http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/3/2/o3.htm
Hujan, Kemarau dan Nonberas Oleh Komang Agus Sedana SUNGGUH suatu ironi, di negara yang dikenal sebagai negara agraris, beras menjadi kebutuhan yang bikin susah. Padahal kata orang, tongkat kayu pun bisa tumbuh menjadi tanaman di negeri ini. Kenyataannya selalu ada dua hal yang menimpa ribuan hektar sawah di Indonesia. Pertama, bencana musim kemarau di mana sumber-sumber air mengering sehingga ribuan hektar sawah petani tidak kebagian air. Akibatnya gagal panen. Kedua, bencana musim hujan di mana ribuan hektar sawah terendam banjir. Akibatnya gagal panen. Pada masa orde baru, sejumlah waduk besar dibangun di Jawa untuk menjamin ketersediaan air bagi kebutuhan pertanian. Saat ini, waduk-waduk yang dulu berjaya sudah tidak berdaya lagi dan ikut-ikutan kekeringan. Setiap tahun, siaran berita media selalu menceritakan kisah di atas: banjir dan kekeringan. Kedua hal itu juga setiap tahun digunakan sebagai alasan untuk mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam. Negara ini seperti tidak pernah mau belajar dari pengalaman yang berulang-ulang. Alam selalu dijadikan kambing hitam dan bencana selalu disebut sebagai cobaan. Bila benar data tentang potensi kecukupan hasil panen padi di Indonesia, maka yang diperlukan sekarang adalah memastikan bahwa alam selalu berpihak pada pertanian. Terutama pada ketersediaan dan terkendalinya suplai air irigasi. Alam tidak serta merta mendatangkan banjir atau kekeringan begitu saja. Benarkah mata air di negara ini bisa mati begitu saja tanpa peran manusia. Benarkah tanah kita sudah tidak mau lagi menyerap air hujan jika manusia tidak memaksanya melakukan itu. Menjamin ketersediaan beras secara mandiri tidak dapat dipastikan begitu saja dengan menghitung ketersediaan lahan sawah di negara ini, tetapi juga harus ada jaminan kelestarian alam sebagai salah satu penunjang utama. Jaminan ketersediaan air yang tidak hanya cukup dalam jumlah tetapi juga baik untuk digunakan persawahan. Tidak dapat diragukan bila sebagian sawah di Kabupaten Badung atau Denpasar menggunakan air irigasi yang sudah tercemar limbah sablon atau limbah lainnya, sehingga perlu dipertanyakan kelayakan berasnya untuk dikonsumsi. Artinya setiap insan bangsa ini bisa menjaga stabilitas beras nasional tanpa harus jadi petani, tetapi mau kembali menghargai dan menjaga alam lingkungan sekitarnya. Bila negara yang luas wilayahnya jauh lebih kecil dari Indonesia mampu mengirim ratusan ribu ton beras ke negara ini, maka negara ini harus lebih serius dalam membangun pertanian padi. Kecuali jika memang masalah ini kita mau gampangkan dengan cara impor beras. Mungkin kita sebaiknya mau rendah hati untuk belajar dari kedua negara itu. Sesungguhnya negara ini punya berbagai macam variasi sumber karbohidrat selain beras. Cuma, beras telanjur dipaksakan menjadi idola. Jika memang kita tidak bisa memenuhi kebutuhan beras dalam negeri, maka memberi kesempatan kepada sumber karbohidrat lain adalah alternatifnya. Tentu saja sumber alternatif ini harus hasil produksi pertanian bangsa sendiri. Sudah saatnya jagung, singkong, ketela, sagu dan tentu saja tidak termasuk nasi aking atau tiwul yang terkenal itu, untuk tampil di meja makan keluarga dan menjadi idola baru selain nasi. Bangsa ini harus berhenti bermanja dengan produksi pertanian impor. Buah-buahan impor sudah merajai pasar buah di Indonesia, apa kita akan membiarkan beras impor juga merangsek begitu gampang. Suatu saat negara ini bisa menjadi negara yang mudah tunduk karena diancam tidak akan dikirimi beras. Kita harus stop bermanja dengan beras murah yang selain dimpor seringkali berbau apek. Bila beras mahal, beli alternatif lain yang lebih murah. Jangan biarkan pedagang beras seenaknya mempermainkan bangsa ini. Kita tidak akan kurang gizi bila mengganti beras dengan singkong. Tampilkan jagung atau singkong olahan berdampingan dengan sayur dan lauk di meja makan. Percayalah bahwa perut bangsa ini sudah dirancang sangat pas dengan sumber makanan produksi sendiri. Bukan makanan impor. Apalagi beras impor yang berharga murah dan berbau apek, tentu saja suatu saat akan menimbulkan masalah bagi perut. Hanya dengan cara menjaga alam lingkungan dan tekad untuk menjadi mandiri, negara ini akan terbebas dari masalah beras. Penulis, staf DKLH Kab. Klungkung [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design. http://us.click.yahoo.com/kOt0.A/gOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
