ini menunjukan gagalnya pemerintahan SBY-JK dlm mensejahterakan rakyatnya, ditambah lg dgn harga premium 4500, bikin hampir semua barang menjadi naik harganya
On 2/25/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14109&Itemid=75 > > Beras...Oh...Beras > Sabtu, 24 Pebruari 2007 > Oleh: Rumbadi Dalle*) > > Kondisi Batam dramatis !. Antrean panjang warga di depan Puskesmas Batuaji > bukan mengambil obat atau jatah minyak tanah, tapi antrean mengambil beras > murah yang dibagikan Pemerintah Kota Batam. Warga tak mampu lagi membeli > beras yang biasa mereka makan seperti Rambutan Merah seharga Rp6.500 per > kilogram. Jadi beras Bulog yang biasanya kualitas paling rendah pun menjadi > rebutan. Lima ton beras harga Rp3.800 per kilogram yang dikatakan murah dalam > dua jam habis. > > Padahal beras Bulog jenis ini ketika masyarakat Batam masih menikmati impor > dari negara tetangga Vietnam dan Thailand, berharga Rp1.000 per kilogram, itu > pun tak laku. Soalnya kualitasnya paling rendah. Beras bermutu paling baik > hanya seharga Rp2.900 per kilogramnya. > > Warga sadar, meski minyak tanah banyak percuma bila tidak ada yang akan > ditanak. Obat pun tak perlu jika tidak makan, karena biasanya obat dianjurkan > dokter di asup setelah makan. Kondisi Batam yang sangat memprihatinkan. Sejak > beridirnya Batam 34 tahun silam, tahun 2007 merupakan tahun paling kelam. > Mungkinkah kita bicara kesejahteraan ?. Mungkin saja, tapi sebatas > pembicaraan dan euforia. > > Kebijakan Pemerintah Kota Batam dalam hal memperpanjang kartu tanda penduduk > ( KTP ) gratis, berobat gratis di puskesmas, dan membuat akte kelahiran, tapi > bila tidak makan, maka kebijakan itu ibarat jarum jatuh di tengah lautan, > sirna. Sebenarnya kebijakan itu mulia. Ini akan dapat meminimilasir > pengeluaran biaya hidup masyarakat Batam. Yang sebelumnya warga harus > mengeluarkan biaya untuk membuat KTP, berobat ke puskesmas, mengurus akte > kelahiran yang mahal itu, kini bisa ditabung, dan dapat digunakan untuk > keperluan lain. Sungguh mulia kebijakan itu. > > Tapi, bila beras yang merupakan makanan pokok rakyat Indonesia itu mahal, > bukan kesejahteraan yang didapat, tapi kesengsaraan. Rakyat mulai > berhimpit-himpitan antre membeli beras murah itu sambil menjulurkan tangan > agar mendapat lebih cepat, karena di rumah ada anaknya yang mungil, dan > cantik sedang lelap tidur di ayunan. Dikhawatirkan bila terlalu lama > ditinggalkan takut ada api lalu membakar rumah mereka termasuk anak dalam > ayunan tadi. Buah hati pemberi semangat mengayuh kehidupan ini. > > Ironis, negara kita yang dikenal agraris dan gemaripah loh jinawi ini > menghadapi kekurangan pangan terutama beras ini. Orang Jawa menyebut mesake. > Bahasa anak muda, kacian deh kami. > > Apa dosa rakyat Indonesia? Apa salah masyarakat Batam? Kita berdoa, dosa > pembuat kebijakan jangan ditumpahkan kepada rakyat yang selalu menderita ini. > Belum pupus dari ingatan, warga Batam dihalau banjir, kemudian melambungnya > harga sayur mayur, demam berdarah dengue akibat gigitan nyamuk malaria dan > kini terancam kelaparan. Penyakit demam berdarah ini biasanya tak cukup > berobat di Puskesmas yang gratis dan harus dibawa ke rumah sakit. Di rumah > sakit mewah tentu kebijakan pengobatan gratis tidak berlaku meski ada > pengeculian. Keluarga korban terpaksa merogoh kantong untuk membayar > pengobatan ini, mungkin ada di antara keluarga pasien yang terpaksa > menggunkan uang hasil menabung karena memperpanjang gratis, berobat di > puskemas gratis, dan membuat akte kelahiran anak gratis tadi. > > Belum tuntas masalah merebaknya demam berdarah dengue, rakyat direpotkan lagi > oleh kekurangan beras. Disebut kekurangan karena dengan asumsi jumlah > penduduk Batam 700 ribu jiwa, beras tersedia di gudang Bulog Batam hanya 200 > ton, padahal dibutuhkan 6.000 ton per bulan. Biasanya Batam menerima pasokan > beras 300 peti kemas setiap bulan yang diangkut oleh pihak swasta ke Batam. > > Kenyataannya Batam minta pasokan beras 20 kontainer, tapi yang datang dari > Pulau Jawa hanya 2 kontainer. Rencananya akan dipasok dari Dumai, tapi hanya > 200 ton. Itu pun memerlukan waktu selama enam hari. Maksudnya bila dimuat > hari Senin, beras akan tiba di Batam hari Sabtu. Ini dilema. Ini kekeliruan > Pemerintah Pusat dalam hal regulasi. Provinsi Kepulauan Riau merupakan daerah > kepulauan dan 96 persen perairan. Dilihat dari geografis saja, Provinsi > Kepulauan Riau sangat tergantung daerah lain dalam hal sembilan bahan pokok, > karena daerahnya tidak mungkin bisa ditanami padi yang bisa memenuhi > kebutuhan warga sebanyak 1,3 juta itu. > > Wilayah darat yang 4 persen pun tidak mungkin ditanami padi, karena merupakan > batu-batuan dan cadas. Ada pepapatah bak: kakap tumbuh di batu, hidup enggan > mati tak mau. Artinya meski ditanami dengan pupuk apapun, tetap saja tidak > berhasil. Bila dipaksakan juga, maka beras dihasilkan menjadi racun, karena > yang dimakan berbentuk beras, tapi sebenarnya racun karena terlalu banyak > pupuk. > > Seharusnya Pemerintah Pusat memikirkan, melihat dan mendengar masyarakat di > luar Pulau Jawa sebelum memutuskan melarang impor beras. Kebijakan > sentralistik tanpa memikirkan wilayah NKRI yang beragam akan menimbulkan > kesengsaraan bagi rakyatnya. Persoalan kekurangan beras, minyak tanah dan > lain-lain di Batam, akibat kebijakan yang sentralistik itu, padahal kita > telah menjalankan apa yang disebut Otonomi Daerah. > > Coba bayangkan, mendatangkan beras dari Jawa memerlukan waktu lama, mungkin > lebih dari 72 jam karena harus memerlukan waktu muat, perjalanan, dan waktu > bongkar. Ini akibat kebijakan Pemerintah Pusat yang melarang beras masuk > langsung dari negara tetangga yang dekat seperti Vietnam dan Thailand. > Setelah beras dari Jakarta dan Jawa Barat tidak masuk, Batam dipasok dari > Dumai. Beras dipasok dari Dumai akan sama dan sebangun seperti didatangkan > dari Jawa. Padahal-seperti diuraikan tadi-memerlukan waktu enam hari untuk > beras sampai ke masyarakat. Itu repotnya jika pembuat keputusan hanya berada > di kursi roda yang empuk , bergoyang sambil dihembus angin air conditoned > yang sejuk. Akibantya rakyat makan tewol, umbi-umbian, dan biji buah karet > yang beracun, mungkin dalam waktu dekat makan gadung. Gadung ini pernah > menjadi makanan sebagian masyarakat Sugi Waras, Sumatera Selatan tahun > 1964-1965, akibat paceklik. Mengerikan! Banyak yang mati akibat makan makanan > yang mengandung racun tersebut. Diharapkan rakyat Batam tidak sampai > melakukan hal seperti itu. > > Dilihat dari kebijakan yang ditelurkan Pemerintah Pusat, seperti tak rela > dengan desentralisasi, tetap ingin sentralistik. Atau akibat tekanan petani > berdasi yang cukup kuat dengan kekuasaan. Harusnya Batam bisa dijadikan entry > point pemasok beras, sebab sarana dan prasarana di Batam sudah cukup. > Pelabuhan Laut bertaraf Internasional, demikian pula pelabuhan udara. Dekat > dengan negara tetangga yang telah berpengalaman mengirim beras ke Batam > khususnya. Andil Batam ke daerah lain tak kurang hebatnya. Masukan uang dari > Batam mencapai triliunan setiap tahun, belum lagi kiriman uang tenaga kerja > ke daerah asalnya juga mencapai triliunan setiap tahun. > > Berjibunnya operator pesawat terbang dari dan ke Batam merupakan sumbangan > tak sedikit. Pihak pos pun menangguk untung. Masih kurang? Itu disebut tamak. > Ketamakan akan membahayakan negara dan bangsa, karena muncul ketidakadilan. > Ketidakadilan ini bisa memicu rasa ketidaksenangan rakyat. Dan > ketidaksenangan rakyat ini telah terbukti merepotkan pemerintah seperti > adanya Gerakan Aceh Merdeka, Peristiwa Poso, Pemberontakan di Papua dan > tercipta rasa antipati yang berujung pada tindakan anarkis., ini akibat > ketidakadilan. Kita menjadi bangsa gamang. Hendak dibawa kemana rakyat ini? > > Tingkat kemiskinan terus meningkat, dan pengangguran membengkak. Entah kemana > hasil kekayaan alam Indonesia dibawa. Yang jelas ada 18.000 nasabah bank di > Singapura berasal dari Indonesia dengan nilai Rp800 triliun. Itu uang > koruptor dan masyarakat Indonesia yang terpaksa menabung di negeri orang > karena takut tiba-tiba uangnya di blokir oleh pihak bank tanpa alasan jelas > di tanah air. Kesejahtaraan masih sebatas kata-kata diatas podium. > > Di sini peran wakil rakyat diuji dan mulai memikirkan nasib KETUA-nya, > rakyat. Yang duduk di kursi dewan adalah wakil rakyat, kan! Kini ketua mereka > "sekarat". Bisa-bisa jadi melarat, dan rakyat..eh... ..ketua itu bisa juga > mendamprat. Hebat! Ini akibat kurang beras... Beras..Oh...Beras., Apakah bisa > padi tumbuh di batu cadas?. Coba diulas oleh pakar yang berpengetahuan luas, > supaya rakyat puas. Rakyat tak perlu diminta sisingkan lengan baju, karena > baju berlengan pendek, lebih murah dibanding lengan panjang. Dan ikat > pinggang tak perlu lagi dikencangkan, sebab penjual menyediakan untuk > melobangi ikan pinggang yang kebesaran. Tabik Tuan tabik Kiaji, Permisi !!!. > *** > > *)Rumbadi Dalle, Wartawan Majalah dan Majalah TEMPO wilayah Kepulauan Riau. > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design. http://us.click.yahoo.com/kOt0.A/gOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
