena itu, demi 
stabilitas jalannya pemerintahan, mau tidak mau, SBY harus memperoleh dukungan 
tambahan. Posisi Kalla dalam hal demikian menjadi sangat penting, membawa 
Golkar yang sebelumnya diformat Akbar Tandjung sebagai kekuatan oposisi menjadi 
kekuatan pendukung pemerintah. 

***

Tetapi, masalahnya tidaklah sesederhana itu. Koalisi yang dibangun SBY-Kalla 
tidak hanya melibatkan PD dan Golkar. Pada awal pencalonan, SBY-Kalla hanya 
didukung PD, PBB, dan PKPI. Di kemudian hari, baru muncul PKS. Setelah itu, 
pada saat-saat penyusunan kabinet, SBY-Kalla melibatkan politisi dari 
partai-partai lain seperti PAN, PPP, serta PKB.

Karena yang terlibat dalam kekuasaan adalah koalisi pelangi, pengaturan 
konsesi-konsesi kekuasaan menjadi lebih rumit. SBY-Kalla harus mempertimbangkan 
banyak kepentingan dalam menjalankan pemerintahan. Masalahnya bertambah berat 
karena Golkar yang memenangkan pemilu legislatif 2004 meminta peran yang lebih 
besar dalam pemerintahan.

Tuntutan Golkar tersebut wajar dilakukan. Karena ketua umumnya merupakan orang 
penting dalam pemerintahan dan telah membawa gerbong Golkar sebagai pendukung 
pemerintah, yang terjadi dalam pemerintahan SBY-Kalla akan berpengaruh terhadap 
penilaian pemilih terhadap Golkar. 

Secara teoretis, sebagaimana dikemukakan Anthony Downs (1957), pemerintahan 
yang berkuasa akan berusaha membangun pemerintahannya sebagaimana diinginkan 
para pemilih. Tujuannya, pemerintah yang berkuasa itu bisa terpilih kembali 
pada pemilu berikutnya. 

Masalahnya, koalisi yang dibangun SBY-Kalla tersebut melibatkan banyak kekuatan 
politik dan masing-masing merasa memiliki kontribusi. Realitas jalannya 
pemerintahan yang "kepontal-pontal" dalam dua tahun terakhir tersebut tidak 
lepas dari beban koalisi seperti itu.

Memang, sebelum terpilih, SBY-Kalla telah membentuk "nota kesepahaman" tentang 
yang dilakukan ketika mereka terpilih, termasuk sharing kekuasaan di antara 
keduanya. Tetapi, "nota kesepahaman" itu menjadi sulit dilaksanakan karena 
dinamika politik yang berkembang, termasuk masuknya kekuatan-kekuatan baru 
dalam barisan pendukung pemerintahan.

Di lain pihak, karena koalisi yang dibangun pemerintahan SBY-Kalla merupakan 
koalisi pelangi, yang terkumpul lebih disebabkan pertimbangan-pertimbangan 
pragmatis, tingkat kohesivitasnya cenderung rentang. Merujuk pada argumen 
Anthony Downs, masing-masing yang terlibat dalam koalisi itu tidak bisa lepas 
dari agenda pemilu mendatang.

Karena koalisi yang dibangun lebih bercorak pragmatis, tidak ada jaminan bahwa 
kelompok-kelompok yang berkoalisi tersebut akan melakukan koalisi baru guna 
membangun pemerintahan baru pada Pemilu 2009. Masing-masing kekuatan akan 
melihat dulu hasil pemilu legislatif.

***

Corak koalisi yang seperti itu bukan semata-mata disebabkan perilaku politisi 
kita yang cenderung pragmatis. Instrumen kelembagaan yang menjadi dasar bagi 
pemilihan presiden-wakil presiden telah memungkinkan menguatnya pola koalisi 
seperti itu. Misalnya, dalam pencalonan, para calon harus didukung partat 
(partai) dengan perolehan suara tertentu. Calon tersebut juga harus memenangkan 
suara mayoritas (50 persen plus satu) untuk bisa dikatakan sebagai pemenang.

Yang terjadi kemudian, semua calon berusaha memperoleh suara 
sebanyak-banyaknya. Usaha tersebut dilakukan dengan berbagai cara, termasuk 
membangun koalisi pelangi yang rentan terhadap menyeruatnya perbedaan-perbedaan.

Di pihak lain, seperti disebutkan, dalam sistem pemerintahan yang kita bangun 
terdapat kontradiksi. Di satu sisi, kita menganut sistem presidensial yang 
memberikan otonomi kuat kepada presiden. Di sisi lain, kita mempraktikkan 
sistem parlementer. 

Presiden dan wakil presiden yang terpilih secara langsung, secara teoretis, 
seharusnya memiliki otoritas yang sangat besar, tidak peduli apakah mereka 
memiliki basis dukungan kuat di partai atau tidak. Tetapi, karena kita 
mempraktikkan sistem parlementer, otoritas itu menjadi lemah. 


Kacung Marijan PhD, dosen FISIP Universitas Airlangga



[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke