SUARA MERDEKA Senin, 26 Februari 2007 Bom Waktu Pengangguran a.. Oleh Toto Subandriyo DALAM ilmu antropologi, manusia sering disebut homofaber, makhluk yang bekerja. Bagi orang kebanyakan, bekerja bukan hanya berarti untuk mencari nafkah, melainkan lebih dari itu. Bekerja adalah sebuah pengakuan bahwa kita adalah manusia yang berguna dan mempunyai harga diri.
Bekerja merupakan kewajiban yang melekat di setiap diri manusia, sebab orang tidak merasa terhormat jika tidak punya pekerjaan. Jadi tidaklah mengherankan, kalau belum lama berselang Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) menganugerahkan kepada Trans Corp sebagai perusahaan swasta yang menerima peserta terbanyak dalam mengikuti ujian dan seleksi calon karyawan. Sekitar 65.000 pencari kerja menjalani seleksi calon karyawan Trans Corp, yang menaungi Stasiun Televisi Trans TV dan Trans 7, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Momentum tersebut terasa sangat langka, sehingga bukan hanya layak tercatat di Muri, melainkan juga pantas dicatat dalam Guinnes Book of Record. Konon, jumlah pelamar mencapai 100.000 orang, termasuk 35.000 pelamar yang menjalani proses seleksi di Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta Februari 2007 ini. Membeludaknya para pencari kerja yang memperebutkan hanya 500 posisi lowongan kerja di Trans Corp itu sekaligus menunjukkan cermin retak dan potret buram kondisi ketenagakerjaan nasional saat ini. Kondisi itu ditandai dengan makin meningkatnya angka pengangguran terbuka dari waktu ke waktu. Tanpa harus belajar mendalam tentang berbagai teori sosial, orang dengan mudah dapat memahami bahwa kondisi seperti itu membiakkan bibit-bibit patologi sosial yang sangat potensial menjadi bom waktu berupa keresahan sosial. Pesan Eksplisit Pemberian penghargaan rekor Muri terhadap "prestasi" seperti itu boleh jadi merupakan bentuk ungkapan satire dan kritik sosial terhadap pemerintahan SBY-JK tentang kondisi sosial-ekonomi bangsa. Sebuah pesan secara eksplisit ingin disampaikan agar pemerintahan SBY-JK lebih keras lagi bekerja untuk pemenuhan kesejahteraan rakyat seperti yang pernah dijanjikan, utamanya lapangan pekerjaan. Janji dan komitmen untuk mengurangi angka pengangguran pernah disampaikan SBY dalam acara Dialog Interaktif Menuju Indonesia Masa Depan yang diadakan oleh Forum Rektor Indonesia Jawa Timur pada 24 Agustus 2004 di Surabaya. Saat itu SBY berjanji akan menurunkan angka pengangguran dari 10,3 persen menjadi 5,1 persen dalam lima tahun pemerintahannya (Rudi S Pontoh, 2004). Kondisi ketenagakerjaan nasional yang terpuruk itu makin diperparah oleh kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat fantastik per 1 Oktober 2005. Efek berganda yang ditimbulkan dari kebijakan itu adalah membuat banyak perusahaan ibarat hidup segan mati tak hendak. Jalan pintas yang sering diambil untuk menyelamatkan perusahaan adalah dengan rasionalisasi, sehingga terjadi PHK. Oleh karena itu, untuk dapat terhindar dari predikat pemerintahan yang gagal, mau tidak mau, suka tidak suka, pemerintahan SBY-JK harus berjuang keras memberikan pekerjaan kepada rakyat sebanyak mungkin. Dalam manajemen ketenagakerjaan, untuk "memadamkan kebakaran" dari kondisi pengangguran yang membengkak, pemerintah harus lebih banyak menciptakan lapangan kerja yang sifatnya labour intensive. Selain itu, kita berkali-kali diingatkan tentang kekuatan yang dimiliki bangsa dan negara ini. Kekuatan negara kita terletak pada dua sektor, yaitu sektor pertanian dalam arti luas, termasuk perikanan dan kehutanan, serta sektor pertambangan dan energi. Celakanya, saat ini sektor pertanian menjadi sisi yang merana. Sebagai negara agraris besar, Indonesia terhitung telah gagal membuat sejahtera petaninya. Duet SBY-JK harus sering diingatkan untuk berjuang ekstrakeras, karena pada awal tahun ketiga pemerintahannya, angka pengangguran masih cukup tinggi, sekitar 10,2 persen. Pemerintahan SBY-JK harus legawa menerima berbagai kritik dan masukan dari mana pun. Kritik dan masukan tersebut hendaknya disikapi layaknya advocatus diaboli atau devilĂs advocate, yaitu peran setan yang menyelamatkan manusia justru karena selalu mengganggu perjalanan mereka. Lebih jauh, pemerintahan SBY-JK dapat meredam bom waktu pengangguran.(68) - Toto Subandriyo, mahasiswa Jurusan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Program Magister Manajemen Unsoed Purwokerto [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/lOt0.A/hOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
