http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/12/27/n3.htm


Catatan Akhir Tahun ---
Perilaku Elite, Suburkan ''Budaya'' Kekerasan 


KONDISI perekonomian bangsa yang makin terpuruk turut andil menyuburkan budaya 
kekerasan di kalangan masyarakat. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), angka 
kemiskinan dan pengangguran yang membubung tinggi serta kondisi hidup yang 
serba carut-marut lainnya membuat masyarakat merasa makin terhimpit dan 
frustrasi. Di pihak lain, para elite pemerintahan -- baik pejabat eksekutif 
maupun legislatif -- yang diharapkan tampil sebagai dewa penyelamat justru 
berasyik-ria dengan urusan dan kepentingannya masing-masing. Sibuk memperkaya 
diri sendiri. Mereka seolah-olah telah kehilangan kesadaran dan kepekaan untuk 
memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Belum tampak pemerintahan yang 
benar-benar memiliki etos kerja dan dedikasi tinggi demi terbangunnya 
masyarakat sejahtera.

Ironisnya lagi, di tengah membengkaknya angka pengangguran dan penduduk miskin 
itu, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan yang dinilai sama sekali tidak 
mencerminkan sense of crisis alias tidak berpihak kepada kesulitan hidup yang 
tengah menghimpit masyarakat. Misalnya, mengeluarkan PP No. 37 Tahun 2006 yang 
dibarengi dengan kenaikan mencolok gaji para wakil rakyat. Benarkah kebijakan 
tidak populis seperti itu sama artinya dengan ''menabur'' kesenjangan yang 
justru membuat masyarakat makin frustrasi? Jika rasa frustrasi itu 
terus-menerus terakumulasi, pada tingkat tertentu dia akan meledak dan akhirnya 
melahirkan reaksi yang tidak terduga. Salah satu wujudnya adalah tindak 
kekerasan atau perilaku destruktif lainnya.

Antropolog Drs. I Wayan Geriya mengaku miris melihat kondisi bangsa saat ini. 
Tindak kekerasan tampak begitu mendominasi. Kekerasan ada di mana-mana dan 
tampil dalam ''wajah'' yang sangat menyeramkan. ''Sekarang ada kecenderungan 
masyarakat begitu gampang tersulut untuk bertindak keras dan brutal,'' katanya.

Menurut Geriya, ''budaya'' kekerasan itu muncul dari dua jalur. Pertama, 
dikonstruksi atau dibangun oleh masyarakat sebagai pendukungnya karena berbagai 
faktor pemicu. Kedua, ada rujukan teks atau hal yang sudah ada di kerangka 
berpikir mereka bahwa kekerasan itu merupakan bagian dari kehidupan. ''Apabila 
kita simak budaya Bali, sesuai filosofi rwa bhineda, sebenarnya antara harmoni 
dan kekerasan itu eksis di dalam kehidupan orang Bali. Hal serupa juga ada pada 
kehidupan masyarakat nusantara maupun masyarakat universal. Makanya, ada konsep 
dualistik. Ada keras ada juga damai. Ada harmoni, ada pula disharmoni dan 
seterusnya,'' ujarnya. 



Figur Penyejuk



Geriya menegaskan, ''budaya'' kekerasan hadir di tengah kehidupan manusia 
karena secara konstruktif memang dibangun oleh manusia itu sendiri. Mengapa itu 
dibangun? Karena lingkungan mereka keras. Lingkungan keras itu ditandai oleh 
lingkungan yang serba sumpek. Kemudian cara hidup di lingkungan yang sangat 
kongkret dan hipokrit juga menampilkan nuansa kekerasan.

Namun, katanya, intensitas dan kualitas kekerasan itu sejatinya bisa 
dieliminasi jika figur-figur yang diidolakan apakah itu pejabat eksekutif, 
legislatif, yudikatif dan figur lainnya mampu memerankan diri sebagai figur 
penyejuk. Tentu saja, lewat perilaku keteladanan. Bukan sebaliknya, justru 
tampil sebagai agen yang mendorong tumbuh suburnya ''budaya'' kekerasan itu. 
''Dalam konteks ini, key person yang diidolakan itu sejatinya yang harus tampil 
sebagai figur penyejuk untuk meredam kekerasan di masyarakat itu sendiri,'' 
katanya lagi.

Di Indonesia, katanya, figur idola masyarakat itu seringkali melekat pada diri 
pejabat eksekutif dan legislatif. Sayang, mereka sendiri juga justru seringkali 
mempertontonkan kekerasan itu kepada publik. Kekerasan itu tidak mutlak dalam 
bentuk aksi fisik, tetapi bentuknya juga bisa nonfisik seperti korupsi atau 
merampas hak rakyat. Rona kekerasan yang dipertontonkan para elite itu juga 
bisa dilihat dari gaya wacana mereka. ''Belum apa-apa sudah interupsi, mendebat 
dan mengkritik. Sama sekali tidak menampilkan kesejukan. Yang mereka tampilkan 
seringkali hanya wacana keras semata, sehingga wajah keras itu tampak sangat 
dominan. Apabila perilaku para elite seperti itu yang dijadikan rujukan oleh 
masyarakat, maka kekerasan itu pun juga akan menjadi bagian dari masyarakat itu 
sendiri,'' tegasnya.

Dia menambahkan, saat ini masyarakat -- khususnya generasi muda -- banyak 
dibuat frustrasi oleh perilaku para elite. Mereka sama sekali kehilangan contoh 
yang benar untuk dijadikan tokoh panutan. Para pejabat eksekutif, legislatif 
maupun yudikatif yang notabene merupakan pilar utama untuk menata bangsa ini 
menuju kondisi yang lebih baik, semuanya berbicara tentang good governance  
sampai mulutnya berbuih-buih. Namun realitanya, sama sekali belum terlihat yang 
namanya good governance itu, sehingga memicu kekecewaan dan ketidakpercayaan 
masyarakat.



Tayangan Audio-Visual



Psikolog Drs. I Made Rustika, M.Si. tidak menampik bahwa kasus-kasus kekerasan 
makin mencuat di masyarakat belakangan ini. Baik dalam hal jumlah maupun 
kualitas kekerasan itu sendiri. Dari sudut pandang psikologi, katanya, 
kekerasan itu sangat berkaitan dengan frustrasi. ''Frustrasi itu adalah 
kekecewaan antara harapan yang ingin dicapai dengan kenyataan yang ada. Makin 
lebar jarak antara harapan yang ingin dicapai dengan kenyataan, maka akan 
terjadi frustrasi yang makin tinggi. Jadi, sumber kekerasan itu sebenarnya 
berkaitan sekali dengan frustrasi tersebut,'' katanya.

Lebih lanjut, Rustika mengatakan perangkat audio-visual seperti TV yang semarak 
menayangkan aksi-aksi kekerasan juga bisa menyuburkan ''budaya'' kekerasan di 
masyarakat. Misalnya, kasus smack down yang sudah memakan korban. Menurut Dosen 
Fakultas Kedokteran Unud ini, tayangan kekerasan seperti itu sangat berbahaya 
jika sampai ditonton anak-anak. 

Sementara itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali Windu 
Sancaya tidak menampik bahwa program TV bisa mempengaruhi pembentukan karakter 
anak bangsa. Terhadap program-program seperti itu, pihaknya memang sudah 
memberlakukan pengawasan ekstraketat terhadap tayangan-tayangan beraroma 
kekerasan seperti itu. ''Beberapa waktu lalu, sejumlah stasiun TV swasta 
nasional sempat diperingatkan secara keras karena programnya dinilai meracuni 
perkembangan kejiwaan anak,'' katanya. * sumatika


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke