Sebenarnya kalo kita semua mau jujur, pada realitasnya orang2 yang berpendidikan tinggi diseluruh dunia lebih tertarik kepada agama Buddha.
Biar gimanapun kita tak boleh bohong, bahwa memang agama Buddha yang terbaik. Aku bilang dengan sebenarnya bebas dari kepercayaan, bahkan aku sendiri bukanlah beragama buddha tapi beragama Islam. Namun aku tidak bisa menyangkal kenyataannya. Meskipun benar bahwa kualitas agama Buddha terbaik adanya, bukanlah berarti aku enggak menemukan banyak sekali kelemahan2nya. Kelemahan2 ajaran Buddha tetap saja banyak, namun tidaklah separah agama2 lainnya selain tidak masuk akal, juga melanggar HAM. Dalam hal inilah ajaran Buddha lebih baik. Kalo mau menilai agama Islam, Hindu, Kristen, Yahudi, maka kesemuanya ini termasuk yang aku namakan agama biadab. Namun praktek2 biadab ajaran agama2 ini hanya umat Islam saja yang sekarang masih mempertahankannya sedangkan agama lain sudah melarangnya. Demikianlah, kita menilai harus bebas dari kepercayaan agar penilaiannya jangan bersifat subjective. Kita harus berdiri diatas kebenaran bukan diatas kepercayaan. Tidak ada lagi kebenaran kalo anda sudah berpihak kepada kepercayaan. Karena kebenaran akan musnah kalo anda sudah diracuni oleh kepercayaan. Semua jadi berubah akibat kepercayaan sehingga apa yang anda lihat tidak lagi realistis melainkan angan2 yang digambarkan oleh kepercayaan itu sendiri. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], rezameutia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > kalian, para kristen sontoloyo, terlalu bodoh untuk mengerti 'message'-nya > > cerita-cerita mualaf, orang yang masuk islam, kebanyakan ceritanya orang pintar. seperti cerita orang jerman ini, cerita jeffrey lang (profesor di kansas jayhawk), maurice bucaille, dan banyak lagi. pertama, mereka semuanya membaca quran dulu, lalu mereka berpikir dengan akal, setelah itu baru lah mereka yakin dan memutuskan bahwa "islam is the best". > > berbeda dengan cerita kristen yang menemukan tuhan jesus, seperti cerita si eddy tonggos. suami pecundang yang punya bini muda cantik dan sexy, lalu ditinggal oleh pergi oleh bininya. setelah meratap-ratap dan menangis menyesali kebodohannya sendiri sebagai pecundang, baru lah si suami 'merasa' bertemu dengan 'king of loser', 'the big pretender', ... tuhan jesus. > > > agama kristen, kalo makin dipelajari, makin kelihatan bodor-nya. > > > > > > --- In [email protected], ayub yahya <ayubyahya@> wrote: > > > > Tawang...!! > > itu baru Jerman, > > diluar angkasa, ustadz gue pernah kotbah bhw Neil Amstrong yang astrounut AS > > pernah denger SUARA AZAN ... > > tapi ustadz gue kagak tau itu adzan dari masjid mana...?? > > jelasin dong Wang... > > > > > > jasadlelaki <jasadlelaki@> wrote: > > ini kayak promosi obat koyok cap cabe saja. > > bukan kuantitas, tapi kualitas. > > > > si jasad. > > > > --- In [email protected], "tawangalun" <tawangalun@> wrote: > > > > > > > > > Jerman Bertabur Mualaf > > > > > > > > > Angst-Ridden German Mencari Jawaban dan Menemukannya di dalam Quran." > > > Demikian judul besar di Del Spiegel, harian terkemuka di Jerman, > > > edisi 18 > > > Januari 2007. Penulisnya, Lutz Ackermann, mengawalinya dengan > > > mengisahkan > > > pria perlente bernama Kai Luhr. > > > > > > > > > Dengan bercelana jins dan jaket abu-abu bermerek, pria berwajah > > > bersih > > > tanpa kumis dan janggut ini memasuki gerbang Masjid Berlin. Ackermann > > > mengira dia menuliskannya dengan kalimat "publik Jerman pasti > > > menduga" Luhr > > > adalah utusan pihak gereja untuk hadir dalam dialog lintas agama > > > yang kerap > > > digelar di masjid itu. > > > > > > > > > Tapi, ups, dia salah. Luhr bergegas menanggalkan jaketnya, dan > > > mengambil > > > air wudlu. Dia merapatkan diri dengan barisan shalat -- di > > > sebelahnya pria > > > bertampang Timur Tengah dengan janggut dan jubah putihnya. > > > > > > > > > Dalam catatan Ackermann, Luhr melakukan 33 gerakan dalam ibadahnya > > > hari > > > itu. "Bahasa Arabnya sangat fasih ketika memanjatkan doa," tulisnya. > > > Ia > > > hanya mengucap satu kalimat dalam bahasa Jerman, "Allah mendengar > > > siapa > > > yang memohon pada-Nya, kabulkan doaku ya Tuhanku." > > > > > > > > > Kai Luhr adalah seorang dokter. Ia dan istrinya menjadi Muslim sejak > > > dua > > > setengah tahun lalu. Seiring dengan pernyataan syahadatnya, ia > > > mengganti > > > namanya menjadi Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha L? > > > hr. > > > > > > > > > Lelaki 43 tahun ini biasa mengikuti aktivitas keagamaan di sebuah > > > masjid di > > > Frechen, dekat Cologne. Di situ pula ia mengikrarkan Islam sebagai > > > agama > > > barunya. Bersama dengannya, seorang mantan petinju nasional Jerman > > > dan > > > seorang insinyur juga turut bersyahadat. > > > > > > > > > Saat dikuntit Del Spiegel, Luhr usai menunaikan shalat Jumat dan > > > shalat > > > sunah lain sebelumnya. "Anda akan menjumpai banyak Muslim kelahiran > > > Jerman > > > di beberapa masjid di Berlin pada hari ini," ujar Luhr. > > > > > > > > > Luhr besar dalam tradisi Kristen yang ketat. Namun ia beruntung, > > > keluarga > > > yang membaptisnya saat dia kanak-kanak itu adalah keluarga yang > > > demokratis. > > > "Tak ada masalah saya memeluk agama ini," ujarnya. > > > > > > > > > Baginya, Islam adalah agama yang benar-benar baru. Ketika kecil > > > hingga > > > remaja, ia yang besar di lingkungan kelas menengah di Berlin, > > > mengaku tidak > > > pernah mengenal atau bahkan mendengar ada agama bernama Islam. > > > > > > > > > Persinggungan pertamanya dengan Islam adalah saat ia masuk > > > universitas > > > untuk belajar ilmu kedokteran. Beberapa rekan kuliahnya adalah > > > Muslim. > > > Namun saat itu ia belum tergerak mempelajari Islam. > > > > > > > > > Usai kuliah, ia membuka praktik sambil mengambil spesialisasi > > > pengobatan > > > naturopatik di universitas yang sama. Saat penghasilannya mulai > > > bagus, ia > > > menikahi pacarnya, Katrin, seorang penari profesional. > > > > > > > > > Hingga suatu hari, kedua pasangan ini mengalami kegelisahan dalam > > > hidupnya. > > > Kejadian bermula saat suatu hari datang pasien dalam kondisi kritis > > > ke > > > ruang praktiknya, akibat terjatuh saat pemancangan sebuah > > > pilar. "Tiba-tiba > > > ada kekosongan dan keputusasaan dalam hidup kami," ujarnya. > > > > > > > > > Ia dan istrinya memutuskan untuk kembali menekuni agama yang telah > > > lama > > > ditinggalkannya, Kristen. Bahkan, pasangan ini pun mempelajari > > > Buddhisme > > > dan ajaran Dalai Lama. Tapi ia tak kunjung menemukan jawaban > > > kegelisahannya. > > > > > > > > > Ingin tampil beda > > > > > > > > > Menurut laporan Ackermann, proses penjalanan batin seorang Mualaf di > > > Jerman > > > umumnya sama; mereka adalah penganut Kristen, yang menemukan > > > kebingungan > > > tentang ajaran agamanya. Setelah mencari di banyak keyakinan, hati > > > mereka > > > tertambat pada Islam. > > > > > > > > > "Memang ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya malah jadi ragu > > > dengan > > > kebenaran ajaran itu," ujar Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin > > > yang > > > sebelumnya adalah seorang pendeta. Ia sendiri pernah mengalami > > > kebuntuan > > > pemikiran, sampai akhirnya menemukan Islam tahun 1979. > > > > > > > > > Ia mengakui, jumlah mualaf di Jerman kini berlipat. Satu dasawarsa > > > lalu, > > > jumlah mualaf baru di Masjid Berlin paling hanya 10 orang > > > pertahun. "Kini > > > jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya," ujar Herzog. Sebagian > > > penganut > > > baru Islam adalah orang-orang seperti Luhr, dan sebagian lagi adalah > > > ateis. > > > > > > > > > Sebuah kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan > > > fenomena > > > pindah agama di kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang > > > angkanya > > > cukup mencengangkan. Kendati media "rajin" memberitakan tentang > > > terorisme > > > yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, > > > dan bom > > > bunuh diri, namun sedikitnya 4.000 warga negara Jerman menjadi Muslim > > > antara bulan Juli 2004 hingga Juni 2005, saat penelitian dilakukan. > > > > > > > > > Penelitian yang didanai Kementerian Dalam Negeri Jerman ini menyebut, > > > jumlah mualaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. > > > "Justru di saat kebencian di Barat terhadap Islam makin memuncak," > > > tulis > > > laporan itu. > > > > > > > > > Mereka berislam atas kesadaran sendiri, dan sebagian besar mualaf > > > adalah > > > dari kalangan terpelajar. "Bila tiga tahun lalu kebanyakan converter > > > adalah > > > wanita yang berpindah agama karena pernikahan, maka sekarang banyak > > > juga > > > kaum pria dari kalangan kelas menengah Jerman yang beralih menjadi > > > Muslim" > > > tulis laporan itu. > > > > > > > > > Hasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya > > > yang > > > dilakukan Monika Wohlrab-Sahr, seorang sosiolog agama. Bedanya, dia > > > tak > > > hanya memotret fenomena ini di Jerman, tetapi juga Amerika Serikat. > > > Di dua > > > negara ini, Islam tumbuh dengan pesat justru setelah Tragedi 11 > > > September. > > > > > > > > > Menurut pengamatan Wohlrab Sahr, para mualaf sebelum berislam umumnya > > > mengalami "krisis personal" dan menemukan kedamaian justru dalam > > > Islam, > > > agama yang dicap banyak orang sebagai agama teroris. Motifasi lainnya > > > adalah pencarian agama yang lebih "pas" buat dirinya. "Dia ingin > > > beda dari > > > yang lain," ujarnya. > > > > > > > > > Dalam opini Wohlrab-Sahr, meski Kristen juga menawarkan kedamaian > > > batin, > > > namun Islam lebih menarik sebagai jalan keluar dari keruwetan hidup. > > > Hal > > > ini ditunjang dengan media yang terus-menerus memperdebatkan tentang > > > Muslim. "Islam menjadi makin menarik sebagai sebuah genuine > > > alternative > > > tambah Wohlrab-Sahr. > > > > > > > > > Namun, alasan seseorang berislam tentu berbeda-beda, meski Wohlrab- > > > Sahr > > > bilang mirip. Salim Abdullah ia menolak menyebutkan nama aslinya > > > menyatakan > > > tertarik pada Islam karena ajaran ini paling jelas merinci tuntunan > > > hidup > > > bagi umatnya. Sedangkan Luhr yang selalu membawa sajadah di mobil > > > Alfa > > > Romeo GT terbarunya menyatakan, "Meski Islam dinilai mundur dari > > > peradaban > > > Barat, namun ajarannya tetap relevan hingga saat ini." > > > > > > > > > Bagaimana para Mualaf menyesuaikan diri dengan lingkungannya setelah > > > menjadi Muslim? Dalam banyak hal, tak perlu disangkal, pasti terjadi > > > benturan. Islam mempunyai banyak aturan yang bertentangan dengan > > > budaya > > > Barat. Sebut misalnya dalam penyikapan terhadap alkohol, seks bebas, > > > dan > > > ibadah yang dalam sehari sampai lima kali jumlahnya. > > > > > > > > > Namun Wohlrab-Sahr menyatakan tidak ada kendala yang > > > berarti. "Tergantung > > > bagaimana cara mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran," ujarnya. > > > Menurut dia, > > > para mualaf ini tidak menunjukkan "kerepotan" harus beribadah lima > > > kali > > > sehari. > > > > > > > > > Beda dengan persepsinya bahwa busana untuk beribadah umat Islam > > > sangat > > > "ruwet" ia justru menemukan pada mualaf dengan gampang beribadah > > > dengan > > > memakai celana jins atau busana yang biasa mereka kenakan sehari- > > > hari. > > > "Bagi wanita, mereka hanya perlu menambahkannya dengan kaus kaki > > > saja," > > > ujarnya. Ia justru menyebut, Muslim yang dari lahir sudah berislam > > > justru > > > lebih liberal. > > > > > > > > > Di akhir laporannya, Ackmenn memotret fenomena seperti yang > > > diceritakan > > > Wohlrab-Sahr: > > > > > > > > > Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria > > > berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati > > > kesibukan > > > kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan > > > rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap > > > pergi > > > shalat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner > > > lebih > > > sering shalat seorang diri. "Urusan pekerjaan selalu menyita waktu > > > saya," > > > ujar Ozkan, "Shalat pertama pukul 06.00, ...itu terlalu pagi bukan? > > > > > > > > > Cerita Ackmenn tak berhenti sampai di sini. Malam harinya, ia > > > mengundang > > > dua nara sumber Muslimnya itu untuk makan malam di sebuah rumah > > > makan. > > > Bergner menolak rumah makan pertama karena "menyajikan terlalu > > > banyak bahan > > > haram." > > > > > > > > > Akhirnya mereka sepakat di sebuah rumah makan mentereng di pusat kota > > > Berlin. Makanan utama telah habis dilahap, kemudian pelayan datang > > > membawa > > > desert berupa tiramisu. Bergner menolak. Alasannya, "Terima kasih. > > > Dalam > > > resepnya, memakai alkohol." Ozkan mulai tak sabar dengan ulah > > > sahabatnya. > > > "Ayolah, jangan terlalu serius," ujarnya sambil mengigit cake > > > itu, "Makan > > > saja, tidak apa-apa. Alkohol hanya digunakan sebagai aroma." > > > > > > > > > Bergner mendelik. Dia tetap membiarkan tiramisunya tak tersentuh, > > > sampai > > > mereka keluar dari rumah makan itu... n tri/del spiegel > > > > > > > > > Shalom, > > > Tawangalun. > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Be a PS3 game guru. > > Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > ____________________________________________________________________________________ > The fish are biting. > Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing. > http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/hOt0.A/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
