http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=15015&Itemid=75
Reformasi dan Korupsi
Selasa, 06 Maret 2007
Oleh: R. Dachroni*)
Pemerintahan yang bersih dari KKN alias berantas korupsi adalah salah
satu point yang menjadi sorotan penting dari lima agenda yang lain (adili
Soeharto dan kroni-kroninya, amandemen UUD 1945, penghapusan dwi fungsi ABRI,
otonomi daerah yang seluas-luasnya dan penegakan supremasi hukum) ketika
reformasi dikumandangkan. Namun, sembilan tahun reformasi telah berjalan.
Korupsi juga tak lekang dimakan zaman. Sebuah mimpi yang tak mungkin menjadi
suatu kenyataan. Karena pemberantasan korupsi tidak bisa dijadikan sebuah
impian. Mimpi tidak mungkin menjadi sebuah impian. Akan tetapi, impian bisa
menjadi sebuah mimpi yang tak pernah terbayangkan.
Perlu diakui, reformasi lah yang membawa isu korupsi tumbuh dan
berkembang di masyarakat. Isu tersebut menjadi sebuah daya tarik tersediri
karena dengan adanya korupsi khususnya yang dilakukan oleh segelintir oknum
pejabat menye babkan kesejahteraan tidak dapat dira sakan secara merata oleh
masyarakat. Korupsi semakin merajalela. Bak virus yang memberontak dan tak
mampu dibendung lagi gerak-geriknya.
Sulit untuk dilacak, karena yang melacak telah ternodai dan terserang
virus yang sama. Kalau yang melacak sudah ternodai, apakah mungkin korupsi
dapat diberantas? Akankah produk-produk anti virus, mampu menetralisir virus
yang kian hari kian berkembang dan mengakar di setiap jenjang baik di sektor
publik maupun sektor swasta yang kadang-kadang juga dapat mempengaruhi
penderitaan rakyat. Seperti dugaan korupsi aliran listirk d sebuah perusahaan
swasta di pulau Batam.
Budaya sebagai wujud dari pola pikir mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan korupsi. Pasalnya, korupsi juga terwujud dari hasil pola pikir seseorang
atau sekelompok orang untuk kaya dengan cepat melalui jalan yang salah. Hampir
mirip dengan hartawan yang keka yaannya diperoleh dari hasil pesugihan atau
memelihara tuyul.
Hal ini juga bisa disebabkan oleh sikap mental masyarakat Indonesia yang
mayoritas suka menerabas, kurang berdisiplin murni, tidak percaya pada diri
sendiri, tidak mempunyai tanggungjawab yang kokoh dan sikap meremehkan mutu.
Demikian sikap mentalitas budaya bangsa Indonesia yang dikemukakan oleh Prof.
Koenjtraningrat dalam buku karangannya yang berjudul, "Kebudayaan, Mentalitas
dan Kebudayaan".
Yang menjadi pusat perhatian penulis dari lima borok yang hampir mendarah
daging itu adalah sikap mentalitas budaya yang suka menerabas. Tidak mau
mengikuti proses yang semestinya dijalankan bukan ditinggalkan. Tak usah heran,
kalau saja ada perguruan tinggi swasta yang membuka jasa penjualan ijazah, maka
cukup banyak peminatnya daripada mereka harus mengikuti proses pembelajaran
perkuliahan yang begitu "menjemukan".
Contoh lain, tayangan-tayangan mistik di beragam televisi swasta sudah
jelas menerangkan bahwa untuk menuju kekayaan, manusia tidak perlu usaha.
Apalagi menjalani proses. Cukup melakukan praktik pesugihan, memelihara tuyul,
memelihara jin dan berbagai bentuk peliharaan lain yang hampir semuanya
mengabaikan proses. Terlepas dari hal itu benar-benar ada atau tidak. Akan
tetapi, proses di sini bukan dimaksudkan proses yang juga perlu dilakukan saat
melakukan perbuatan-perbuatan orang yang tak percaya akan keberadaan Allah SWT
tersebut, melainkan proses yang sesual dengan akal, etika dan hati nurani
manusia.
Dalam sebuah buku Antorpologi buah pena Drs Siti Waridah, Q dkk, ada dua
buah sifat budaya: budaya yang cenderung bertahan dan budaya yang cenderung
berubah. Pertama, budaya yang cenderung berubah yaitu budaya yang berkenaan
dengan aksesoris-aksesoris kehidupan seperti penggunaan peralatan, pakaian,
mode, style (gaya).. Kedua, budaya yang cenderung bertahan adalah budaya yang
telah mendarah daging seperti animisme (percaya terhadap ruh-ruh nenek moyang)
dan dinamisme (percaya terhadap benda-benda peninggalan nenek moyang), budaya
yang melambangkan identitas nasional seperti bahasa Indonesia dan budaya yang
merupakan pedoman hidup suatu bangsa.
Nah, bagaimana dengan korupsi apakah budaya ini tetap bertahan atau
dapat diubah atau diberantas seperti yang diimpikan oleh gerakan-gerakan anti
virus koar-koarkan. Jawabannya bisa mungkin dan bisa juga tidak. Mungkin,
apabila gerakan-gerakan anti virus itu menyentuhnya lewat pendekatan budaya dan
mengubah budaya masyarakat yang suka menerabas menjadi budaya yang suka
menjalani proses, tetapi hal ini sulit untuk dilakukan karena membutuhkan
kesadaran bersama. Perlu keyakinan yang kokoh untuk mencapai suatu
keberhasilah.
Dan korupsi juga bisa tidak mungkin dapat diberantas, apabila
gerakan-gerakan anti virus itu hanya memandang orang-orang yang korupsi,
menyiapkan berita acara atau berkas untuk melapor ke polisi. Percayalah, sampai
proses persidangan selesai, tentu akan timbul orang-orang yang lain yang masih
bertebaran melakukan praktek korupsi.
Ibarat pohon pepaya yang ingin dibuang dari tempat berpijaknya. Bagaimana
mau dibuang, kalau orang yang ingin membuangnya hanya memangkas daun-daunnya
saja. Akan tetapi, lain ceritanya kalau pohon pepaya itu dicabut dari tempat
beridirinya, sehingga tampaklah akar-akarnya. Kalau saja, korupsi diberantas
melalui model atau pengubahan mentalitas budaya, maka impian untuk memberantas
korupsi itu akan tercapai.
Yakinkah? Jujur, penulis sendiri kurang yakin karena pernyataan tersebut
terlalu idealis. Empirisnya (kenyataan), tak bisa dipungkiri bahwa manusia
memiliki dua sisi yang berbeda, bertolak belakang dan saling beroposisi. Ada
baik ada buruk, ada benar dan ada salah, ada yang indah dan ada yang jelek. Ada
kejujuran dan ada juga kebohongan dan ada juga yang setuju dengan pendapat
tulisan yang penulis tulis ini dan ada juga yang tidak setuju. Itu sudah
lumrah, namun dari 141.000 pembaca surat kabar harian Batam Pos, 80 persen
penulis yakin pembaca menyetujuinya dan 20 persennya lagi tidak. Betul atau
benar? Adalah pilihan yang tak memaksa pembaca untuk memilih.
Terakhir, pilihan yang ditentukan oleh manusia dalam hidup ini berujung
kepada surga dan neraka. Setiap manusia yang mengakui keberadaan tuhan pasti
mengakui keberadaan kedua tempat ini. Jawaban atau pilihan tersebut tidak
terlalu sulit untuk dijawab atau dipilih, kalau ingin masuk surga, maka
pilihlah budaya yang menceriminkan nilai positif 4 K (kebenaran, kebaikan,
keindahan dan kejujuran) sebaliknya kalau ingin memilih tempat yang satunya
lagi maka pilihlah lawan dari empat nilai K tadi.
Jadi, korupsi tak mungkin dapat diberantas, ini jelas hanya sebuah mimpi.
Apa pun visinya sangat sulit untuk memberantasnya. Lantas, apakah budaya
negatif seperti ini harus dibiarkan larut dan berbaur di dalam kehidupan
masyarakat. Tentu tidak, yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana caranya
mempersempit atau meminimalisir arus pergerakan perbuatan yang akan menimbulkan
efek domino ini.
Yaitu dengan cara menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama
bersikap kritis dan adanya hukuman atau sanksi (punishment) hukum yang tegas
terhadap para pelakunya. Namun, bagaimana diberikan sanksi yang tegas,
pengadilan spesialis korupsi saja ternyata tidak mempunyai landasan hukum atas
keberadaannya selama ini. Bisa jadi, koruptor-koruptor yang saat ini masih
terlunta-lunta kasusnya akan mudah bergentayangan dan menebarkan virus-virus
baru kepada generasi-generasi berikutnya.
Tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai korupsi: Pertama,
setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun juga untuk kepentingan diri
sendiri, untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan suatu badan yang
langsung menye babkan kerugian bagi keuangan dan perekenomian negara.
Kedua, setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang menerima
gaji/upah keuangan negara ataupun dari suatu badan yang menerima bantuan dari
keuangan negara/daerah yang dengan mempergunakan
kesempatan/kewenangan/kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh jabatan, langsung
atau tidak langsung membawa keuntungan materil baginya.
Mereka adalah manusia-manusia yang tak sehat. Baik jasmani maupun rohani.
Darah yang mengalir di dalam tubuh mereka adalah darah kotor, sehingga tak ayal
lagi hati dan batin mereka menjadi keruh dan hitam kelam. Sehingga tak banyak
kualitas hidup yang di dapat jika sumber yang kita dapat itu berasal dari
sumber-sumber yang tidak benar.
Orang-orang yang mempunyai harta benda dari sumber-sumber yang tidak
termasuk ke dalam kategori sebuah komunitas bernama KORUPSI (Komunitas
Orang-orang Pengingkar Segala Janji). ***
*)R. Dachroni, Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Semester IV
STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang-Kepulauan Riau.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/