http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/12/humaniora/3156619.htm

 
Misi Kebudayaan
Kartu Pos dari Bali 


Putu Fajar Arcana 

Lawatan Sanggar Bajra Sandhi Bali ke Eropa, 15-27 November 2006, ibarat 
mengirim kartu pos kepada seorang teman lama. Dan, kartu pos yang dikirim 
senantiasa bergambar penari legong, barong, atau rangda. Sesuatu yang 
sesungguhnya nyaris klise, tetapi selalu membangkitkan suasana yang nostalgik. 

Seperti ada "kesepahaman" antara orang-orang Eropa dan Indonesia, terutama 
Bali, bahwa jalinan persahabatan itu mesti diberi "energi" ulang dengan 
pementasan kesenian tradisi. Sanggar Bajra Sandhi, yang didirikan Ida Wayan Oka 
Granoka tahun 1991, sebenarnya sebuah kelompok yang pada awalnya memilih 
kesenian sebagai jalan hidup. Kesenian bagi mereka ibarat wahana mencapai 
kedalaman spiritual, bukan sekadar pentas pengantar bersantap malam atau 
basa-basi yang berujung pada kecocokan bisnis. 

Namun, perjalanan dari Brussels (Belgia), Garnich (Luksemburg), Sluiskil 
(Belanda), sampai Paris (Perancis), jelas sesuatu yang berbau "dagang". 
Rombongan sebenarnya sempat melawat dengan bus ke Koln (Jerman), tetapi itu 
hanya kunjungan beberapa jam untuk berwisata. 

Sejak semula ketika Bali Tourism Board (BTB) mengajukan proyek pemulihan citra 
Bali di mata wisatawan asing pascabom tahun 2002 dan 2005, dan disetujui oleh 
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan pengucuran dana sekitar Rp 67 
miliar, misi ini memang beraroma dagang. Dua kali peledakan bom telah 
mengakibatkan pariwisata Bali berada pada titik nadir. 

Pascabom 2002, misalnya, kunjungan wisatawan asing anjlok; hanya mencapai 
kurang dari 2.000 orang per hari. Dalam situasi normal kunjungan bisa mencapai 
5.000 wisatawan yang datang langsung ke pulau itu. 

Bukan itu saja, angka pertumbuhan ekonomi Bali pernah mencapai 6,8 persen, 
dengan 85 persen dari sekitar Rp 13 triliun rencana pembangunannya disokong 
oleh sektor swasta, termasuk di dalamnya industri pariwisata. Kini, pascabom 
2005 silam, sebagian besar sektor swasta, kata pelaku pariwisata Gde Wiratha, 
sudah jenuh menunggu aksi pemerintah. 

Data sampai dengan Oktober 2006, kunjungan wisatawan, baru mencapai sekitar 1,1 
juta orang. Angka ini jauh sekali dari target yang pernah dirancang sekitar 
tahun 1990-an untuk membawa lima juta wisatawan datang ke Bali dalam setahun. 
Lima juta adalah angka yang sudah melebihi penduduk Bali, yang kini berjumlah 
3,5 juta jiwa. 

Tumpuan harapan itu "lagi-lagi" diletakkan pada kebudayaan, dalam hal ini 
Sanggar Bajra Sandhi. Kelompok yang para anggotanya sebagian besar dari "trah" 
Oka Granoka ini diharap memanggul asa jutaan rakyat Bali untuk meretas jalan 
baru di Eropa. Seberapa besar dampak dari pementasan keliling sebagian Eropa 
itu, tentu tak segera bisa terlihat. 

Ini bukan perjalanan yang mudah, karena salah-salah BTB bisa menuai kecaman. 
Sebab, banyak di antara pelaku pariwisata Bali yang berpikir sangat pragmatis. 
Promosi sekarang hasilnya harus sekarang. Padahal, pariwisata Bali tumbuh bukan 
perjuangan instan. Ia sudah dirintis sejak masa kolonial. 

Masa kolonial 

Hal yang bisa dirunut adalah kesadaran bahwa kebudayaan bisa menjadi magnet 
bagi dunia wisata di Bali telah dimulai sejak pemerintah kolonial. Pemerintah 
Kolonial Belanda pernah mengikuti Colonial Exhibition tahun 1931 di Paris. 
Negara-negara Eopa, termasuk Belanda sebagai penjajah, memamerkan dan 
mementaskan seni dan budaya negeri jajahan mereka. Belanda memperkenalkan 
patung kuno dan tekstil primitif dari Jawa serta kerajinan dan seni pertunjukan 
dari Bali. 

Menurut pengamat pariwisata Darma Putra, Walter Spies dan R Goeris banyak 
membantu dalam persiapan Pemerintah Belanda mengikuti ajang kebudayaan 
tersebut. Hebatnya, pementasan kesenian Bali waktu itu begitu banyak dikenang. 

Bahkan tokoh teater dunia, Anthony Artaud, mengembangkan teori tentang theatre 
of cruelty (teater kekejaman) setelah menyaksikan seni pertunjukan Bali. 
Sambutan media Eropa waktu itu, kata Darma Putra, luar biasa sehingga membuat 
nama Bali dikenal luas. 

Sekitar tahun 1950-an, John Coast menjadi sponsor tur para seniman dari 
Peliatan, Ubud, ke Eropa dan Amerika Serikat. Waktu itulah seni seperti legong 
tiba-tiba mendunia. Perlahan-lahan, sampai sekarang salah satu ikon penting 
Bali adalah penari legong. Gambar penari ini bahkan dijadikan beribu-ribu kartu 
pos. "Road Show to Europe", tema dari lawatan Bajra Sandhi ke Eropa, juga 
memang poster penari legong. Ketika mengikuti perjalanan rombongan kesenian ISI 
(dulu STSI) Denpasar tahun 1997 ke Iwate, Jepang, pemandangan serupa pun 
terjadi. Bali seperti direduksi ke dalam sebuah poster perempuan berpakaian 
tari yang jelita. 

Apa yang dilakukan Sardono W Kusumo bersama rombongan Dongeng dari Dirah tahun 
1974 di Paris, yang "memperbarui" pementasan tari cak, boleh dilihat sebagai 
kelanjutan dari misi kebudayaan Bali ke luar negeri. Namun, kepopuleran Bali di 
luar negeri dengan cara berbeda juga dikerjakan oleh kaum intelektual. 

Fotografer kelas dunia asal Jerman, Gregor Krause, misalnya, tahun 1920 
menerbitkan buku berjudul Bali 1912. Buku ini memikat banyak orang dan terus 
dicetak ulang sampai sekarang. Peneliti-peneliti lain yang muncul kemudian 
Walter Spies, Miguel Covarrubias, dan Vicki Baum. 

Tentu saja semua orang asing yang mempelajari kehidupan di Bali akan 
pertama-tama membaca buku Island of Bali (1930-an) karya Covarrubis atau novel 
monumental dari Vicki Baum berjudul Tale from Bali (1937). Pengembara dari 
Amerika yang datang ke Bali gara-gara cuplikan film karya Walter Spies dan 
kemudian lebih dikenal dengan nama K'tut Tantri, menulis buku Revolt in 
Paradise. Buku diterjemahkan dan diterbitkan berulang-ulang dalam bahasa 
Indonesia berjudul Revolusi di Nusa Damai. 

Akhir tahun 1980-an, peneliti dari Australia Adrian Vickers menulis buku 
berjudul Bali A Paradise Created (1989). Sementara Michel Picard dari Perancis 
menulis Bali Cultural Tourism and Touristic Culture. 

Darma Putra menilai, andil para seniman dan intelektual ini secara tidak 
langsung turut memopulerkan Bali di mata orang asing. "Dan sudah pasti itu 
promosi yang luar biasa bagi dunia pariwisata lokal," katanya. 

Pariwisata budaya 

Kesadaran penting orang Bali akan manfaat dan bahaya pariwisata sebenarnya baru 
terlihat pada awal tahun 1970-an, nyaris berbarengan dengan datangnya gelombang 
kaum hippies ke Pulau Dewata itu. 

Tahun 1974, Pemerintah Daerah Bali mengeluarkan peraturan daerah tentang 
pariwisata budaya. Perda ini kemudian diperbarui menjadi Perda Nomor 3 Tahun 
1991. Kelahiran peraturan ini refleksi dari rasa syukur dan kegelisahan orang 
Bali terhadap perkembangan dunia pariwisata. Tahun 1970-an ada pendapatan baru 
bagi Bali berupa kedatangan para wisatawan asing, di sisi lain ada kegelisahan 
mengenai perilaku para hippies yang dianggap tidak sesuai dengan adat istiadat 
orang Bali. 

Perda inilah yang sampai sekarang menjadi acuan pengembangan pariwisata Bali. 
Ia berisi rumusan tentang arah pariwisata serta batasan-batasan terhadap 
eksploitasi adat setempat. 

Oleh karena itu, lawatan rombongan kesenian ke luar negeri sebenarnya hanyalah 
satu titik kecil dari serangkaian aktivitas kebudayaan untuk "memopulerkan" 
Bali sudah berlangsung hampir seabad. Apa yang dilakukan Bajra Sandhi bersama 
delegasi BTB dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata seperti menjejaki jalan 
lama, jalan yang sebenarnya telah dirintis sejak Pemerintah Kolonial Belanda 
dahulu. 

Oleh karena itu, orang Belanda seperti Gert Jansen yang menangani pementasan 
Bajra Sandhi di Sluiskil hadir dalam setiap pementasan kelompok ini selama 
lawatan seni itu. Jansen juga hadir dalam pergelaran di Garnich (Luksemburg) 
dan Brussels (Belgia). Dalam setiap kehadirannya, lelaki beristrikan perempuan 
asal Madiun itu selalu membawa kejutan. 

"Itu karena saya merasa seperti berada di Bali," kata dia selalu seusai 
menyaksikan pementasan. Ia menyatakan sudah beberapa kali datang ke Bali. 

Beda dengan lelaki setengah baya bernama Hansen. Seusai menonton pementasan di 
Sluiskil ia bilang seperti sudah pernah ke Bali. Saya belum pernah ke Bali, 
baru dengar nama dan lihat foto-foto saja," tutur Hansen sembari mengeraskan 
lilitan slayer di lehernya. Cuaca di musim dingin memang cukup menusuk di kota 
kecil di selatan Amsterdam itu. 

Pertanyaannya, lantas di masa kontemporer seperti sekarang apakah masih cukup 
efektif memanfaatkan misi kesenian di mana semua calon wisatawan mempersoalkan 
kenyamanan dan keamanan? 

Sekretaris BTB Agung Suryawan Wiranatha yang mengikuti perjalanan rombongan 
memang memberi jaminan bahwa petugas keamanan lokal Bali akan bertindak 
antisipatif terhadap segala bentuk tindakan gangguan keamanan. Seharusnya, 
sebagaimana diungkapkan Darma Putra, mengirim misi kesenian ke luar negeri saat 
ini tidaklah cukup efektif untuk memulihkan citra Bali di mata dunia. 

"Coba bawalah tokoh seperti Made Mangku Pastika, mantan Kepala Polda Bali yang 
berhasil menangkap para teroris. Dia cukup populer di kalangan masyarakat 
Australia dan Amerika," kata Darma. 

Barangkali saran ini cukup baik untuk diikuti. Betapa pun, problem terbesar 
pariwisata Indonesia, khususnya Bali, belakangan hari adalah risiko keamanan. 
Pencitraan Bali lewat kebudayaan sebenarnya telah usai ketika pemerintah 
setempat menerbitkan perda tentang pariwisata budaya, yang telah didahului 
bentangan sejarah aktivitas kultural sejak masa kolonial hingga para seniman 
asing itu. 

Maka, perjalanan Bajra Sandhi ibarat pengiriman sebuah kartu pos, yang bisa 
saja tidak berarti apa-apa di tengah makin tingginya risiko bepergian untuk 
berwisata.


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke