http://www.indomedia.com/bpost/042007/5/opini/opini4.htm

Dalam Hancur, Luar Babak Belur

PADA masa lalu Indonesia menjadi negara yang dikenal luas oleh dunia karena 
keberhasilannya dalam menjalankan peran internasional. Pada 1955, sebagai 
negara muda Indonesia menjadi salah satu pencetus Konferensi Asia Afrika di 
Bandung. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan gerakan nonblok, yaitu sebuah 
kelompok beranggotakan negara yang tidak mau terikat dengan Blok Barat (Amerika 
Serikat) atau Blok Timur (Uni Soviet). 

Sampai saat ini gerakan nonblok masih punya peran, meski yang dihadapi bukan 
lagi dominasi secara geografis dan ideologis tetapi lebih pada dominasi ekonomi 
oleh negara kaya. Itu lah karya besar tokoh tokoh dunia saat itu termasuk 
Soekarno, Presiden RI yang tidak pernah takut menghadapi siapa pun.

Bung Karno berani menantang Inggris yang 'memberikan' Sarawak, negeri 
jajahannya, kepada Kerajaan Malaysia, meski secara geografis lebih dekat dengan 
Indonesia. Bung Karno marah dan menyatakan konfrontasi kepada Malaysia. Amerika 
Serikat juga tidak lepas dari dampratan Bung Karno, karena sebagai negara besar 
Amerika sering menekan negara lain untuk keuntungannya sendiri.

Paling spektakuler adalah sikap Indonesia yang dengan berani menyatakan keluar 
dari keanggotaan Peserikatan Bangsa Bangsa (PBB), karena organisasi dunia ini 
dianggap hanya antek imperialis. Keputusan Indonesia waktu itu mencengangkan 
dunia.

Itu semua tidak lepas dari peran Bung Karno sebagai presiden. Berani, tegas dan 
tidak tedeng aling-aling, sehingga disegani kawan dan ditakuti lawan. Diplomasi 
Indonesia di dunia internasional benar-benar bersinar, apalagi ditambah dengan 
diplomat yang andal sekaliber Ruslan Abdulgani, Ali Sastro Amidjojo, Adam Malik 
dan lain-lain. Meski negara miskin, namun Indonesia tidak lenyap dari 
percaturan. Bung Karno bisa disejajarkan dengan para pemimpin dunia yang 
berpengaruh saat itu.

Tetapi itu keadaan masa lalu. Sejak Soekarno lengser policy pemerintahan 
berubah. Pembangunan ekonomi di bawah pemerintahan Soeharto mengenyampingkan 
percaturan diplomasi. Hubungan luar negeri lebih bersifat formal, bahkan pos 
duta besar lebih merupakan tempat bagi orang-orang buangan. Peran 
internasionalnya lebih banyak di kawasan regional seperti ASEAN. Mau tidak mau, 
ini membuat diplomat kita menjadi 'kuper' --meminjam bahasa gaul yang artinya 
kurang pergaulan.

Akibatnya bisa kita lihat sekarang, urusan dengan luar negeri menjadi 
kedodoran, diplomasi kita lemah dan di dunia internasional kita tidak 
diperhitungkan. Diplomasi mencerminkan wajah suatu negara di luar negeri. 
Mungkin Indonesia lebih dikenal, karena banyaknya teroris dan TKW (Tenaga Kerja 
Wanita) yang bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

Mari kita tengok ke belakang. Ketika Habibie menjadi presiden, Indonesia 
kehilangan Timor Timur. Diplomasi kita jeblok, sehingga kita tidak berperan apa 
pun dalam jajak pendapat. Indonesia dikibuli oleh Sekjen PBB yang sudah 
mengarahkan kemenangan untuk kelompok yang menolak integrasi dengan Indonesia. 
Kasus Timtim baru saja lewat, kita dipermalukan oleh Mahkamah Internasional 
yang memenangkan Malaysia dalam perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan.

Belum puas dengan kemenangan Sipadan-Ligitan, Malaysia menduduki perairan 
Ambalat yang menjadi bagian dari teritorial RI. Sementara itu negeri tetangga 
yang lain, Singapura diam-diam telah menambah wilayahnya sejauh 17 kilometer ke 
arah Indonesia, sementara Indonesia kehilangan tujuh kilometer. Ini akibat 
reklamasi yang membuat garis pantai Singapura makin maju, sementara permintaan 
Indonesia untuk membicarakan batas negara tidak pernah digubris. 

Yang menyakitkan, pasir dan tanah yang digunakan Singapura untuk reklamasi 
diimpor dari Indonesia. Dua pulau di Riau Kepulauan kini nyaris tenggelam 
karena tanahnya digali terus menerus. Singapura juga menjadi tempat pelarian 
para konglomerat hitam Indonesia yang membawa lari uang kita. Indonesia tidak 
bisa berkutik, karena Singapura menolak untuk segera menyelesaikan perjanjian 
ekstradisi.

Belum selesai kasus yang satu, kini diplomasi Indonesia blunder lagi. Sebagai 
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia setuju atas sanksi lebih 
berat terhadap Iran karena program nuklirnya, padahal Iran sahabat kita. 
Kesannya, Indonesia dipengaruhi oleh musuh Iran, siapa lagi kalau bukan 
Amerika. Itulah wajah bangsa kita, di dalam negeri hancur, di luar negeri babak 
belur


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke