http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/2/27/o3.htm
Menyoal Politik Perberasan Oleh Putu Armaya SEIRING runtuhnya rezim Orba sampai sekarang persoalan beras terus membetot energi kita semua, dan justru sampai sekarang masih menjadi persoalan yang makin rumit dan kompleks. Sebagai negara yang dijuluki ''negara agraris'' tidak seharusnya kita dibelit oleh masalah beras, baik karena pasokan maupun masalah harga atau produk pangan yang lain. Ada tiga persoalan mendasar dari komoditas beras ini. Pertama, soal harga, kedua soal pasokan, ketiga soal dijadikannya beras sebagai sumber pangan tunggal. Soal pasokan tampaknya swasembada beras hanya isapan jempol belaka. Kian hari ternyata pasokan beras kita sangat keropos, pascakrisis ekonomi sudah beberapa kali pemerintah mengeluarkan hadiah kepada rakyat berupa impor beras di saat ekonomi lagi sekarat akibat kenaikan harga BBM yang melambung. Status swasembada beras (karena memang sejak awal hanya ditengarai sebagai mitos belaka), juga karena lahan untuk menanam padi kini sangat menyusut. Lahan-lahan produktif untuk menanam padi banyak tergeser untuk aktivitas ekonomi, bahkan tergeser untuk membangun perumahan. Dalam hitung- hitungan jangka panjang, fenomena ini akan terus menggerogoti status padi/beras sebagai sumber pangan tunggal di Indonesia. Sentra-sentra padi atau yang dikenal dengan lumbung padi cepat atau lambat akan segera tergusur oleh sentra industri di Bali misalnya Tabanan. Daerah ini dikenal lumbung padi di Bali, tetapi dalam perkembangan zaman Tabanan mulai dikepung oleh sentra industri dan perumahan. Yang lebih ironis lagi pabrik miras yang menimbulkan pro-kontra dibangun di lumpung beras ini. Tentu kita tidak dapat melihat dari sisi ekonomi saja. Tetapi juga dapat dianalisis dari sisi sosiologis dan kultural. Artinya, jelaslah masyarakat Tabanan yang kini banyak berprofesi sebagai petani padi/buruh tani, nantinya berstatus sebagai buruh pabrik miras yang menyedot banyak tenaga kerja. Jika ini terjadi masyarakat Tabanan akan meninggalkan sawahnya karena kemilau pabrik miras. Belum lagi pemerintah daerah gagal membatasi pembangunan perumahan yang banyak mencaplok lahan produktif berupa sawah. Akibat jangka panjangnya status Tabanan sebagai lumbung padi/beras akan rontok. Pemerintah Orde Baru maupun pemerintah sekarang sama saja, sangat keliru ketika menjadikan beras sebagai satu-satunya sumber pangan nasional. Kalau saja pemerintah tidak cepat tanggap dan punya ide-ide yang cemerlang dalam mengatasi perberasan nasional hal ini sangat berbahaya. Misalnya secara sosiologis kultural, tidak semua masyarakat Indonesia perutnya ''ramah'' dengan beras. Tetapi dari dulu kala tetap dipaksa makan beras/nasi. Contohnya masyarakat NTT yang lebih terbiasa dengan jagung, orang Papua yang biasa makan ubi-ubian atau masyarakat Ambon yang lebih suka sagu. Tetapi semua dipaksa untuk mengonsumsi beras. Pertaniannya pun dipaksakan menanam padi. Selain itu jika terjadi krisis beras oleh karena serangan hama, atau krisis pasokan maka akan mengakibatkan ''krisis pangan'' yang sangat mengerikan sampai membuat harga beras mahal. Pemerintah selalu gagal dalam membina pertanian. Bahkan yang justru sekarat dengan kebijakan impor beras adalah para petani pengolah beras. Makin hari mereka terpuruk karena harga gabahnya dibeli sangat murah. Bahkan kebijakan pemerintah untuk membina para petani padi, untuk mengembangkan produksinya jarang terjadi, pemerintah sangat sibuk dengan urusan-urusan yang lain. Maka ketika harga beras mahal di negeri yang dijuluki gemah ripah loh jinawi, pemerintah bahkan seakan tidak mendengar jeritan kelaparan rakyat akibat harga beras yang tidak terjangkau oleh masyarakat. Menjadikan perut orang Indonesia yang bisa dikenyangi dengan beras di satu sisi, dan di sisi lain tidak mampu mengembangkan sumber-sumber pangan lain, adalah tindakan yang sangat berbahaya. Fenomena ini harus segera diakhiri pemerintah, dan harus lebih banyak mengeluarkan kebijakan yang melindungi rakyat, bukan sebaliknya kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Toh secara geografis dan kultural banyak komoditas yang dapat dikembangkan untuk mem-back up beras. Politik perberasan secara nasional juga harus diubah total, sehingga para petani dapat lebih sejahtera dan produktif. Penulis, Sekretaris Forum Komunikasi Lintas Bali (FKLB), Koordinator Program Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Bali [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
