http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/3/2/o2.htm

Jika diumpamakan negara, maka presiden bisa dipandang sebagai pemilik 
perusahaan yang bernama negara itu, yang semestinya bisa melakukan pertimbangan 
memecat atau  mempromosikan menteri yang bersangkutan. Pengunduran diri menteri 
yang berlatar belakang seperti ini, tidak terlalu memiliki konsekuensi politis 
karena ketika terpilih sebagai menteri, disebabkan oleh pertimbangan 
keprofesionalannya.
----------------------------

Mengapa Menteri Sulit Mengundurkan Diri?
Oleh GPB Suka Arjawa 

DIBERITAKAN bahwa dua dirjen di lingkungan Departemen Perhubungan akan diganti. 
Keduanya adalah Dirjen Perhubungan Laut dan Dirjen Perhubungan Udara. 
Disebutkan pergantian ini  merupakan bagian dari beberapa pejabat struktural 
yang akan diganti pada departemen tersebut. Tidak ada berita yang jelas apakah 
hal ini merupakan akibat dari terjadinya kecelakaan yang menimpa maskapai 
penerbangan dan pelayaran Indonesia kali ini. Tetapi, karena isu itu keluar 
berdekatan dengan kejadian maka banyak yang mengatakan bahwa ini disebabkan 
oleh adanya berbagai kecelakaan yang menimpa maskapai Indonesia.

-------------------

Pada sisi lain, beberapa anggota legislatif lebih menekankan agar menterinyalah 
yang mesti mengundurkan diri ketimbang harus mengganti beberapa pajabat 
struktural pada departemen   perhubungan. Pengunduran ini merupakan bentuk 
tanggung jawab tugas dari menteri yang bersangkutan. Akan tetapi sampai 
sekarang masih belum terdengar adanya keinginan Menteri Perhubungan untuk 
mengundurkan diri.

Selama ini ada pandangan bahwa menteri itu adalah jabatan politis karena 
dipilih oleh presiden berdasarkan strategi tertentu (misalnya memperkuat 
pemerintahan). Pandangan ini  kelanjutannya membawa pendapat sumbang. Karena 
menteri merupakan jabatan politis, yang direkrut dengan strategi tertentu dan 
tidak berdasarkan profesionalisme, maka wajar saja jika kemudian kinerja 
menteri yang bersangkutan tidak terlalu maksimal. Suara sumbang yang lain, jika 
menteri merupakan jabatan politis, maka pergantiannya akan mempunyai risiko 
politis juga, semisal memicu munculnya  ketidakstabilan pemerintahan.

Cara pandang satu jalur inilah yang mestinya diperbaiki,  apalagi di Indonesia 
yang saat ini benar-benar memerlukan manusia berkualitas untuk memperbaiki 
kondisi negara.  Menteri, seharusnya dilihat dari dua komposisi dan karena itu 
penunjukannya harus menggabungkan dua komposisi tersebut agar kinerjanya bisa 
maksimal. Pertama, menteri merupakan jabatan politis. Ini memang benar dan 
menjadi praktik sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia. Latar 
belakang munculnya predikat menteri sebagai jabatan politis berasal dari negara 
dengan sistem parlementer. Partai politik menginginkan tokohnya duduk di 
kabinet pemerintahan sesuai dengan perolehan suara dalam pemilu (komposisi 
partai politik di parlemen). Model ini bertujuan untuk menjamin stabilitas 
pemerintahan parlementer.

Tetapi di negara dengan basis demokrasi non-parlementer, jabatan politis 
menteri bertujuan untuk memperlihatkan dukungan (rangkulan) kepada entitas 
tertentu. Di Irak misalnya, beberapa menteri diangkat dari golongan Shiah dan 
Sunni. Tujuannya untuk memberikan pengakuan kepada dua suku  yang saling 
bertikai tersebut. Di Amerika Serikat, menteri kulit hitam mendapatkan posisi 
yang cukup penting. Di Indonesia beberapa menteri kabinet berasal dari kalangan 
Indonesia Timur dan dari etnis Tionghoa. Menteri Pariwisata berasal dari 
komunitas Bali. Semuanya ini merupakan bentuk-bentuk kompromi politik.

Pengunduran diri seorang menteri di sini akan mempunyai konsekuensi politis 
yang bersifat meluas (massa). Hal ini bisa mengecewakan entitas kelompok yang 
diwakili oleh menteri yang bersangkutan atau massa konstituen partai pendukung 
menteri tersebut.

Kedua, menteri adalah seseorang yang memiliki keterampilan manajerial tinggi. 
Pandangan ini berasal dari pendapat yang menyebutkan bahwa menteri tersebut 
tidak lain adalah seorang manajer perusahan yang bertujuan untuk memaksimalkan 
keuntungan perusahan yang dipimpinnya. Hanya orang yang mempunyai keterampilan 
menajemen yang memadailah yang pantas menduduki jabatan sebagai seorang 
menteri. Jika diumpamakan negara sebagai perusahan besar, maka departemen itu 
adalah bagian perusahaan yang menangani pekerjaan tertentu. Dalam  pandangan 
ekonomi global, perusahaan internasional  bertujuan untuk menarik keuntungan 
guna memperbesar aset yang dimiliki. Aset inilah yang dipakai untuk 
mengembangkan perusahan itu dalam bentuk penanaman modal di wilayah negara  
lain (contoh: Singapura membeli perusahan Telkom Thailand).

Pertimbangan Presiden

Manajer bertanggung jawab kepada pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan inilah 
yang akan memberikan penilaian kepada kinerja manajer, kemudian 
mempertimbangkannya apakah dipecat kalau dia gagal, atau diberikan promosi jika 
berhasil.

Jika diumpamakan negara, maka presiden bisa dipandang sebagai pemilik 
perusahaan yang bernama negara itu, yang semestinya bisa melakukan pertimbangan 
memecat atau  mempromosikan menteri yang bersangkutan. Pengunduran diri menteri 
yang berlatar belakang seperti ini, tidak terlalu memiliki konsekuensi politis 
karena ketika terpilih sebagai menteri, disebabkan oleh pertimbangan 
keprofesionalannya.

Komposisi kabinet akan sangat baik jika presiden mampu memilih seorang menteri 
yang mempunyai latar belakang campuran tersebut. Artinya ia adalah seorang yang 
memiliki predikat sebagai perwakilan politis, perwakilan entitas tertentu dan 
sekaligus juga seorang manajer. 

Dalam konteks kementerian perhubungan di Indonesia, Hatta Rajasa yang menduduki 
jabatan menteri, memiliki latar belakang berdasarkan tiga predikat itu. Sebagai 
politisi, ia datang dari partai yang cukup berwibawa dan modern, yaitu Partai 
Amanat Nasional. Dalam ranah kesukuan di Indonesia, ia adalah orang Padang 
(Sumatra) yang memiliki sejarah penting dalam ranah intelektual dan berdirinya 
Republik Indonesia. Sebagai pribadi, ia sebelumnya memimpin beberapa perusahaan 
pribadi yang konon secara sukarela dijual demi terjun ke dunia politik. 
Barangkali di sinilah titik kesulitan undur diri menteri yang bersangkutan di 
tengah-tengah berbagai kecelakaan yang menimpa di sektor perhubungan Indonesia.

Tetapi satu hal yang perlu dipertimbangkan, kita perlu  budaya tanggung jawab 
lewat sebuah pengunduran diri. Lagi pula, sebagai pemimpin 'perusahaan', 
bukankah presiden bisa saja memecat manajernya yang dianggap gagal. Memilih 
satu orang menteri yang memiliki tiga latar belakang seperti itu,  tampaknya 
tidaklah terlalu sulit.

---------------

* Di negara dengan basis demokrasi nonparlementer, jabatan politis menteri 
bertujuan untuk memperlihatkan dukungan (rangkulan) kepada entitas tertentu.

* Hanya orang yang mempunyai keterampilan manajemen yang memadailah yang pantas 
menduduki jabatan sebagai seorang menteri.

* Kita perlu budaya tanggung jawab lewat sebuah pengunduran diri


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke