http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/30/Utama/ut03.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Refleksi Akhir Tahun 

Korupsi dan Kemiskinan Menandai Tahun 2006
 

Oleh Sabam Siagian 


Dalam merenungkan tahun 2006 yang akan berlalu, ada dua masalah besar yang 
agaknya membebani rakyat Indonesia, dan yang masih harus dihadapi pada tahun 
mendatang. Dua masalah itu adalah korupsi yang meluas dan kemiskinan yang 
meningkat. 

Tentunya Anda akan mengurutkan sejumlah masalah besar lainnya yang telah 
menyibukkan bangsa dan pemerintah, seperti berbagai malapetaka alam (semburan 
lumpur panas di Jawa Timur, gempa bumi, longsor dan banjir) dan masalah sosial 
yang serbasulit (pengangguran yang meningkat, kriminalitas yang meluas, dan 
narkoba yang terus mengancam generasi muda). 

Bencana alam dan ketimpangan sosial itu memang penting dan tidak boleh 
diabaikan. Namun, jauh lebih penting lagi bagi sebuah bangsa yang penduduknya 
mencapai lebih dari 200 juta manusia (urutan ke-4 di dunia), untuk menetapkan 
masalah-masalah besar yang amat strategis dampaknya, sehingga kegagalan untuk 
menyelesaikannya dapat menyebabkan bangsa ini jatuh bangun. 

Berdasarkan pertimbangan itulah, masalah korupsi dan kemiskinan (yang akhirnya 
saling mempengaruhi) patut menjadi fokus utama perhatian kita. Selanjutnya, 
menjadi prioritas papan atas dari program kerja bangsa serta pemerintah untuk 
tahun 2007. 

u 

Beberapa minggu lalu (Kamis, 7/12), Dr Anwar Nasution, Ketua Badan Pemeriksa 
Keuangan (BPK) mengundang wakil media pers untuk pertemuan informal. Cukup 
banyak para rekan redaktur dan wartawan yang hadir karena ia memang cukup 
dikenal di seminar-seminar dengan ucapan-ucapan yang sering menggigit. 

Malam itu ia ingin menerangkan tentang kinerja BPK yang telah dipimpinnya 
selama dua tahun dan mengungkapkan beberapa Laporan Hasil Pemeriksaan BPK 
Semester I-2006. Ia menjelaskan, bahwa BPK, yang selama rezim Orde Baru 
dianggap sebagai lembaga auditor "ompong", kini telah direnovasi melalui 
beberapa amendemen UUD 1945. 

Ia harus lebih responsif terhadap penciptaan akuntabilitas pemerintahan yang 
lebih baik. BPK di beri tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang 
keuangan negara yang bebas dan mandiri. Hasil pemeriksaan diserahkan kepada 
DPR, DPD dan DPRD. 

Bung Anwar Nasution, menjawab pertanyaan, menerangkan bahwa semangat kerja 
internal secara berangsur telah diperbaiki. Nada sindirannya masih tetap ada. 
"Dulu di sini biasanya yang berkuasa seorang jenderal. Asal ada upacara 'hormat 
pada bendera', itu sudah cukup," katanya. "Sekarang siapa yang tidak sanggup 
kerja secara disi- plin dan bersih, lebih baik cari tempat lain." 

Bung Anwar juga menceritakan beberapa ungkapan hasil pemeriksaan BPK yang 
memang sudah disampaikan ke DPR dan badan perwakilan lainnya. Biasanya 
pengertian korupsi bagi kita-kita ini mungkin sederhana saja. Umpamanya, para 
pejabat yang mengharapkan "sesuatu" agar urusan yang menjadi wewenangnya dapat 
diselesaikan lebih lancar. 

Namun, kalau kita teliti penyimpangan yang terjadi, sebagaimana diungkapkan 
oleh pemeriksaan BPK, maka skalanya sungguh mengejutkan. Anggaran belanja 
negara tahun 2004 mencapai Rp 397,77 triliun, sementara tahun 2006 mencapai Rp 
689,54 triliun, atau meningkat Rp 291,77 triliun. 

Hampir separuh dari anggaran belanja tersebut disalurkan langsung ke daerah 
melalui berbagai pintu, seperti Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Perimbangan, Dana 
Otonomi Khusus, sampai ke Dana Penyesuaian. Itu menimbulkan dua persoalan 
besar, yakni daya mampu untuk menampung dan mengolah dana-dana tersebut, serta 
pengawasan penggunaannya. 

Tanpa meremehkan penyelewengan yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintah 
pusat, maka aliran dana dalam jumlah besar ke daerah telah menimbulkan 
"pengelolaan yang amburadul". "BPK mengumpulkan bukti bahwa ada aliran uang 
dalam jumlah besar ke daerah yang diselewengkan, bahkan sudah menjurus pada 
tindak pidana korupsi," demikian sebuah keterangan. 

Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Semester I-2006, BPK menyebutkan, nilai temuan 
pengelolaan keuangan daerah yang bermasalah mencapai Rp 12,04 triliun ditambah 
444.500 dolar AS. 

BPK kemudian melakukan pemeriksaan khusus atas temuan itu dan mendapatkan enam 
kelompok kasus yang menonjol. Namun hanya empat yang kita cantumkan di sini. 

Pertama, terjadi pemborosan keuangan senilai Rp 170,68 miliar di 77 pemerintah 
daerah yang digunakan tidak untuk kesejahteraan masyarakat luas, melainkan 
memuaskan segelintir elite daerah dan pusat berupa dana bantuan, konon hingga 
tunjangan. 

Kedua, tanpa tanda bukti penyertaan dan sertifikat, 23 pemerintahan daerah 
menginvestasikan dana rakyat pada bank-bank milik daerah dan perusahaan daerah 
senilai Rp 1,2 triliun. 

Ketiga, terdapat penguasaan aset daerah dan penyertaan modal ke pemerintah desa 
senilai Rp 2,84 triliun di 23 pemerintah daerah yang tidak dapat ditelusuri 
keberadaannya, alias raib tanpa catatan 

Keempat, terdapat pimpinan di 44 wilayah yang tidak memasukkan dana pendapatan 
daerah, dana bagi hasil dan bantuan dari pemerintah yang lebih tinggi ke dalam 
APBD senilai Rp 3,03 triliun. 

Kelompok kasus penyelewengan dalam laporan BPK masih banyak lagi, karena 
jumlahnya belum lagi Rp 12,04 triliun. Suatu jumlah yang begitu besar dan 
membuat kita geleng-geleng kepala membacanya 

Bung Anwar Nasution mengatakan, temuan dugaan korupsi pada keuangan pemerintah 
pusat maupun daerah masih sangat terbatas. Ia akui, jumlah auditor yang 
dimiliki BPK masih sangat terbatas. Cita-citanya adalah membangun kantor 
perwakilan BPK di setiap ibu kota provinsi dan memperbesar jumlah korps auditor 
BPK yang kompeten, bersih dan bekerja cepat. 

u 

Temuan-temuan BPK itu, meskipun menurut "boss"-nya masih terbatas, lebih gawat 
lagi sifatnya kalau dikaitkan dengan Laporan Pengentasan Kemiskinan di 
Indonesia yang baru-baru ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Dunia di 
Jakarta. 

Tingkat gawatnya bukan saja karena jumlah dana yang raib atau disalahgunakan. 
Kalau Anda baca beberapa bagian dari Laporan Bank Dunia tersebut, betapa dana 
yang tidak terlalu besar (umpamanya, beberapa puluh juta rupiah) bisa digunakan 
untuk membangun jalan, menghubungkan sebuah desa dengan pasar sehingga 
meningkatkan kesejahteraan penduduk desa itu. Maka, Anda membayangkan 
kesempatan dan waktu yang hilang untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia. 

Dr Andrew Steer, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, beberapa minggu 
lalu mengundang sejumlah rekan-rekan media untuk makan siang di rumahnya. Pak 
Andrew tokoh yang menarik, berpostur seperti seorang pelari jarak jauh. Pakar 
ekonomi warga Inggris ini paham tentang seluk-beluk ekonomi Indonesia. 

Ia pernah bertugas di kantor perwakilan di Jakarta sebagai staf ekonomi senior, 
kemudian dipindahkan ke Hanoi sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Dunia di 
ibu kota itu. Pengalaman di Vietnam itu agaknya amat berguna dalam mengikuti 
perkembangan ekonomi Indonesia. 

Andrew Steer menerangkan bahwa Kantor Perwakilan Bank Dunia di Indonesia telah 
bertahun-tahun mendukung sebuah Program Analisis Kemiskinan di Indonesia. 
Agaknya, pangkal tolak pemikiran adalah kalau peta persoalannya tidak diketahui 
secara konkret, sulit untuk menangani penyelesaiannya. 

Menurut Pak Andrew, sejumlah ahli yang dipimpin Jehan Arulpragasam dan Vivi 
Alatas, telah membukukan hasil analisis bertahun-tahun itu (antara lain, dengan 
bantuan Bappenas dan Badan Pusat Statistik) dalam sebuah laporan berjudul 
Making the New Indonesia Work for the Poor, setebal 318 halaman. Ikhtisar dalam 
bahasa Indonesia setebal 50 halaman telah diterbitkan, judulnya Era Baru dalam 
Pengentasan Kemiskinan di Indonesia. 

Ikhtisar ini agaknya patut menjadi bacaan wajib bagi semua yang memikul 
tanggung jawab di pemerintahan (pusat dan daerah), badan-badan legislatif, 
dunia perguruan tinggi, para usahawan di perusahaan-perusahaan, para rohaniwan, 
aktivis LSM, dan rekan-rekan media. Kemungkinan besar ikhtisar tersebut sudah 
terpasang di website Perwakilan Bank Dunia Jakarta. 

Mengapa membaca ikhtisar itu begitu penting? Karena kita perlu menanam realisme 
tentang situasi kondisi seluruh bangsa, supaya derap langkah kita di tahun 2007 
lebih terarah. 

Dalam pengantarnya, Dr Andrew Steer menyebut bahwa laporan ini menganalisis 
sifat multidimensi dari kemiskinan di Indonesia. Tujuannya agar Indonesia dapat 
menyesuaikan kebijakan dan program secara lebih baik, agar dapat mencapai 
tujuan pengentasan kemiskinan. Tentang tolok ukur siapa yang dianggap miskin 
bisa diperdebatkan panjang, namun kita menghindarkan dulu perdebatan yang 
demikian. 

Dalam laporan versi bahasa Inggris, ada bagian yang khusus menyentuh konsep 
kemiskinan yang dimaksud Bank Dunia (halaman 25-27), dengan menerapkan ukuran 
mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan US$ 2 per hari dan US$ 1 per hari. 

Penggunaan mata uang dolar AS di sini bukan berarti Anda menghitung menurut 
kurs di pasar dalam rupiah, tapi berdasarkan daya beli di negeri bersangkutan, 
atau meminjam istilah para pakar ekonomi purchasing power parity (PPP). 

Namun, amat membantu kalau kita kaitkan status "miskin" ini dengan kondisi 
mereka yang sulit mendapat akses ke pasar (untuk menjual hasil bumi), fasilitas 
sekolah, kesehatan masyarakat, air bersih, lowongan pekerjaan yang dapat 
memenuhi kebutuhan pokok keluarga. 

Sungguh menggembirakan bahwa Laporan Bank Dunia tentang Pengentasan Kemiskinan 
itu menyebutkan bahwa angka kemiskinan yang meningkat lebih dari sepertiga kali 
selama masa krisis (mulai 1997), telah kembali pada kondisi sebelum krisis. 

Namun, ditambahkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan 
penghasilan kurang dari US$ 2 per hari, hampir sama dengan jumlah total 
penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari dari semua 
negara di kawasan Asia Timur, kecuali Tiongkok. 

Mereka yang hidup di bawah US$ 1 per hari, menurut laporan itu, digolongkan 
sebagai "amat miskin", dan jumlahnya memang kecil (7,4 persen). Tapi mereka 
yang hidup antara garis kemiskinan US$ 1 per hari dan US$ 2 per hari besar 
sekali, mencapai 42 persen! 

Laporan Bank Dunia tentang Pengentasan Kemiskinan memberikan peta distribusi 
kategori yang besar ini. Menurut sebuah perkiraan, jumlahnya sekitar 100 juta 
dari jumlah total rakyat Indonesia 230 juta. 

Hal yang positif dari laporan itu adalah, bahwa ia tidak melulu memberikan 
gambaran yang depresif saja, tetapi juga memberikan usul-usul yang konkret 
sebagai jalan keluar. 

Patut dicatat, bahwa kenaikan harga BBM pada Oktober 2005, menyebabkan angka 
kemiskinan meningkat drastis karena harga beras melonjak secara mencolok (33 
persen) antara Februari 2005 dan Maret 2006. 


u 


Apakah temuan BPK seperti yang disampaikan Dr Anwar Nasution tentang gejala 
penyimpangan dalam mengelola anggaran belanja negara yang menjurus ke korupsi 
itu membuat kita hilang semangat dan bersikap pasrah? Apakah Laporan Bank Dunia 
tentang kemiskinan di Indonesia seperti disampaikan oleh Kepala Kantor 
Perwakilan lembaga internasional tersebut mendorong kita bersikap pesimistis 
menatap masa depan Indonesia dalam memasuki tahun 2007? 

Setelah pertemuan di BPK itu, saya menumpang mobil Bung Tomy (Suryopratomo), 
Pemimpin Redaksi harian Kompas. "Coba Indonesia mempunyai 10 tokoh seperti 
Anwar, peta situasi akan lain," saya berkata secara bergurau. 

Kebetulan saya agak kenal watak Bung Anwar, karena sudah lama berkenalan 
meskipun tidak selalu berurusan. Sikap "no-nonsense" itu yang perlu 
disebarluaskan di berbagai lembaga negara. Apa yang dia ingin tekankan malam 
itu agaknya: "Hormati uang anggaran belanja negara, karena itu hak rakyat." 

Meskipun hasil yang dicapai BPK belum seberapa, tetapi perlu ditindaklanjuti 
secara gesit oleh DPR, Polri, dan Kejaksaan Agung, serta harus diramaikan oleh 
pemberitaan media pers. Seperti juga koran-koran besar di negara-negara Barat 
dan Jepang, media di Indonesia perlu memiliki redaktur yang mampu menganalisis 
neraca keuangan dan paham akan seluk-beluk APBN. 

Di satu sisi, memang kita terkejut mendengar dana-dana anggaran belanja dalam 
jumlah besar ditangani seenaknya saja. Namun, di sisi lain, menatap Bung Anwar 
Nasution malam itu (tembak langsung, tidak mempercantik masalah dan suatu tekad 
tanpa teriak-teriak) memimpin BPK dan terus mengembangkannya, maka bersama 
lembaga lain dan tokoh-tokoh yang juga committed, masalah korupsi tidak 
mustahil dapat dibendung. 

Demikian juga agaknya dengan masalah kemiskinan. Sudah pasti bukan maksud Dr 
Andrew Steer dan Perwakilan Bank Dunia untuk membuat kita pesimistis. Bahkan di 
halaman 10 dalam ikhtisar laporan dicetak tebal: "Indonesia memiliki peluang 
emas untuk mengentaskan kemiskinan dengan cepat". Setelah diuraikan 
argumentasinya, maka judul paragraf yang berikut (juga dengan huruf tebal): 
"Tantangannya adalah bagaimana membuat 'Indonesia baru' itu bermanfaat bagi 
penduduk miskin". 

Ternyata dana yang dikelola negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat 
biasa besar sekali. Meningkatnya harga minyak dan gas di pasar dunia dan 
dikuranginya subsidi BBM telah memperbesar kue ekonomi. 

Asal saja kebocoran-kebocoran yang parah ditutup (karena itu pekerjaan BPK 
penting sekali) dan dana yang tersedia dimanfaatkan secara tepat dan terarah 
(karena itu Laporan Bank Dunia untuk Pengentasan Kemiskinan amat berguna untuk 
mendukung Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan/SNPK), maka pada tahun 
2007, kita sebagai bangsa tidak perlu bersikap menyerah atau pasrah menghadapi 
masalah korupsi dan masalah kemiskinan. Dalam bahasa Inggris: "It is a winnable 
war", atau suatu peperangan yang dapat dimenangkan. 


Penulis adalah pengamat masalah perkembangan dalam negeri dan hubungan 
internasional. 




Last modified: 1/1/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke