http://www.indomedia.com/bpost/012007/15/depan/utama1.htm

Sri Bintang Ditangkap

  a.. Desakan cabut mandat Yudhoyono menguat 
  b.. Hari ini massa demo depan Istana 
  c.. KAHMI bela Yudhoyono 
  d.. Andi: Mereka kebelet berkuasa 


Jakarta, BPost
Gerakan menggugat kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Wapres Jusuf 
Kalla, kian menguat. Polri pun bersikap keras. Aktivis Sri Bintang Pamungkas 
ditangkap karena memasang baliho mengecam pemerintah. 

Penangkapan terhadap pendiri Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) ini 
dilakukan oleh Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Polisi Rajiman Tarigan beserta 
sejumlah anak buahnya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu 
(14/1).

Saat itu Bintang dan belasan aktivis yang tergabung dalam Dewan Revolusi sedang 
memasang sejumlah baliho bertuliskan, No Trust, No More Lies, No More 
Corruption, No More Death, Down, di depan Hotel Indonesia, Plaza Indonesia dan 
Kedubes Inggris.

Semula tidak ada insiden. Polisi yang berjaga di kawasan itu hanya melihat 
kesibukan para aktivis memasang baliho-baliho itu. Namun, tiba-tiba datang 
sebuah mobil polisi yang dinaiki Rajiman dan sejumlah anak buahnya. Begitu 
keluar dari mobil, mereka langsung berusaha merebut baliho itu. 

Tarik menarik pun terjadi. Melihata ini, Bintang mendekat. Namun dia didorong 
dengan keras oleh seorang polisi, sehingga terhuyung-huyung. Belum cukup, dua 
polisi berpakaian preman memiting dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Begitu 
pintu ditutup, mobil itu melaju dengan kencang ke Polres Jakarta Pusat. Aparat 
pun menyita seluruh baliho.

"Mereka diamankan karena memasang baliho tanpa izin. Itu saja, lainnya saya 
tidak tahu," kata Rajiman.

Dihubungi via telepon, Bintang menyesalkan tindakan aparat itu. "Mereka 
represif, tidak ubahnya Orde Baru. Kalau dulu Soeharto kejam dan tidak dapat 
memperbaiki keadaan rakyat, sekarang ini saja. 

Banyak penderitaan yang dialami rakyat. Kami akan terus berjuang," tegas 
laki-laki yang dalam pemeriksaan menolak didata identitas dirinya ini dengan 
alasan bukan pelaku kejahatan.

Hingga dinihari tadi, Bintang masih menjalani pemeriksaan secara 
tertutup.Antipemerintah

Tindakan yang dilakukan Bintang Cs ini merupakan bagian gerakan antipemerintah 
yang akhir-akhir ini kian bergaung. 

Mereka tergabung dalam Dewan Revolusi yang beranggotakan sejumlah tokoh seperti 
mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto, 
Muhammad Edwin Ermansyah (Sekjen Partai Serikat Islam), Ridwan Saidi 
(budayawan/tokoh Betawi), Franky Sahilatua (pemusik), Bintang dan sejumlah 
aktivis pro-demokrasi. 

Awal tahun ini, mereka menggelar Kongres Rakyat Indonesia yang secara tajam 
mengritik kepemimpinan Yudhoyono dan Kalla. Mereka menilai kebijakan pemerintah 
selalu tidak berpihak kepada rakyat. 

"Terakhir dengan keluarnya PP 37/2006 yang menaikkan tunjangan anggota dewan 
yang kerjanya terhadap rakyat juga tidak jelas. PP ini hanyalah bargaining 
politik untuk mengamankan kekuasaannya saja," tegas Tyasno saat itu.

Sebelumnya, sejumlah tokoh nasional yang dikoordinir mantan Wapres Try Sutrisno 
juga bersuara keras. Dengan bernaung dalam lembaga Gerakan Kesatuan Indonesia 
Raya (GKIR) mereka mewacanakan gerakan mencabut mandat yang diberikan kepada 
Yudhoyono-Kalla. 

Goyangan terhadap pemerintah juga dilakukan PDIP. Ketua umumnya, Megawati 
Soekarnoputri dengan lantang menilai pemerintah hanya sibuk tebar pesona, bukan 
tebar kinerja. Sehingga kondisi negara ini pun tidak kunjung membaik, namun 
sebaliknya justru kian terpuruk. Kabarnya, mantan KSAD Ryamizard Ryacudu pun 
merapat ke Mega. Pawai Rakyat

Bahkan, hari ini tokoh Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), Hariman Siregar 
berencana mengerahkan ribuan orang untuk mengikuti Pawai Rakyat Cabut Mandat di 
depan istana. Hariman yang kini aktif di Indemo menegaskan aksi ini adalah 
puncak ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah. 

"Sekarang ini, tidak ada yang untuk rakyat. Rakyat hanya dijadikan objek 
saja.Ini yang mau kita coba lawan dalam aksi nanti. Kita sudah beri mandat tapi 
jangan dikira kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kita tidak begini, keadaan 
kita tidak akan berubah hingga 2009," tandasnya. 

Mengenai tudingan aksinya itu merupakan makar, Hariman mengatakan dirinya tidak 
peduli. 

"Saudara Presiden, saudara jangan enak-enak saja. Jangan dikira setelah 
mendapat mandat kemudian tidak bisa digugat. Jelas, kita tidak puas dan kecewa 
dengan pemerintahan ini, cuma wacana-wacana saja. Persetan ini dibilang makar. 
Makar pakai apa? Ndak benar itu. Jika ada kekacauan saya yang bertanggung 
jawab," tegasnya.

Gerakan Hariman ini memancing reaksi. Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam 
(KAHMI) siap menandingi aksi tersebut. 

"Ini peringatan saja bagi mereka yang ingin melakukan aksi besar-besaran pada 
15 Januari. Kalau sekadar ingin mempromosikan jati diri silahkan, tapi kalau 
mereka sampai berusaha menjatuhkan Yudhoyono, maka muncul kelompok lain jauh 
lebih besar yang akan mereka hadapi," ancam Ketua Presidium Nasional KAHMI Asri 
Harahap di Jakarta.

Menurutnya, kinerja pemerintahan memang tidak menunjukkan perbaikan yang 
signifikan. Tetapi arah perbaikan sudah terlihat. 

"Menurunkan Yudhoyono-Kalla dengan impeachment atau cara di luar koridor 
konstitusional bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Kita harus memahami keadaan 
ini, makanya semua pihak harus mampu menahan diri sampai Pemilu 2009," 
katanya.Belum Tercapai

Menyikapi aksi-aksi ini, Yudhoyono menyangkal jika pemerintah tidak prorakyat. 
Kalau ada yang bilang pemerintah tidak tahu masalah dan tidak mengembangkan 
kebijakan prorakyat. Tentu itu salah dan Keliru," katanya di Istana Merdeka, 
Selasa kemarin. 

Kendati demikian, Yudhoyono mengaku belum mencapai sasaran yang 
dicita-citakannya dalam memangku jabatan sebagai presiden.

"Memang benar semua sasaran itu belum dapat kita capai dalam jangka pendek. Itu 
harus saya akui. Dan memang belum semua," ujarnya.

Untuk itu, pemerintah akan berusaha dan bekerja sekuat tenaga agar kebutuhan 
yang menjadi cita-cita bersama tersebut dapat dipenuhi. "Hal ini kita lakukan 
sambil terus meletakkan landasan yang kokoh bagi bangunan ekonomi makro 
nasional kita," ujarnya. 

Suara lebih keras dilontarkan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng. "Kami tidak 
tahu maksudnya apa, mencabut mandat dengan mengatasnamakan rakyat. Presiden 
tidak dapat dicabut oleh orang atau sekelompok orang. Sesuai konstitusi, mandat 
hanya dapat dicabut oleh semua rakyat lewat pemilihan umum," ujarnya. 

Dia pun balik menyindir, tokoh-tokoh itu sudah kebelet ingin duduk di kursi 
kekuasaan.

"Ingin menjadi presiden boleh, ingin mendirikan partai politik boleh, tapi 
sabar sedikit," tukas Andi. JBP/tar/dtc/ant 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke