http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=15353&Itemid=75


      Antara Plutokratis dan Oligarkis      
      Sabtu, 10 Maret 2007  
      Oleh: Setyasih Priherlina*)

      Hiruk pikuk partai dan kepar taian akhir-akhir ini semakin terasa. 
Partai-partai yang sudah ada mulai berbenah dari digelarnya berbagai 
musyawarah-musyawarah sampai pada tingkat konsolidasi baik internal maupun 
eksternal. Tidak dimungkiri juga partai-partai baru bermunculan. Konsep sebuah 
partai bila ditinjau dari plat form yang ditawarkan ke Publik/masyarakat tidak 
dipungkiri semua memberi ruang ideologi, demokrasi dan arah kebijakan yang sama 
bagusnya, semuanya tentu akan bersemboyan yang terbaik, terdepan, terpeduli, 
terdemokrasi, bahkan simbol-simbol agama tertentu mereka pakai demi pembesaran 
partai termoralis, terakhlaqis dan masih banyak ter-ter lainnya.


      Demi sebuah harapan dan tujuan sebuah partai akan all out dalam gerakan 
penyelarasan antara kepentingan partai dan masyarakat yang sering dijunjung 
tinggi sebagai partai yang peduli dan memperhatikan nasib rakyatnya. Semuanya 
sah-sah saja sebagai bentuk pengabdian demokratisasi kehidupan berbangsa dan 
bernegara.  Indonesia dengan kondisi multi partainya membangun sebuah pondasi 
sebagai tulang punggung dan pilar demokrasi.  Tentu yang kita maksud di sini 
adalah partai-partai yang sehat,kuat dan mampu menjalankan fungsinya dengan 
baik. Bukan partai yang terpecah belah karena adanya konflik internal yang 
berkepanjangan dan berkesinambungan.


      Dalam politik tentu mengedepankan sikap konsensus secara kelembagaan demi 
tecapainya sebuah tujuan demokratisasi di semua aspek,bukan konflik yang 
ditimbulkan. Kenyataannya dalam dunia perpolitikan bukan konsensus yyang 
dikedepankan tetapi justru konflik yang lebih dominan. Partai kecil barangkali 
contohnya, tetapi bukan tidak menafikan di Partai besar pun terjadi sebuah 
segragasi dimana partai tidak bisa memfungsikan sebagai sebuah partai yang 
modern, sepertinya dari luar kelihatan kokoh dan solid,tapi begitu diurai lebih 
kepada konflik yang dikemas dengan meninggalkan atau meminimalkan fungsi pokok 
dari sebuah partai. Demokrasi yang terjadi adalah demokrasi yang semu yang 
terjadi di antara pimpinan elit politik tertentu.


      Nuansa Plutokratis dimana yang kaya, berduit ,yang dihormati dan 
disanjung tinggi,bahkan diberi satu ruang istimewa. Bagi Politisi yang 
baik,bagus tetapi tidak berduit harus berbesar hati ketika mereka "DIRUMAHKAN" 
dengan kondisi yang diciptakan oleh yang berkuasa. Nuansa Oligarkis masih 
sangat kental di semua partai dimana setiap agenda,langkah kerja hanya 
diputuskan oleh segelintir elit politik pemegang kekuasaan/pucuk pimpinan 
partai. Tanpa disertai dengan keikutsertaan atau pembagian job sebagaimana 
mestinya. Bagaimana menggerakan, mengarahkan kebijakan partai tanpa mengikutkan 
struktur organisa partai atau organisasi under bow nya.


      Jika kedua nuansa ini terjadi di dalam tubuh partai maka sangat 
dimungkinkan membentuk partai sebagai partai yang solid,kuat dan modern jauh 
dari harapan. Yang ada justru perpecahan, penggembosan partai sehingga 
menjadikan partai yang kerdil. Sangat sulit untuk memisahkan kedua nuansa dalam 
suatu partai, tarik kepentingan pribadi akan lebih menperumit pembesaran 
partai. Yang ada hanyalah konflik-konflik yang ditimbulkan akibat keduanya.


      Bagaimana langkah selanjutnya? Konsistensi dan komitmen merupakan makanan 
yang wajib dan menjadi sebuah ruh partai dalam menajalankan plat form nya. 
Semua bermuara dari sebuah kebersamaan disamping tidak menafikan dibutuhkannya 
dana sebagai penopang kegiatan ke kelompok grass root. Dinamika yang ada 
menjadikan sebuah bergainning posisi dalam berpartai. Seandainya tidak disikapi 
secara bijak maka akan menimbulkan perpecahan bahkan tidak mungkin pembubaran 
satu partai, dimulai dengan merasa yang lebih berhak memiliki dan membesarkan 
partai. Arus plutokratis dan oligarkis semakin mengental dan menyebar sebagai 
sebuah penyakit yang sebenarnya sudah disadari bagi elit partai. Lingkungan 
yang diciptakan juga lebih memberi peluang kelancaran praktik-praktik 
terselenggaranya kekuasaan penangguhan konsensus sehingga yang dimunculkan 
adalah konfliknya. Partai yang besar maupun kecil juga demikian. 


      Ironisnya bila yang melingkari partai-partai justru bukan elit partai 
yang bersangkutan tetapi pada kekuasaan orang di luar lingkaran partai. Sangat 
desesalkan hal demikian karena akhirnya praktek oligarki akan mematikan 
demokrasi sebagai ruh berpolitik, demokrasi tidak berdaya manakala harus 
berhadapan pada siapa yang berkuasa? Kungkungan yang seperti ini ada yang 
menyadari tapi banyak yang lebih 'nuli" (pura-pura tidak dengar) ketika diberi 
satu jabatan politis. Maka dibutuhakan satu keberanian manakala kita masih 
menginginkan bermartabat dan bermaruah dalam berpolitik. Jadikan satu tujuan 
yang sama bahwa kepentingan platform partai di atas segala-galanya, kepentingan 
masyarakat sebagai objek sebuah partai harus dijunjung tinggi. Tapi apakah 
sesederhana itu pelaksanannya? Tentu tidak. 


      Di dalam perpolitikan ada dua posisi, posisi sabagai partai pendukung dan 
posisi sebagai partai oposan. Tentu sebegai pendukung akan berusaha menutupi 
aib yang dibawa,keputusan apapun yang dimunculkan akan dibawa dan dibela 
mati-matian. Demikian juga jika melindungi oknum tertentu maka sebuah partai 
pendukung pun akan dengan suka rela berjibaku untuk membela klien nya. Demikian 
halnya oposan akan lebih bersifat sebagai kritikus ulung walaupun sebenarnya 
mereka ikut di dalam pengambilan kebijakan setidaknya mempengaruhi juga dalam 
pelaksanan politik penguasa. Akankah demikian? Sangat jelas tindak tanduknya. 
Dengan bebagai cara mereka lakukan mulai penempatam job-job strategis jangan 
sampai jatuh ke tangan orang lain melainkan masih dalam koridor dan kendali 
partai-partai multi sebagai pendukung. Pembenaran sepihak sesuai dengan 
kepentingan partai maka apapun bentuk aturan yang telah mereka putuskan akan 
diabaikan begitu saja. 


      Melalui perpanjangan tangannya maka partai akan memfungsikan sikap dukung 
mendukung tadi. Melalui apa? Simpel saja pembagian komisi-komisi di DPRD adalah 
contoh yang nyata. Suka atau tidak pengkotakan di dalam sisitim Komisi walau 
aturannya sudah jelas toh masih banyak yang bertahan tetap di komisi 
masing-masing, barangkali peneropongan the right man in the right olikartis 
yang tepat, karena mereka ditempatkan oleh nuansa dimana yang kaya,yang elit 
yang berkuasa. Sehingga mereka bukan ditempatkan yang tepat melainkan diberi/ 
hibah jabatan, asal bukan orang di luar kolusi lingkaran partai yang sama. 


      Mudah-mudahan demikian, berkolusi bukan karena kekuasaan orang di luar 
partai dalam menguasai dan menjalankan kebijakan partai . Nampaknya masih perlu 
perjalannan yang panjang untuk sedikit demi sedikit menghilangkan dominasi 
plutokratis dan oligarkis. Tentu harus bisa, asal ada kemauan untuk menjadika 
Partai yang elegan, mandiri dan berjiwa besar.  Waallahu'alam bisshshowaab.***


      *)Setyasih Priherlina, Anggota Fraksi PAN DRPD Kota Batam
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke