http://www.banjarmasinpost.co.id/022007/24/opini/opini3.htm

 
Lingkaran Kengerian

DUNIA transportasi nasional kembali mengibarkan bendera duka. KM Levina yang 
membawa 307 penumpang, 42 truk, delapan mobil pribadi dan lima sepeda motor 
terbakar, Kamis (22/2) sekitar pukul 01.30 WIB, ketika bertolak dari Dermaga 
Pemberangkatan Nusantara II, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Pelabuhan 
Pangkalan Balam, Bangka Belitung. Sebanyak 17 orang meninggal akibat peristiwa 
tersebut.

Satu hari sebelumnya musibah juga terjadi. Pesawat Adam Air bernomor Kl-172 
dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta terhempas di landasan pacu Bandara Juanda 
Surabaya. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, tapi 148 penumpangnya syok 
dan sebagian menderita memar di kepalanya.

Begitu mengerikannya kah dunia transportasi nasional kita? Dari fakta yang ada, 
memang demikian adanya. Senyatanya saja, kecelakaan beruntun di atas 
seakan-akan menjiplak musibah serupa yang terjadi di penghujung 2006 dan awal 
2007. Di bulan sama, Desember 2006, KM Tristar I dan KM Senopati Nusantara 
karam dan menewaskan ratusan penumpangnya.

Tidak lama kemudian, 1 Januari 2007, pesawat Adam Air KI 574, rute 
Surabaya-Manado yang membawa 102 penumpang dan krunya, terbenam di perairan 
Sulawesi dan sampai sekarang jasad penumpang dan bangkai pesawat itu belum bisa 
dievakuasi.

Bertubi-tubinya musibah transportasi ini pun, menuai pertanyaan sangat 
mendasar. Apakah semua itu merupakan buruknya manajemen transportasi kita?

Jawabnya, ya! Memang sampai saat ini kepedulian pemerintah yang berhubungan 
dengan manajemen keselamatan transportasi masih tambal sulam, sehingga belum 
menyentuh akar persoalan. Bahkan bisa pula dikatakan, negara ini belum mampu 
menerapkan berbagai aturan atau regulasi baik yang bersifat nasional maupun 
internasional. 

Untuk transportasi laut, misalnya, pemerintah belum mampu mengatasi persoalan 
yang esensial. Salah satunya mengenai kelayakan kapal. Padahal, prinsip dasar 
keselamatan pelayaran menyatakan, kapal yang hendak berlayar harus berada dalam 
kondisi laik laut. Artinya, kapal harus mampu menghadapi berbagai hal termasuk 
ombak besar dan badai selama dalam pelayaran. Kelayakan kapal juga mensyaratkan 
konstruksi kapal, dan mesin harus dalam keadaan baik.

Bagaimana dengan transportasi udara? Sama saja. Manajemen keselamatan 
penerbangan masih sangat rapuh. Ini terlihat dari kurangnya sumberdaya manusia 
yang bisa menjamin 100 persen pesawat laik mengudara. Itu sebabnya, 
transportasi udara nasional kita tidak mampu mengikuti atau melaksanakan aturan 
nasional dan internasional tentang keselamatan penerbangan. 

Adalah suatu yang sangat riskan dan membahayakan jiwa penumpang, jika selama 
mengudara pesawat tidak disertai navigasi penerbangan yang baik. Hal demikian 
pernah terjadi di republik ini. Sebuah pesawat Boeing mendarat di tempat yang 
salah. 

Terlepas dari semua kasus tersebut, sudah saat pemerintah berupaya keras agar 
transportasi di Indonesia dapat keluar dari lingkaran kengerian. Dengan 
demikian, penikmat jasa transportasi tidak was-was selama berada dan 
perjalanan. Keinginan mereka cuma satu; "Jamin keselamatan kami." Manusia bukan 
barang bung!

++++

      RIAU POS

      Kisah Para Korban KM Levina yang Selamat 
           
      24 Februari 2007 Pukul 08:35  
      Dikira Simulasi, Abaikan Sinyal Kebakaran 
      Banyak kisah menarik yang dibawa para penumpang selamat dari KM Levina I 
yang terbakar di perairan Tanjung Karawang, sebelah utara Kepulauan Seribu. 
Laporan NANIK-ESA PUTRI, Jakarta 

      "Alhamdulillah saya selamat," ujar Maridi saat diwawancarai wartawan JPNN 
di Hotel Sepinggan, Jakarta Utara. Sebagian korban dikumpulkan di hotel 
tersebut.

      Maridi mengalami kebakaran di sekujur lengan kiri dan kanan serta kaki 
kiri dan kanan sebatas betis ke bawah. Dua lengan dan dua kakinya diperban. 
"Rasanya perih, tetapi saya masih bersyukur bisa selamat," ujarnya.

      Diceritakan, ia naik kapal itu bersama empat saudaranya, dua pasang 
suami-istri, yakni Yanti dan Sarmi, serta Lastri-Lardi (semuanya selamat). 
Tujuannya ke Bangka. 

      Maridi adalah penjual bakso di Bangka. Sudah empat tahun ia berdagang di 
sana. Asalnya dari Wonogiri, Solo, Jateng. "Semula saya jualan bakso di 
Jakarta. Tapi, karena kurang laku, saya pindah ke Bangka diajak teman. Katanya, 
di Bangka lebih menguntungkan," kata Maridi.

      Beberapa waktu lalu ia pulang ke Wonogiri. "Saat balik ke Bangka, saya 
mengajak empat saudara saya itu. Nah, waktu kami naik kapal Levina terjadilah 
kebakaran," tuturnya.

      Dikisahkan, saat kebakaran ia sedang tidur. Ketika ada pengumuman lewat 
pengeras suara ada kebakaran di dek I, Maridi terbangun. Ia terbangun bukan 
karena pengumuman tersebut, tetapi suara berisik penumpang yang berlarian 
menyelamatkan diri.

      Semula ia tak begitu menghiraukan. "Saya kira itu hanya simulasi 
kebakaran. Sebab, sudah beberapa kali ada simulasi," ujarnya. Maklum, ia sudah 
sering naik kapal tersebut. 

      Tidak ada satu makhluk atau barang di atas kapal yang tidak dicantumkan 
dalam manifes,'' tegasnya.

      Manifes sangat vital saat terjadi musibah. Selisih seorang penumpang saja 
bisa berakibat fatal. ''Ini persoalan nyawa seseorang. Kalau manifesnya benar, 
saat terjadi kecelakaan, kita langsung bisa mengecek siapa saja korbannya. Itu 
memudahkan pencarian korban dan evakuasi,'' ungkapnya.

      Akibat keteledoran operator KM Levina I, kata Hatta, ada selisih antara 
manifes dengan jumlah korban. Dalam manifes hanya ada 307 penumpang. 
Kenyataannya, yang sudah berhasil dievakuasi 316 penumpang. Di antara jumlah 
tersebut, 16 penumpang meninggal, tiga di antaranya bayi. Diperkirakan, belasan 
lainnya masih belum ditemukan. Gara-gara manifes yang tidak akurat, tim SAR 
menjadi ragu berapa sebenarnya korban yang masih belum ditemukan. 

      Saat ini, Hatta menginvestigasi lebih dalam tentang data korban yang 
akurat. ''Ini benar-benar pelanggaran berat. Artinya, si operator tidak 
melaporkan dengan jujur,'' ujarnya. 

      Mengenai penumpang yang belum ditemukan, kata Hatta, pihaknya masih 
mencarinya bersama Tim SAR. Sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No 36/2006 
tentang Pencarian oleh Tim SAR, pencarian korban dibatasi tujuh hari.     

      Hatta mengatakan bahwa investigasi yang dilakukan KNKT terus berjalan. 
''Kalau nanti operasi SAR dirasakan sudah maksimal, akan distop," lanjutnya.

       Menurut Hatta, Presiden SBY menginstruksikan untuk melakukan investigasi 
mendalam terhadap penyebab terjadinya musibah itu. ''Untuk sementara ini, 
menurut laporan awal dari KNKT, sumber kebakaran KM Levina berasal dari sebuah 
truk dan bukan dari kapal," ujarnya. 

       Melengkapi penjelasan Hatta, Sesditjen Perhubungan Laut Departemen 
Perhubungan Sri Untung mengatakan, setiap operator wajib menulis manifes yang 
akurat. ''Operator kapal harus mencatat dengan benar semua data penumpang, 
alamat, dan umurnya dengan jelas," tukasnya di Kantor Dephub kemarin. Dia 
menambahkan, berdasar manifes itu, bisa disiapkan alat pendukung keselamatan. 

      ''Jika penumpang dalam manifes ada 300 orang, tapi peralatan keselamatan 
hanya 250, syahbandar tidak boleh memberangkatkan kapal itu," lanjut Sri. 
Artinya, peralatan keselamatan harus meng-cover penumpang sesuai manifes. 

       Ketua Subinvestigasi Perhubungan Laut Komisi Nasional Keselamatan 
Transportasi (KNKT) Frans Wenas mengatakan, pihaknya akan menyelidiki kebakaran 
kapal bersama pihak kepolisian. ''Bila dalam penyelidikan ada barang berbahaya 
yang dimasukkan dalam kapal, pihak kepolisian akan melanjutkan proses 
investigasi ke peyidikan," ujar Wenas.

       Kapolri Jenderal Pol Sutanto menegaskan, pihaknya ikut turun tangan 
menyelidiki kebakaran yang terjadi pada KM Levina. Polisi memfokuskan 
pemeriksaan pada penyebab kebakaran yang hingga kemarin belum bisa dipastikan.

       "Setelah ada kesimpulan dari lapangan, tim yang turun, kami baru tahu 
dari mana api berasal," kata Kapolri usai lari pagi bersama jajaran TNI di bumi 
perkemahan Pramuka, Cibubur, kemarin.(jpnn) 
     



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke