RIAU POS

      Derita Buruh Sektor Perkayuan        

      05 Maret 2007 Pukul 09:24  
      Pekerja atau buruh di sektor perkayuan dan kehutanan masih mengalami 
derita panjang akibat berbagai krisis yang menghantam industri sektor ini. 
Tidak seimbangnya pasokan kayu dengan kapasitas keperluan mesin terpasang 
mengakibatkan penurunan produksi yang tajam. Tentu berakibat fatal dengan 
banyaknya buruh yang mesti di-PHK. Rentang antara 2004-2005 saja sekitar 50.000 
buruh perkayuan telah kehilangan pekerjaan di dua provinsi yaitu Riau dan 
Kalimantan Timur yang industri perkayuannya cukup banyak, disusul tahun 
2006-2007 sektor ini justru makin memprihatinkan. Sampai 2006 secara nasional 
sekitar 120-an lebih perusahaan industri kehutanan yang sudah masuk dalam 
prioritas penyehatan pemerintah. Bahkan sampai pada awal tahun 2007 Provinsi 
Riau dan Provinsi Kalimantan Timur paling banyak perusahaan perkayuan yang 
gulung tikar. Paling tidak diasumsikan sekitar dua juta pekerja /buruh di 
sektor perkayuan terancam pemutusan hubungan kerja. 

      Di awal 2007 ini gejolak ini makin terasa di Riau, kemaren 1 Maret 2007 
pekerja dari PT Asia Forestama Raya (AFR) unjuk rasa karena berhentinya 
operasionil. Sementara kegerahan itu juga sebelumya telah dirasakan buruh PT 
Arara Abadi, PT RAPP dan PT IKPP. Pukulan telak dirasakan buruh PT Pertiwi 
Perawang lebih kurang 700 orang yang sampai tulisan ini dibuat nasibnya masih 
terkatung-katung, begitu juga dengan PT Kampari, Siak Raya, Perawang Lumber 
Industri dan sebagainya yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja 
terhadap karyawannya.

      Kita tentu sangat mendukung peletarian hutan, pembabatan hutan yang 
semena-mena, illegal logging dan praktik "tipu-kicuh" lainnya. Katakanlah 
republik ini telah bersepakat mulanya dengan Pemerintahan Inggris pada April 
2002 kemudian dilanjutkan Cina pada Desember dan Jepang pada 2003 masalah 
pemberantasan perdagangan kayu ilegal. Komitmen serupa juga diterapkan dalam 
negeri dengan gencarnya mengadakan razia dan penangkapan terhadap pelaku 
illegal logging. Kita salut upaya itu, kita sangat mendukung -sepertinya itu 
bukan yang menjadi soal- tetapi masalah utama adalah sekitar empat juta hutan 
tropis Indonesia gundul tiap tahun karena multi-akibat. Tidak illegal logging 
saja, kebakaran hutan yang sampai saat ini belum teratasi sepenuhnya dan sudah 
jadi bencana langganan tahunan, penyeludupan dan lain sebagainya. Masih kurang 
tegaknya aturan di daerah-daerah juga membuat industri kehutanan terbawa 
condong.

      Dampak yang paling dirasakan sektor ini ketika kebijakan penetapan 
batasan pasokan kayu alam pada 2004 yang hanya 5,7 juta, diperkirakan keperluan 
kayu 10 kali lipat dari itu yang mesti dipenuhi oleh industri perkayuan dengan 
cara lain, seperti mengimpor atau dari hasil Hutan Tanam Industri (HTI) yang 
tak sebeberapa. Jelas ini dilema yang pelik dihadapi oleh industri perkayuan 
dan perhutanan. Mengimpor bahan baku dari luar jelas menghadapi kendala, ketika 
misalnya Vietnam, Malaysia dan Thailand juga sedang mengembangkan industri yang 
sama. Sedangkan program HTI berjalan tersendat-sendat.

      Tak pelak lagi industri perkayuan bertumbangan dengan meninggalkan 
persoalan tentang perburuhan yang amat banyak. Akibat panjang ini mulai dari 
Aceh sampai Papua sungguh memprihatinkan, kalangan buruh tidak mempersoalkan 
tentang penegakan hukum dan aturan lainnya soal kehutanan, tetapi dampak bagi 
para buruh mesti juga jadi perhatian pemerintah, karena ini menyangkut  hidup 
orang banyak.

      Sisi Kemanusiaan
      Tulisan ini berupaya menyuarakan tentang jeritan hati buruh di sektor 
perkayuan dan kehutanan, tidak saja diminta kearifan pemerintah dan berbagai 
pihak dalam hal ini, tapi juga langkah nyata dari berbagai elemen masyarakat 
agar sisi kemanusiaan dari buruh yang terlibat dalam industri sektor ini juga 
dapat perhatian. 

      Dari pihak perusahaan, tetaplah mencoba mencari berbagai alternatif dari 
ketiadaan bahan baku. Impor, pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) kalau 
bisa dilaksanakan dengan perencanaan matang dan bisa mengisi keperluan yang 
kurang. Kerja sama dengan masyarakat atau koperasi sekitar desa hutan guna 
pelaksanaan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang bisa saling menguntungkan 
masyarakat ekonominya membaik dari kerja sama tersebut, sementara perusahaan 
mendapatkan bahan baku dari hasil panennya. Kemudian perbaikan dan pergantian 
mesin yang mengikuti perkembangan teknologi, paling tidak meminimalisir 
keborosan dari besarnya biaya produksi  yang selama ini dengan mesin tua yang 
mestinya sudah diganti.

      Pemerintah dengan segenap kebijakannya ke arah kebaikan tentu saja 
mendapat dukungan dari masyarakat banyak. Tetapi sisi kemanusiaan mesti jugalah 
dapat perhatian, bukankah kita tidak ingin kumpulan buruh perkayuan dari Aceh 
sampai ke Papua beserta segenap keluarganya menjadi masalah sosial baru yang 
menambah kisruh, karena kesalahan pengambil kebijakan.

      Penutup
      Di penghujung tulisan ini juga penulis menghimbau kepada masyarakat yang 
tanahnya terlibat masalah dengan berbagai perusahaan, terutama perusahaan 
perkayuan. Marilah kita upayakan jalan keluar terbaik, dengan melibatkan semua 
pihak di daerah ini,  adil dan tak saling merugikan dalam menyelesaikan 
persengketaan. Bahwa buruh yang bekerja di perusahaan perkayuan dan kehutanan 
adalah "masyarakat kita juga, saudara kita, anak dan kemenakan kita juga". 
Paling tidak merekalah yang akan merasakan dampak paling buruk bila tempat 
bekerja mereka betul-betul ditutup karena kekurangarifan kita mengambil 
keputusan. Pun, kepada perusahaan di sektor perkayuan, marilah lebih membuka 
diri dan tanggap terhadap keluhan masyarakat tempatan. Percayalah, pada 
dasarnya orang di Bumi Melayu ini amat menjunjung tinggi adat, agama, harga 
diri dan marwah. Tolonglah hormati dan jaga itu, mari hidup berdampingan dengan 
saling hirau dan "silaturahmi". Jadilah perusahaan yang baik, yang memberikaan 
manfaat bagi masyarakatnya. Semoga ***


      Febri Alamsyah, Ketua DPD Serikat Pekerja Kahutindo Riau. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke