REFLEKSI:  Berkekat kemerdekaan dilimpahkan? Syukuralhamdullilah? 

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/01/12/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Kepemilikan Saham Asing di Perbankan Tidak Dibatasi
 

Dua Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru, Muliaman D Hadad (kanan) dan S 
Budi Rochadi (tengah) mengucapkan sumpah jabatan pada acara pelantikan di 
Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (11/1). Muliaman menggantikan Maman 
Soemantri sebagai Deputi Gubernur BI bidang Pengaturan Perbankan dan Budi 
Rochadi menggantikan Maulana Ibrahim sebagai Deputi Gubernur BI Bidang Sistem 
Pembayaran dan Pengedaran Uang. [Pembaruan/Ignatius Liliek] 


[JAKARTA] Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak akan mengeluarkan aturan yang 
membatasi kepemilikan saham investor asing di perbankan nasional. Penegasan itu 
disampaikan menanggapi pertanyaan wartawan kemungkinan regulator baik 
pemerintah maupun bank sentral Indonesia mengikuti kebijakan pemerintah 
Thailand. 

Deputi Gubernur BI bidang stabilitas sistem keuangan, Muliaman D Hadad sesaat 
setelah dilantik menggantikan Maman H Somantri di Jakarta, Kamis (11/1) 
mengatakan, hingga saat ini bank sentral belum berkeinginan untuk melakukan hal 
itu. 

Untuk saat ini, tutur Muliaman, BI tetap akan memfokuskan pada upaya 
mempercepat konsolidasi perbankan dan mendorong fungsi intermediasi. 

"Saya kira kita tidak berpikir ke arah sana (pembatasan asing)," kata Muliaman. 

Menanggapi hal itu, Analis Perbankan Ryan Kiryanto mengatakan, sulit bagi 
negara yang telah menerapkan sistem devisa bebas dan kontrol mata uang ke 
pasar, lalu mengubahnya ke sistem devisa dan mata uang yang dikontrol. 

Ryan yang juga menjabat sebagai Senior Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk, 
(BNI) menambahkan, Indonesia sulit keluar dari sistem devisa bebas, karena 
terikat dengan penandatanganan traktat WTO. 

"Jika sistem ini diubah, maka Indonesia akan dianggap berlaku tidak adil, 
sehingga tidak akan disukai oleh pelaku pasar," kata Ryan. 

Hal yang bisa dilakukan pemerintah maupun bank sentral yakni melepas 
kepemilikan ke pasar maksimal 49 persen, sehingga kontrol tetap di pemerintah 
selaku pemegang saham pengendali. 

Indonesia, tutur Ryan, tidak perlu mengikuti jejak Pemerintah Thailand, sebab 
yang harus dipikirkan bersama oleh pemerintah dan bank sentral yakni bagaimana 
meyakinkan para investor yang selama ini menempatkan investasinya di portofolio 
keuangan dikonversi dalam bentuk investasi di sektor riil. 


Pelonggaran 

Seusai pelantikan Deputi Gubernur BI, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Agus 
Martowardojo mengatakan, kalangan perbankan meminta BI untuk melonggarkan 
beberapa aturan, agar bisa mendorong pertumbuhan kredit tahun ini. 

Misalnya, aturan batas maksimum penyaluran kredit (BMPK) serta penilaian 
prospek usaha menjadi hal yang penting diperhatikan agar tidak menjadi ganjalan 
bagi penyaluran kredit. 

Perbankan, kata Agus, menunggu sikap yang akan disampaikan BI dalam Banker 
Dinners yang akan dilaksanakan pada Jumat (12/1) malam. 

"Masyarakat perbankan menginginkan penilaian kolektibilitas didasarkan pada 
bisnis, prospek, serta laporan keuangan," kata Agus. 

Sebab, dalam menganalisa kondusif tidaknya perusahaan atau sektor riil tidak 
cukup dengan hanya melihat laporan rugi laba dan laporan neracanya. Jadi, kalau 
aliran kasnya baik, tentu bisa menjadi satu proyek yang layak dibiayai. Dengan 
mengadopsi prinsip seperti itu, maka perusahaan baru yang masih terlihat 
merugi, tetapi memiliki arus kas yang baik, tentu bisa memperoleh pembiayaan 
bank. 

Dikatakan, fakta membuktikan, banyak perusahaan yang baru berdiri kesulitan 
untuk mendapatkan kredit. Hal ini karena mereka belum memiliki laporan keuangan 
yang menunjukkan laba positif. Padahal, banyak di antara mereka memiliki 
prospek usaha yang cerah. 

Kementrian Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah pernah memperkirakan, tahun ini 
tercipta 700.000 usaha baru terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Seperti diketahui, kendala UMKM selama ini yakni mereka tidak memiliki 
pencatatan dan administrasi keuangan yang baik, sehingga sulit menyajikan 
laporan keuangan yang layak dan memenuhi standar bank. 

Untuk pelonggaran BMPK, Agus, menilai perlu dilakukan guna memberikan ruang 
pembiayaan terhadap perusahaan yang saat ini banyak sekali memiliki afiliasi. 
Apalagi, saat ini banyak perusahaan melakukan kerja sama untuk menggarap 
proyek-proyek besar. 

"Misalnya, proyek seperti PLN dan Jasa Marga kalau seandainya mereka joint 
venture dengan perusahaan lain kan jadinya mereka ada di mana-mana, sehingga 
seolah-olah ada pelampauan BMPK," kata Agus. 

Hal-hal seperti itu yang akan diminta agar dievaluasi, sehingga perbankan lebih 
fleksibel menjalankan fungsi intermediasi. [B-15] 


Last modified: 12/1/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke