http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/04/0901.htm
Tertimpa Biaya Siluman Oleh Drs. H. TEDDY SANGUDI, Ak. SECARA umum, siluman diartikan sebagai jadi-jadian, atau makhluk halus yang tak dapat dilihat. Biaya siluman adalah biaya jadi-jadian. Jika kita mengurus sesuatu lalu sesuai dengan ketentuan yang berlaku (dan tanda terima resmi) harus membayar Rp 1 juta, tetapi yang nyatanya kita keluarkan Rp 2,5 juta, maka selisih pengeluaran sebesar Rp 1,5 juta itu adalah biaya siluman. Biaya jadi-jadian. Dan sebagaimana siluman, biaya siluman juga tidak kelihatan karena tidak ada buktinya. Tidak ada tanda terimanya. Sebagaimana siluman yang bisa mencala putra mencala putri (menampakkan dirinya dalam rupa apa pun), biaya siluman pun bisa menampakkan diri pada keadaan apa pun. Dia bisa menampakkan diri pada suatu urusan yang sebenarnya sah, benar, hak, sesuai aturan, bukti lengkap, dan persyaratan memenuhi. Akan tetapi, jika kita mengurusnya sesuai prosedur dan biaya resmi, kita akan sulit (baca : dipersulit) memperoleh penyelesaiannya. Ini bisa terjadi antara lain karena tidak ada batas waktu penyelesaian. Oleh karena itu, jika kita menanyakan urusan kita, penyelenggara urusan bisa dengan enteng mengatakan belum selesai, belum, belum, .... padahal berkas data dan permohonan kita selalu berada di tumpukan paling bawah. Entah kapan akan selesai, bisa satu tahun, dua tahun, lima tahun atau entah kapan, karena berkas kita akan selalu terdahului oleh berkas lain yang masuk belakangan, tetapi "lebih pintar". Kantor Pajak telah memberikan contoh yang baik. Permohonan keberatan dan atau permohonan restitusi pajak, jika dalam waktu dua belas bulan sejak permohonan diterima oleh kantor pajak belum diterbitkan keputusan (belum selesai), permohonan wajib pajak dianggap diterima. Kiranya kebijakan ini wajib diterapkan di instansi lain. Yang paling banyak biaya siluman menampakkan diri pada urusan yang sebenarnya tidak sah, tidak benar, tidak hak, menyalahi aturan, melanggar hukum, bukti tidak lengkap, dan persyaratan tidak memenuhi. Biaya siluman yang menampakkan diri di sini umumnya lebih besar, bahkan amat besar sehingga iman pun luntur. Akibatnya, orang mempersekutukan Allah SWT dengan harta. Konon biaya siluman jenis ini sangat sakti. Yang putih bisa jadi hitam, yang hitam bisa jadi putih. Yang tidak ada bisa jadi ada, yang ada bisa jadi tidak ada. Yang bersalah bisa jadi bebas murni, yang tidak bersalah bisa dikambinghitamkan. Yang merusak lingkungan dilegalkan, bahkan menjadi pahlawan lingkungan. Wallahua'lam, mungkin ini yang dimaksud dalam firman Allah SWT : Dan apabila dikatakan kepada mereka "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi", mereka berkata "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS 2 : 11 ). Keharmonisan alam, tatanan, aturan, hukum, bahkan kebenaran dengan gampang bisa dilanggar dan diputarbalikkan. Lain lagi biaya siluman yang menampakkan diri di badan usaha milik negara dan atau perusahaan daerah. Di sini umumnya biaya siluman dikeluarkan sebagai upeti kepada penguasa dan atau golongan (partai). BUMN dan atau PD, khususnya yang strategis, menjadi rebutan untuk dijadikan sapi perah. Besarannya tidak usah ditanya. Tidak heran bila hampir semua BUMN dan atau PD tidak efisien. Kondisi tidak efisien ini dibiarkan berlarut-larut. Efisien artinya berdaya guna, memberikan hasil yang baik dalam bekerja dengan tidak menghambur-hamburkan uang, waktu, tenaga, dan sebagainya (KUBI, Pustaka Sinar Harapan, 1994). Penguasa sengaja tidak mau memperbaiki kinerja buruk perusahaan (menghambur-hamburkan uang) karena akan kehilangan sumber pembiayaan bagi diri dan atau golongannya. Oleh karena itu, jangan buru-buru menyalahkan rakyat bila melakukan demo setiap kali harga produk BUMN dan atau PD diumumkan naik. Pengusaha senantiasa memperhitungkan setiap rupiah yang mereka keluarkan. Mereka mengalkulasi berapa pengeluaran, berapa pendapatan yang harus diperoleh kembali (matching cost against revenue). Mereka tidak mau rugi. Demikian juga atas biaya siluman yang telah mereka keluarkan. Itu bukan sumbangan atau hadiah suka rela yang dikeluarkan dari kocek pribadi mereka. Mereka akan memperhitungkannya dalam perhitungan rugi laba usaha. Dengan berbagai cara, mereka akan berupaya untuk memperolehnya kembali. Salah satu cara adalah dengan menaikkan harga produk. Harga barang menjadi lebih mahal dari yang seharusnya. Upah buruh di negeri ini paling murah jika dibandingkan dengan negara lain. Perlindungan terhadap buruh pun sangat kurang. Pencari kerja dipaksa untuk bersedia menandatangani kontrak kerja untuk masa amat pendek dua tahun, satu tahun, bahkan tiga bulan. Tidak ada masa depan untuk sebagian besar dari mereka. Tidak ada jenjang karier. Tidak ada kenaikan gaji. Seharusnya kondisi demikian menjadi unggulan untuk menjadikan harga produk murah. Akan tetapi, berbagai macam pungutan dan upeti siluman menjadikan negeri ini negeri ekonomi biaya tinggi. Oleh karena itu, ketika produk tekstil, elektronik, holtikultura, pecah belah, dan lain-lain dari Cina, Taiwan, Korea Selatan, Muangthai, Vietnam masuk membanjiri pasar dalam negeri, kita tidak bisa bersaing. Padahal di dalam negeri sendiri, kita tidak perlu mengeluarkan biaya shipment, apalagi bersaing dalam pasar global. Akibatnya, barang-barang hasil produksi dalam negeri tidak laku karena harganya lebih mahal. Banyak perusahaan khususnya perusahaan tekstil bangkrut. Jumlah pengangguran bertambah. Negara tidak bisa memungut pajak dari mereka, padahal saat ini pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Cara lain adalah dengan jalan memperhitungkan pengeluaran biaya siluman itu dalam penghitungan penghasilan kena pajak agar pajak yang harus dibayar menjadi lebih rendah dari yang seharusnya. Biaya siluman adalah pengeluaran yang tidak ada bukti (ekstern) pengeluarannya (no evidence). Tidak ada bukti tanda terima dari para penerimanya (siapa yang mau, apa mau masuk bui). Yang ada hanya bukti kas (bukti intern). Ada perbedaan perlakuan antara akuntansi dan fiskal atas pengeluaran yang tidak disertai dengan bukti ekstern. Secara akuntansi, sesuai dengan asas konservatif (keberhati-hatian) walaupun pengeluaran itu hanya disertai dengan bukti intern dapat diperhitungkan sebagai biaya yang mengurangi perolehan laba bersih (net income). Akan tetapi secara fiskal, pengeluaran yang tidak disertai dengan bukti ekstern, tidak dapat diperhitungkan sebagai biaya yang mengurangi perolehan penghasilan kena pajak (non deductible). Para pengusaha amat paham perihal itu, maka pengeluaran biaya siluman tidak akan secara jelas dicantumkan dalam laporan keuangan. Mereka akan menyelundupkannya dalam pengeluaran biaya yang lain. Dahulu biasanya mereka masukkan biaya siluman itu ke dalam biaya promosi dan atau biaya entertainment. Namun, teknik yang amat sederhana ini dengan mudah akan dapat diketahui oleh pemeriksa pajak dan dilakukan koreksi fiskal. Sekarang, teknik penyelundupannya sudah sangat jauh lebih maju dan canggih sesuai dengan perkembangan akuntansi dan teknologi informasi yang amat pesat. Dengan jalan itu, mereka secara lihai dapat mengurangkan pengeluaran biaya siluman itu dalam penghitungan penghasilan kena pajak. Akibatnya, pajak yang terutang akan menjadi lebih rendah daripada yang seharusnya. OLeh karena itu, siapakah sesungguhnya yang menanggung biaya siluman itu? Apakah kita tidak berpikir jika biaya siluman itu menjadikan harga barang dan jasa lebih mahal, kocek rakyat akan terkuras lebih banyak? Bahkan sebagian dari mereka tidak mampu membeli. Rakyat akan bertambah miskin. Jika kondisi itu menjadikan banyak perusahaan bangkrut karena tidak bisa bersaing, lalu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, rakyatlah yang menderita. Jumlah rakyat yang menganggur bertambah banyak. Kesempatan/lowongan kerja baru sulit tercipta karena ekonomi biaya tinggi menyebabkan pihak asing enggan menanamkan modalnya. Jika biaya siluman itu menyebabkan pajak yang dipungut menjadi lebih rendah daripada yang seharusnya karena penyelundupan pajak dan atau karena banyak perusahaan yang bangkrut sehingga tidak dapat dipungut pajak, rakyat juga yang akan menanggungnya. APBN kita sangat bergantung kepada penerimaan pajak. Jika penerimaan pajak tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan, gaji PNS, TNI, polisi, dan pensiunan akan tetap rendah. Gaji yang rendah itu tidak akan pernah dapat mengimbangi laju inflasi. Anggaran pendidikan yang dicita-citakan sebesar 20% dari APBN tidak akan pernah tercapai. Sekolah menjadi semakin mahal, namun mutunya semakin rendah. Rakyat menjadi semakin bodoh. Pencetakan areal sawah baru tidak akan pernah dapat terwujud, sementara areal sawah yang ada sudah semakin menciut karena dibangun perumahan, pabrik, dan lapangan golf. Dana yang kurang juga menyebabkan tidak dapat membangun jaringan irigasi dan drainase (infrastruktur) yang memadai, apalagi yang sempurna. Akibatnya sawah jika musim kemarau kekeringan, jika musim hujan kebanjiran. Gagal panen terjadi di mana-mana. Persediaan beras menjadi sangat berkurang dan harganya menjadi amat mahal. Ternyata rakyatlah yang pada akhirnya menanggung beban biaya siluman. Sebagian rakyat negeri ini yang sudah jatuh (bodoh, miskin, menganggur), tertimpa pula biaya siluman. Infrastruktur yang buruk menyebabkan kita kekurangan beras. Harga beras menjadi amat mahal tidak terjangkau. Kelaparan terjadi di mana-mana. Banyak di antara mereka yang hanya bisa makan satu kali sehari. Banyak pula yang hanya bisa makan nasi aking, nasi sisa yang dikeringkan. Mereka memperoleh bahan bakunya (nasi sisa) dari mengais di tempat pembuangan sampah rumah makan, bahkan di tempat pembuangan sampah rumah sakit yang sudah ternoda oleh kapas, perban, kassa, dan pembalut bekas luka. Astagfirullah, mereka adalah anak bangsa negeri ini. Di antara mereka mungkin ada yang bapak atau kakeknya adalah pahlawan bangsa yang telah mengorbankan harta, raga, dan jiwanya demi negeri tercinta ini. Wa la qad adhalla minkum jibillan katsiiran afalam takuunuu ta'qiluun (Dan sungguh setan telah menyesatkan makhluk yang banyak di antara kamu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Yaasiin : 62). Semoga kita berpikir! Atau sudah membatukah hati kita? Lalu, tega-teganya berkata, "Emang gue pikirin!?"*** Penulis, akuntan, pemerhati pajak tinggal di Bandung [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
