http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=8672&Itemid=75
Jumat, 15 Desember 2006
POLAGAMI
Oleh: A Mustofa Bisri *)
SEPERTI biasa, setelah pengajian Selasanan, beberapa ''aktivis'' jamaah
masih duduk-duduk berkumpul di aula. Malah kali ini nyaris lengkap. Ada Kang
Kimin; Kang Zaini; Haji Arifin; Kang Slamet; Kang Mansur; Mas Guru Manaf; si
Dul; dan bahkan Gus Mad dan Mbah Paiman.
Kali ini Kang Slamet yang membuka ''diskusi''. ''Wah, kasihan Aa' Gym
ya?! Mau itbaa', mengikuti jejak Nabi, malah dihujat jamaahnya.''
''Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang selama ini mengidolakan Aa' dan merasa
dikecewakan. Lebih-lebih Teteh Ninih, istrinya!'' sahut Haji Arifin yang
istrinya ketua muslimat ranting. ''Perempuan itu kan paling sakit jika dimadu.''
''Tapi, Teteh Ninih itu kan sudah legawa, Aa'-nya kawin lagi,'' Kang
Zaini menimpali. ''Dia itu tipe perempuan yang taat dan selalu mendukung
suaminya.''
''Legawa itu kan lahirnya saja!'' sergah Haji Arifin.
''Wah, sejak kapan sampeyan jadi paranormal, tahu batin orang?'' ledek
Kang Zaini.
''Lho, bukan begitu. Wajahnya di teve kan kelihatan,'' jawab Haji Arifin
tak mau diledek sebagai paranormal.
''Tidak. Yang saya heran, mengapa kok jamaah Aa' menghujatnya dan
orang-orang pada geger; sampai-sampai presiden segala ikut disibukkan.''
''Ini ada apa?'' si Dul nimbrung. ''Bukankah sebelumnya sudah banyak
tokoh yang kawin lebih dari satu, seperti petinggi PPP Hamzah Haz; mubaligh
sejuta umat Zainuddin MZ; aktivis gender Masdar Mas'udi; bahkan Kiai Nur
Muhammad Iskandar konon menjadi penasihat Paguyuban Poligami yang dipimpin wong
Solo itu.''
''Lain,'' Gus Mad yang sejak tadi seperti tidak mendengarkan, angkat
bicara. ''Pak Hamzah itu meskipun tokoh nasional, kan tokoh politik. Tokoh
politik itu biasanya hanya dianggap milik partainya dan biasanya perilaku
politiknya saja yang disorot. Zainuddin MZ dan Nur Iskandar juga begitu setelah
terjun di politik. Sementara Masdar adalah pemikir yang ketokohannya begitu
kentara karena hubungan langsung dan intens dengan jamaah.''
Gus Mad berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah yang memperhatikannya,
baru kemudian melanjutkan. ''Aa' Gym lain. Dia itu tokoh public figure
sebenarnya. Dia tidak hanya mubaligh, tapi juga sekaligus selebriti.''
''Jamaahnya adalah fans-fansnya. Aa' adalah gabungan antara Zainuddin MZ
dan Iwan Fals atau Tuti Alawiyah dan Krisdayanti. Lagi pula, dia datang pada
waktu yang tepat. Ibarat hujan, turun pada saat kemarau panjang. Pada saat
kebanyakan kepala orang Indonesia panas oleh berbagai kesulitan dan kekecewaan,
dia membawa keteduhan.''
Lagi-lagi Gus Mad berhenti sebentar, meneguk tehnya yang sudah dingin,
kemudian baru melanjutkan. ''Kalian tahu, kebanyakan jamaah yang mengidolakan
Aa' adalah ibu-ibu. Mereka ini tidak hanya memuja Aa' karena kelembutan dan
kesejukan bicaranya, tapi antara lain juga keharmonisannya dengan sang istri.
Kalian lihat sendiri, dalam hampir setiap penampilannya, Aa' didampingi Teteh
Ninih. Tidak jarang dalam orasinya, dia sengaja meminta dukungan istrinya itu.''
''Boleh jadi, dalam pandangan jamaahnya, khususnya ibu-ibu, Aa' merupakan
tokoh idola yang sempurna, yang tidak ada cacatnya. Ya, seperti umumnya fans
terhadap tokoh idolanyalah.
Bahkan, untuk Aa' ini mungkin lebih dari itu. Dalam bahasa Ainun, di mata
mereka, Aa' sudah menjadi semacam berhala. Terhadap 'berhala', pandangan tidak
ada cacat bisa menjadi tidak boleh cacat.''
''Dan umumnya orang Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap kawin lagi;
atau istilah populernya poligami, adalah cacat. Minimal mengurangi kesempurnaan
tokoh suami. Maka ketika Aa' kawin lagi, jamaah yang selama ini menganggapnya
idola tunggal yang tak bercacat pun kecewa berat dan meradang.''
''Tapi Gus,'' sela Kang Mansur, ''poligami itu kan halal dan itbaa'
Nabi?''
Tiba-tiba jamaah meledak, tertawa. Mas Guru Manaf sambil tertawa,
menuding Kang Mansur. ''Mentang-mentang istrinya dua!''
Kang Mansur terlihat agak sewot ditertawakan kawan-kawannya dan
menyemprot Mas Guru Manaf: ''Alaah, kamu sendiri sebetulnya kan pingin kawin
lagi, tapi tak punya nyali. Dasar guru takwa. Takut istri tua!''
Jamaah pun semakin riuh tertawa. Setelah reda, Mbah Paiman yang paling
tua di antara jamaah tiba-tiba mengacungkan tangan dan bicara: ''Begini;
sebenarnya ini tidak masalah hukum.
Hukumnya kan sudah jelas. Poligami boleh dengan syarat adil. Nah, yang
jadi masalah kepercayaan terhadap adilnya suami inilah yang hampir tidak ada.''
''Orang, apalagi zaman sekarang, apalagi perempuan, hampir tidak ada yang
percaya ada suami yang bisa adil. Ditambah lagi maraknya kasus perselingkuhan
membuat kepercayaan orang terhadap suami yang kawin lagi menjadi pupus.''
''Lho, Kang Mansur ini alasannya kawin lagi justru agar tidak selingkuh,
Mbah,'' sela Mas Guru Manaf. Kang Mansur melirik sengit ke arah Mas Guru Manaf.
''Ya, hampir semua mereka yang berpoligami selalu berkilah bahwa poligami
jauh lebih baik daripada selingkuh. Ini halal dan selingkuh itu haram. Tapi,
ini sekaligus juga merupakan dalil penguat bagi mereka yang antipoligami untuk
menuduh mereka yang berpoligami. Artinya, mereka itu melihat dorongan untuk
selingkuh dan kawin lagi adalah sama. Syahwat.''
Suasana menjadi hening agak lama. Kemudian, yang memecahkan kesunyian
adalah Kang Kimin, senior jamaah yang sejak tadi diam saja. ''Dari tadi kita
kok hanya geger bicara soal orang kawin lagi. Yang kasihan kepada Aa'-lah, yang
kasihan kepada istrinyalah, yang kasihan kepada ibu-ibu yang
mengidolakannyalah. Bukankah di negeri ini masih banyak yang lebih perlu
dikasihani; misalnya para korban bencana alam yang belum benar-benar terurus;
korban Lapindo yang berlarut-larut hanya dijadikan bahan diskusi; para pemimpin
yang bebal terhadap kehendak umat yang dipimpinnya; para pejabat yang masih
kerepotan melepaskan diri dari lilitan kepentingan materi; dan sebagainya dan
seterusnya.''
Suasana kembali sunyi; sampai Gus Mad memecahkannya dengan berkata:
''Marilah kita tutup perbincangan kita ini dengan membaca Al-Fatihah, semoga
Allah mengasihani dan merahmati kita bangsa Indonesia ini, terutama mereka yang
kita kasihani. Al-Faaatihah!...'' ***
*) A Mustofa Bisri, Budayawan
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/