http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=280415&kat_id=16

Sabtu, 27 Januari 2007


SBY dalam Paham Kekuasaan Jawa 
Oleh : 
DT Rimbawan
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik UI


Dalam Pemilihan Presiden 2004, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus berhadapan 
dengan Megawati, Wiranto, Amien Rais, dan Hamzah Haz. Sejarah Indonesia telah 
mencatat bahwa partai politik Islam, belum pernah keluar sebagai pemenang, 
kendati Islam menjadi agama mayoritas penduduk negeri ini. Boleh jadi, hal ini 
terjadi karena beragamnya aliran dalam Islam. Sehingga di zaman Bung Karno, PNI 
yang memimpin; dan di zaman Pak Harto, Golkar yang tampil. Oleh catatan itu, 
maka Amien dan Hamzah 'dipaksa' keluar dari arena pertandingan.

Huntington (1968) mengatakan bahwa partai politik yang telah mempunyai umur 
cukup dan ditata secara baik, akan mampu menjadikan kadernya sebagai pimpinan 
nasional. Dengan demikian semestinya SBY harus 'dicoret' dari daftar kandidat. 
Partai Demokrat yang dipimpinnya baru didirikan, sehingga belum teruji. 
Perolehan suaranya di parlemen hanya 7 persen lebih sedikit. Mirip dengan PAN 
dan PKS.

Kemudian ada sebagian masyarakat yang mengatakan, karena SBY tampan dan pandai 
menyanyi, maka ia keluar sebagai pemenang. Tetapi Wiranto tak kalah tampan dan 
suaranya pun merdu. Analisis cara beauty contest ini pun hanya sebatas seloroh. 
Sama halnya, kemenangan SBY karena fenomena 'demam sinetron' --sebuah sikap iba 
kepada tokoh yang dipojokkan dan diperlakukan tidak adil. Hal ini telah saya 
buktikan dalam sebuah penelitian di tahun 2006, sebagai sesuatu yang tidak 
valid.

Perspektif Jawa
Lantas faktor apa yang menjadikan SBY menjadi seorang presiden? Saya mencoba 
untuk menganalisis lewat perspektif Jawa. Sebab dalam masa pemilihan presiden, 
paling sedikit SBY telah berziarah ke makam Sultan Agung --di Imogiri-- 
sebanyak dua kali. Dari sudut analisis Jawa, kekuasaan negara selalu dipegang 
oleh orang yang mendapat mandate of heaven berupa wahyu, oleh karena raja 
merupakan 'wakil' Tuhan, yang mampu memancarkan sifat-sifat-Nya. 

Sehingga dalang sering menggambarkan raja sebagai pemimpin yang selalu 
memberikan sedekah, makanan kepada yang lapar, pakaian kepada yang telanjang, 
hiburan kepada yang sedih, payung kepada yang kehujanan, tongkat kepada yang 
tergelincir, suluh bagi yang kegelapan, sampai ditebasnya belukar bila 
bertumbuh rapat (Moertono, 1985). Sosok pemimpin juga memiliki pengetahuan yang 
luas namun tidak merendahkan pengetahuan orang lain. Pribadinya adil dan 
berwibawa, murah hati pada rakyat dan dicintai para ulama. Oleh karena itu 
imajinasi orang pada raja adalah mengayomi.

Sedangkan wahyu itu sendiri menjelma dalam sikap waskita dan wicaksana. 
Waskita, mampu menerawang dan melihat segala persoalan. Sedangkan wicaksana 
dapat menyelesaikan segala persoalan. Apabila SBY menjadi presiden karena 
wahyu, tentunya ia mempunyai pribadi yang tidak saja baik, namun diharapkan 
dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

SBY dilantik pada tanggal 20 Oktober 2004. Belum genap sebulan ia menjadi 
presiden telah terjadi kecelakaan di jalan tol pada 17 November 2004. Peristiwa 
yang kemudian mengawali serangkaian musibah yang tak kunjung habis. Sampai 
terjadinya gempa di Manado pada tanggal 21 Januari 2007 lalu. 

Bencana yang terjadi dalam pemerintahan SBY, dapat digolongkan karena pertama, 
faktor alam yang tidak mungkin dikendalikan (tsunami dan gempa). Kedua, faktor 
kelalaian manusia (kecelakaan pesawat, helikopter, kapal, kereta api, angkutan 
darat, lumpur Lapindo, flu burung, kebakaran hutan, banjir, dan seterusnya). 
Dan yang paling menyedihkan adalah kelaparan di saat jamaah Indonesia 
menunaikan ibadah haji. Sebuah keteledoran yang dalam sejarah pemerintahan 
belum pernah terjadi.

Geldern (1956) menerangkan tentang kosmologi, dengan menekankan bahwa jagat ini 
terdiri atas makrokosmos dan mikrokosmos (alam semesta dan dunia manusia). 
Antara kedua alam ini terdapat hubungan yang terus menerus, tetapi kedudukan 
alam manusia tidak setara dengan kedudukan jagat raya. Makrokosmos mempunyai 
pengaruh yang sangat besar terhadap mikrokosmos. Pengaruhnya dapat 
menguntungkan atau merugikan bagi manusia. Hal tersebut bergantung pada 
berhasil atau tidaknya seorang raja dalam menciptakan keselarasan dan 
keharmonisan dengan jagat raya.

Kita kemudian dapat menepis bahwa gempa juga terjadi di negara A. Tsunami juga 
terjadi di negara B. Kebakaran juga terjadi di negara C, dan seterusnya. Namun 
musibah yang 'paripurna' dan terus-menerus, hanya terjadi di Indonesia. 
Aristoteles telah meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan 
ilmiah melalui pendekatan empiris dengan mengandalkan pada kemampuan indera 
(mata dan telinga). Pendekatan ini kemudian dikenal dengan metode empirisme 
atau induktif. Dalam hal ini, pengetahuan ilmiah diperoleh dengan cara 
mengambil konklusi umum atau generalisasi dari sejumlah kejadian, baik fenomena 
alam maupun persoalan sosial yang bersifat kasuistik (Suriasumantri, 1984). 

Dengan demikian, apakah memang tidak ada kaitan antara SBY dan musibah yang 
beruntun? Atau justru sebaliknya. Tugas pemimpin atau raja, tentunya harus 
dapat mengharmonisasi antara makrokosmos dan mikrokosmos, sehingga keduanya 
menjadi selaras. Rasa gelisah rakyat yang hanya mampu makan nasi aking atau 
mengantre berjam-jam untuk seliter minyak tanah akan ditangkap oleh alam. 
Sinyal inilah yang kemudian diteruskan menjadi bencana oleh alam. 

Purwadi (2004), mengatakan bahwa 'kontrak' antara Tuhan dan raja akan berakhir, 
apabila perilakunya tidak lagi mencerminkan sifat Tuhan. Raja telah melanggar 
wewaler (pantangan). Ancaman pada penguasa yang terbesar bukanlah dari luar, 
melainkan dari dalam dirinya. Misalnya tidak samanya antara kata dan perbuatan 
(kata yang diucapkan seorang raja adalah sabda pandita ratu) atau raja telah 
mempunyai pamrih. Menurut hemat saya, SBY tidaklah harus bersikeras untuk 
menepis itu semua. Semakin dipungkiri, maka makrokosmos dan mikrokosmos, tidak 
akan mencapai titik temu. Sementara ia merupakan sosok yang harus menjadi 
jembatannya.


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke