http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=266236
Sabtu, 13 Jan 2007, Krisis Jodoh Ancam Pria Tiongkok Terutama Terjadi di Pedesaan BEIJING - Pemerintah Tiongkok bakal mengalami masalah kependudukan yang cukup menyulitkan 13 tahun mendatang. Ini terkait dengan perkiraan bahwa pada 2020, populasi penduduk Tiongkok bakal mencapai 1,45 miliar dengan perbandingan yang terlalu senjang. Jumlah laki-laki usia menikah 30 juta lebih banyak daripada perempuan dalam rentang usia yang sama. Dengan perbandingan yang njomplang tersebut, dipastikan sangat banyak pria yang sulit mendapatkan istri. Terutama mereka yang tinggal di pedesaan serta tingkat pendidikan dan pendapatannya rendah. "Diskriminasi terhadap perempuan merupakan penyebab ketidakseimbangan jenis kelamin itu," ujar Liu Bohong, wakil direktur pusat studi perempuan All-China Women's Federation. Sejak 1973, Tiongkok memang menerapkan kebijakan satu anak dalam satu keluarga. Akibatnya, keluarga-keluarga di negeri komunis tersebut lebih memilih anak laki-laki daripada perempuan. Pertimbangannya laki-laki lebih mudah bekerja. Apalagi, meskipun menikah, mereka tidak meninggalkan orang tuanya. Dengan demikian, saat berusia lanjut, sang orang tua tetap bisa bergantung kepada putranya. Karena itu, tidak jarang orang tua menggugurkan kandungannya saat mereka tahu si jabang bayi berjenis kelamin perempuan. Meski praktik pemilihan jenis kelamin dilarang pemerintah, jumlah yang melakukan aborsi janin perempuan terus bertambah, terutama di pedesaan. Kendati ketidakseimbangan gender mulai terasa, pemerintah Tiongkok tetap mempertahankan kebijakan satu anak tersebut. Menurut laporan Komisi Perencanaan Keluarga dan Penduduk kemarin, rasio kelahiran bayi laki-laki dan perempuan selama 2005 mencapai 118 : 100. Di wilayah pedesaan, perbandingannya malah mencapai 130 bayi laki-laki dan 100 bayi perempuan. Di wilayah industri yang lebih maju, perbedaannya tidak terlalu jauh, yakni antara 104:100 atau 107:100. Selain banyak laki-laki usia menikah yang sulit mendapat istri, Tiongkok juga bakal mengalami ketidakstabilan dalam dunia kerja. Jumlah pencari kerja bakal tidak seimbang dengan lowongan pekerjaan yang tersedia. Diperkirakan pada 2016, jumlah tenaga kerja usia 15-64 mencapai 1,01 miliar atau jauh di atas jumlah total angkatan kerja di negara-negara maju. Laporan tersebut juga memperkirakan banyak tenaga kerja Tiongkok yang tidak sesuai dengan standar internasional. Kebijakan satu anak juga membuat kondisi demografis Tiongkok tidak menguntungkan. Sebab, jumlah penduduk usia lanjut bakal lebih banyak. Pada 2020, mereka yang berusia di atas 60 tahun mencapai 234 juta atau 16 persen dari total penduduknya. Jumlah tersebut kurang lebih sama dengan separo dari total penduduk usia lanjut di Asia. Akibatnya, Tiongkok harus menanggung beban pensiun yang lumayan tinggi. (ap/chinadaily/any) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
