http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/04/0902.htm


Pesantren Dalam Tarik-menarik Partai Politik
Oleh Dr. H. FADLIL MUNAWWAR MANSHUR, M.S. 
  Pesantren dan partai politik sesungguhnya dua entitas yang agak berjauhan. 
Pesantren lebih identik dengan pendidikan yang bersentuhan dengan keilmuan dan 
moralitas, sedangkan partai politik lebih dekat pada upaya bersama untuk 
meraih, mempertahankan, dan merebut kekuasaan. 

Pesantren dalam kehidupan kesehariannya sibuk dengan kajian kitab yang membahas 
pandangan ulama-ulama klasik dan modern tentang berbagai disiplin ilmu agama 
Islam, sedangkan partai politik sibuk dengan penyusunan platform partai dengan 
segala strategi dan taktik politik untuk memperoleh kekuasaan demi memajukan 
bangsa dan negara serta menyejahterakan rakyat.

Di pesantren telah tertanam budaya tanpa pamrih dalam mengerjakan apa saja yang 
diperintahkan kiai, asal pekerjaan itu baik dan bermanfaat untuk umat dan orang 
banyak. Dalam tradisi pesantren, sikap ini disebut ikhlas dan patuh. Misalnya, 
kiai mengisyaratkan kepada para santrinya untuk memilih partai politik 
tertentu, maka mereka mematuhinya dengan dasar bahwa partai politik yang 
dipilihnya itu akan menegakkan politik moral, bukan hanya politik kekuasaan. 

Adapun di partai politik, budaya tanpa pamrih dan politik moral merupakan 
sesuatu yang kecil kemungkinan terjadi karena setiap tindakan yang dilakukan 
anggota partai telah terbentuk beberapa rumus politik, yaitu, (a) siapa 
mendapatkan apa?, (b) siapa mengalahkan siapa?, (c) siapa yang menjadi 
saingan?, dan (d) siapa yang menjadi teman seiring?. Jadi, di pesantren telah 
terbangun citra bahwa partai itu semestinya membangun politik moral sebagai 
salah satu basis utamanya dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan. Dengan 
demikian, politik kekuasaan yang sudah menjadi ciri utama partai politik harus 
didampingi dengan politik moral agar kekuasaan yang diraihnya tidak mengarah 
pada penghalalan segala cara.

Sebuah pesantren bisa muncul dan terkenal biasanya karena ketokohan dan aura 
keulamaan kiainya. Kiai dalam konteks ini adalah simbol masyarakat santri yang 
santun, pandai, dan berwibawa yang sangat dihormati dan dicintai pengikutnya, 
bahkan oleh masyarakat luas yang simpati kepadanya. Pada sisi lain, partai 
politik pun bisa berkembang menjadi besar, di samping karena sistem yang 
dibangunnya baik dan modern juga karena pemimpin partainya pintar dan memiliki 
karisma besar yang mampu menyedot perhatian dan simpati masyarakat luas. Itulah 
sebabnya pemimpin partai itu harus mampu menjadi magnet yang dapat merebut 
simpati rakyat dan harus berupaya sekuat tenaga untuk menyejahterakan rakyat 
pendukungnya. 

Dalam konteks politik moral, bagi pesantren, politik hanyalah instrumen 
keduniaan untuk meraih kekuasaan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Kaidah 
ini mempunyai konsekuensi bahwa apabila, misalnya, partai politik itu tidak 
mampu memotivasi dan mengarahkan masyarakat pendukungnya untuk meraih kekuasaan 
berdasarkan politik moral, politik itu menjadi tidak berguna sama sekali. Bagi 
masyarakat pesantren, politik harus dijalankan secara santun dan menurut kaidah 
politik moral yang kemudian bisa membimbing para pemegang amanah kekuasaan agar 
tidak keluar dari rel moral agama. Hal ini perlu ditekankan karena saat ini 
banyak orang yang tergelincir ke dalam low politics, yaitu politik praktis yang 
selalu mempragmatiskan persoalan yang seharusnya berada di atas nilai-nilai 
luhur agama dan susila. 

Jadi, sebuah pesantren seharusnya dapat memosisikan dirinya secara tepat dalam 
arus besar (mainstream) politik nasional dan politik daerah agar jati dirinya 
tetap terjaga dan citranya sebagai lembaga pendidikan tetap terpelihara. Hal 
ini memang sangat sulit karena pesantren senantiasa berada dalam arus 
persaingan kekuatan-kekuatan politik yang mengharapkan dukungan moral dan 
kontribusi suara politik dari pesantren ini melalui figur kiainya.

Ketika zaman Orde Baru, tidak sedikit pesantren yang dipandang lebih condong ke 
sebuah partai politik besar yang ketika itu menjadi penguasa negeri ini. Akan 
tetapi pada zaman reformasi, ketika perundang-undangan politik Indonesia 
menerapkan sistem multipartai, tidak sedikit pula pesantren yang menggeser 
bandul politiknya ke partai-partai politik baru. Perubahan orientasi dan 
kontribusi suara kiai ke partai-partai politik baru diibaratkan sebuah 
"pasangan pengantin baru" yang sedang berbulan madu, yang kemungkinan akan 
mencair kembali setelah "bulan madu" itu selesai.

Sikap para kiai terhadap perubahan politik nasional memang beragam. Ada yang 
akomodatif, tetapi ada pula yang konfrontatif. Sikap-sikap semacam itu 
dipandang wajar karena pesantren adalah entitas yang sengaja diciptakan khusus 
untuk pendidikan Islam, bukan untuk bermain politik. Tidaklah mengherankan 
apabila ada sejumlah kiai yang ingin mencoba terjun ke dunia politik sebagai 
ijtihadnya untuk mewarnai kehidupan politik yang dikategorikan sebagai dunia 
sekuler. Para penganut mazhab ini berpandangan bahwa pesantren tidak boleh 
rigid dan kaku terhadap politik karena politik adalah bagian dari agama Islam 
yang komprehensif. Kiai bermain politik adalah bagian dari ibadahnya kepada 
Allah SWT. Akan tetapi, di pihak lain, tidaklah mengejutkan apabila ada 
sejumlah kiai lain yang berijtihad bahwa pesantren harus steril dari 
warna-warni politik praktis. Para penganut mazhab ini berpendapat bahwa 
masyarakat pesantren dikhawatirkan terkotak-kotak apabila kiainya terjun ke 
salah satu partai politik. Keadaan ini berisiko tinggi terhadap integrasi 
pesantren. 

Sikap partai politik terhadap pesantren biasanya dikaitkan dengan pertanyaan, 
apakah sebuah pesantren mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat luas dan 
lingkungan sosial yang berada di luarnya sehingga dapat dijadikan sebagai salah 
satu sumber perolehan suara pada pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala 
daerah (pilkada)? Setiap perubahan peta dan konstelasi politik nasional 
biasanya akan mengubah tatanan kenegaraan dan kemasyarakatan. Dalam hal ini, 
pesantren yang hidup dalam komunitas luas, juga sangat dipengaruhi oleh 
perubahan-perubahan sosial politik nasional itu. Misalnya, perubahan itu akan 
berdampak pada sikap dan orientasi kiai yang menjadi pengasuh pesantren dan 
memiliki pengikut yang besar. 

"Serangan" dan "pendekatan" yang bertubi-tubi dari infrastruktur politik 
(pemerintah dan para fungsionaris partai politik) terhadap kiai, dan sang kiai 
itu, misalnya, mengakomodasinya maka posisi pesantren pun sedikit atau banyak 
akan berubah. Perubahan ini akan terlihat ketika sebuah hasil pemilu atau hasil 
pilkada menunjukkan bahwa tokoh politik yang didukung kiai tersebut menang. Ini 
menunjukkan bahwa pengaruh kiai itu masih besar. Akan tetapi sebaliknya, 
apabila tokoh politik yang didukung kiai itu kalah, para pengikut kiai itu 
seolah-olah meminta izin kepada kiainya bahwa mereka ingin independen dalam 
pilihan politiknya. Artinya, mereka ingin bebas dan tidak terikat dengan 
pilihan politik kiainya (patronnya). Hal ini tidaklah berarti bahwa mereka 
tidak mematuhi perintah kiainya karena dalam hal-hal nonpolitik, para 
pengikutnya itu masih tetap setia. 

Dalam konteks ini, hal yang perlu diperhatikan oleh pesantrten adalah sistem 
nilai yang sudah lama dibangun oleh kiai dan masyarakat pesantrennya. Apabila 
tidak hati-hati menghadapi setiap perubahan sosial politik nasional, orientasi 
pendidikan pesantren akan bergeser dari tafaqquh fid-din (mendalami agama) ke 
tafaqquh fis-siyasah (mendalami politik) yang lebih kompleks dan berisiko 
tinggi (high risk). Apabila hal ini terjadi, para pengelola pesantren akan 
berhadapan dengan nilai-nilai baru yang bisa berdampak positif, tetapi bisa 
juga berdampak negatif.

Dampak positif yang diperoleh pesantren adalah terbukanya akses yang lebar 
terhadap insfrastruktur politik dan ekonomi sehingga akan memudahkan pesantren 
dalam memperluas jaringan kerja sama dengan pihak luar, baik dari dalam maupun 
luar negeri. Akibatnya, pesantren akan dikenal lebih luas oleh masyarakat 
nasional dan internasional. Adapun dampak negatif yang mungkin dirasakan 
pesantren adalah kegamangan dan kehilangan pegangan para santri dan masyarakat 
pendukungnya apabila sebuah pesantren terlalu jauh terjun dalam politik 
praktis. Kekhawatiran ini beralasan karena bagaimanapun pesantren adalah 
lembaga pendidikan Islam yang menjadi benteng terakhir dalam tafaqquh fid-din. 
Apabila benteng terakhir ini jebol, harapan umat untuk menjadikan pesantren 
sebagai pusat keunggulan (centre of exellence) dalam kajian ilmu-ilmu agama 
Islam berbasis akhlaqul-karimah akan sirna. 

Dengan demikian, ketika sudah terlalu banyak tokoh Islam terjun ke dunia 
politik praktis maka kiai sebagai panutan umat dan masyarakat luas, akan lebih 
tepat apabila memosisikan diri sebagai pemegang amanah mulia dalam mengantarkan 
para santri untuk menjadi calon ulama dan pemimpin masyarakat. Pandangan ini 
bukanlah mengecilkan dan menafikan ketokohan kiai dalam bidang nonpendidikan, 
seperti politik dan ekonomi, tetapi hal yang perlu diingat adalah menyelamatkan 
pesantren dari peran dan tugas utamanya sebagai lembaga tafaqquh fid-din agar 
tidak tergoda menjadi lembaga politik.*** 

Penulis, wakil pengasuh Pesantren Darussalam Ciamis, dosen Kajian Timur Tengah 
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), dan dosen Fakultas Ilmu 
Budaya UGM Yogyakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke