RIAU POS

      Selamat Tinggal Negara Agraria        

      24 Februari 2007 Pukul 08:54  
      Beras naik lagi! Begitu kira-kira bunyi petikan berita yang menghiasi 
media massa di negeri kita belakangan. Seperti biasanya, jeritan dan teriakan 
bernada menggugat turut menyemarakkan permasalahan yang selalu terjadi tiap 
tahun ini. Bentuk pengulangan yang cukup menjemukan memang. Entah apakah ini 
sudah menjadi kultur atau urf di negeri kita, bahwa sesuatu akan dikatakan 
persoalan apabila ia telah berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat, 
menimbulkan gejolak, membuat kisruh di tengah masyarakat.     Mencuatnya 
kembali persoalan kenaikan harga beras baru-baru ini, seakan melengkapi 
prestasi pemerintah yang kembali disibukkan dengan pengentasan masalah di 
lapangan. Di antaranya dengan mengadakan Operasi Pasar (OP). Meskipun di 
lapangan kebijakan ini menuai berbagai kritik dan cemoohan -mengingat tidak 
sedikitnya mesyarakat yang menjadi korban dalam antrian untuk mendapatkan beras 
murah. Tetapi nampaknya pemerintah tidak ambil peduli, dan memandang peristiwa 
yang selalu berkutat dengan masyarakat miskin tersebut sebagai sebuah 
kecelakaan yang bersifat situasional.

       
      Ketergantungan
      Di sisi lain, stabilnya keadaan stok pangan dalam negeri secara strategik 
tentu akan menghindarkan bangsa kita dari apa yang dinamakan ''ketergantungan 
adiktif''. Sikap inilah yang ingin kita bentuk dalam benak bangsa yang sudah 
terkenal dengan sektor agrarianya. Di samping itu perubahan pola pikir ini juga 
sebagai bentuk implementasi dari komitmen pemerintah beberapa saat yang lalu 
diucapkan secara lansung oleh presiden, tentang sudah saatnya Indonesia 
berswasembada beras. Apalagi dilihat dari faktor penunjang, di antaranya faktor 
geografis, gagasan revolusioner tersebut bukanlah sesuatu yang uthopis untuk 
direalisasikan. Munculnya kepahaman yang paripurna mengenai konsep ketahanan 
pangan dalam negeri tersebut, sejatinya akan terwujud jika pemerintah lebih 
memperhatikan produktivitas beras.

      Keprihatinan terhadap dampak buruknya pengelolaan beras dalam negeri, 
seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, secara bertahap akan memenjarakan 
bangsa ini ke dalam terali anti-kemandirian. Dengan impor beras sebagai 
bentuknya. Keseringannya pemerintah mengambil kebijakan ini sebagai alternatif 
utama untuk mengatasi naiknya harga beras di pasaran, menyiratkan betapa 
terbatasnya alur berpikir para pembuat kebijakan kita. Secara manajerial, 
tindakan mengimpor beras hanya berorientasi pada pemenuhan keperluan jangka 
pendek. Sehingga dalam realitanya, langkah yang selalu dipakai selama beberapa 
tahun belakangan itu terkesan temporer. Karena langkah inilah yang paling mudah 
untuk mengatasi kenaikan beras. Sedangkan bila ditilik secara integral, langkah 
ini tidak akan mengeluarkan kita dari bayang-bayang kelangkaan beras untuk 
jangka panjang, yang menjadi suporter ultra dari naiknya harga di pasaran.

      Perlu Keseriusan 
      Keluarnya statemen dari Wakil Presiden Yusuf Kalla yang mengatakan bahwa 
tidak adanya ekses negatif impor beras terhadap para petani, semakin menguatkan 
dugaan kekurangmatangan para pengambil kebijakan dalam menganalisa semua sisi 
masalah. Pernyataan Wapres tersebut dinilai tak lebih baik dari sekadar 
smoothering language terhadap komentar miring seputar kebijakan impor beras 
-sebagaimana yang kita ketahui banyak pihak mengecam keputusan yang diklaim 
sangat merugikan para petani. Dari fakta yang ada, impor beras bagaimanapun 
akan mempengaruhi minat terhadap pemakaian beras domestik. Kemudian pada versi 
lain, adanya temuan tentang beberapa provinsi yang justru surplus stok beras, 
membuat keputusan impor beras perlu ditinjau ulang. Karena jika ini bisa 
ditindaklanjuti, kekurangan pangan yang ada di provinsi lain tentu akan bisa 
tercukupi melalui mekanisme pengalihan.

      Kemudian, untuk meminimalisir dampak kekurangan beras di pasar, 
diperlukan kajian mendalam yang menyertakan produktivitas sebagai variabelnya. 
Keperluan akan lahan tidak dapat dipahami secara parsial. Memang ada benarnya 
dari perkataan Wapres tadi dengan data-data yang dimilikinya mengenai masih 
sedikitnya sumbangsih pertanian dalam menyerap tenaga kerja. Setidaknya itulah 
yang terjadi ketika melihat pada konteks kekinian. Tapi -terlepas apakah ini 
sebagai bentuk kegagalan pemerintah memaksimalkan penyerapan tenaga kerja dari 
sektor agraria- ketidaksepadanan kontribusi ini tidak serta merta 
mengenyampingkan peran agraria. Oleh sebab itu, keperluan akan adanya 
ketersediaan lahan yang secara khusus diperuntukkan bagi tanaman pangan menjadi 
keharusan. Perlu diketahui, demi menjamin ketersediaan stok pangan dalam negeri 
ke depannya dibutuhkan peningkatan produktivitas 1,5 juta ton-1,6 juta ton. 
Berdasarkan perhitungan tersebut, keperluan akan lahan juga mengalami 
penambahan 100 ribu hektar sawah pertahun. Sedangkan untuk saat ini, sawah yang 
dikatakan produktif hanya 11 juta hektar pertahunnya. Hal ini diperparah lagi 
dengan tidak sedikitnya pemerintah daerah yang berlomba-lomba mendirikan 
kondominiun, real estate, dan bentuk pembangunan fisik lainnya, yang perlahan 
tapi pasti semakin mengepung lahan pertanian ke wilayah sempit. 

      Melihat kenyataan ini, potensi pemenuhan keperluan lahan untuk menopang 
sektor pangan diprediksi akan semakin berat ke depannya. Sebaliknya, apabila 
pemerintah dapat menghasilkan kebijakan yang lebih mengedepankan peningkatan 
produktivitas pangan, maka untuk yang akan datang kita tidak akan pernah lagi 
mengulang peristiwa sekarang. Lagipula bentuk kebijakan penyediaan lahan 
tersebut dapat disesuaikan dengan kelayakan dan kondisi geografi masing-masing 
daerah, atau dengan memilih daerah-daerah yang memiliki potensi ke arah yang 
dimaksud. Karena tidak muluk kiranya untuk dikatakan, peningkatan produktivitas 
pangan sangat tergantung pada besarnya lahan yang disediakan. Ambil contoh 
Riau. Selama periode 2004 terdapat peningkatan terhadap luas panen tanaman padi 
dari 132.887 hektare menjadi 145.098 hektare. Seiring dengan itu produksi pun 
ikut meningkat. Walaupun dari salah satu sisi, yakni produktivitas, pada tahun 
2004 ini tanaman padi sebesar 30,03 kuintal per hektar, dimana produksinya 
sebesar 453 712 ton Gabah Kering Giling. Akan tetapi secara eksplisit, langkah 
ini setidaknya dapat memberikan gambaran awal tentang hubungan antara lahan dan 
produktivitas. 

      Di samping itu, keperluan akan kebijakan yang menguntungkan petani juga 
sangat diharapkan. Karena bukan rahasia umum, petani selama ini justru 
kerepotan melayani target panen. Belum lagi ditambah dengan tidak menentunya 
harga pupuk dan unsur-unsur vital pertanian lainnya. Secara kasatmata, tuntutan 
''kejar tayang'' yang dalam pertanian diistilahkan dengan panen raya, juga 
mengalami hal yang serupa. Dilema inilah yang kerap menjadi biang keladi dari 
menurunnya produktivitas pangan dalam negeri. Dan ibarat penyakit, bertambahnya 
beban petani tersebut  baik berupa minimnya insentif yang diberikan ditambah 
lagi ketidakrasionalitasan tuntutan yang diberikan akan menggiring pertanian 
kita ke tepi jurang kehancurannya. Pada akhirnya kita pun hanya bisa berucap 
''selamat tinggal sebutan negara agraria''.***

      Yuda Indra, staf Kebijakan Publik, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim 
Indonesia Daerah Riau.  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke