(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)



Catatan A. Umar Said



Tentang kasus peracunan Munir

dan keterlibatan unsur BIN



Dengan dimasukkannya dalam tahanan dua tersangka baru, yaitu Indra Setiawan
dan Rohainil Aini dari Garuda Indonesian Airways,  berkaitan dengan  kasus
pembunuhan berencana terhadap Munir, maka cerita panjang yang penuh «
misteri » ini muncul kembali dalam pembicaraan banyak orang di berbagai
kalangan dan dalam pers Indonesia.



Kita semua berharap bahwa kasus pembunuhan Munir akhirnya akan bisa
diselesaikan menurut  hukum secara tuntas,  seadil-adilnya dan juga menurut
kebenaran. Sebab, sejak peracunan terhadap pejuang HAM ini dalam bulan
September 2004 ketika dalam perjalanan Jakarta-Amsterdam (jadi hampir tiga
tahun yang lalu), sudah banyak sekali langkah-langkah yang telah diambil
oleh berbagai fihak untuk mengusut peristiwa pembunuhan ini, tetapi toh
sampai sekarang masih tetap belum ada pelaku yang sebenarnya yang dihukum.



Dari penyelidikan yang sudah dilakukan oleh berbagai fihak selama beberapa
tahun itu, kelihatan bahwa pembunuhan Munir ini telah direncanakan secara
rapi sekali dan menyangkut banyak kalangan, terutama unsur-unsur dari dinas
rahasia militer atau BIN bersama-sama oknum-oknum Garuda.



Karena itu, walaupun presiden SBY sudah membentuk TPF (Tim Pencari Fakta)
untuk  mengusut peristiwa  ini, dan Mabes Polisi RI sudah pula mengadakan
berbagai langkah, tetapi orang-orang yang bertanggungjawab langasung atau
tidak langsung, dan terutama orang-orang yang memerintahkan peracunan ini,
belum dihukum.



Bahkan, pilot Garuda yang bernama Pollycarpus, yang didakwa sebagai pelaku
pembunuhan ini, dan   sudah dijatuhi hukuman 14 tahun penjara, telah
dibebaskan oleh Mahkamah Agung, dengan alasan bahwa tuduhan terhadapnya
tidak terbukti.



Sekarang, dengan ditangkapnya Indra Setiawan dan Rohainil Aini, apakah
berarti bahwa pengusutan kasus peracunan Munir akan mencapai kemajuan yang
berarti? Meskipun ada orang-orang yang mempunyai harapan besar akan adanya
jawaban yang positif terhadap pertanyaan yang demikian ini, tetapi sayang
sekali, bahwa perlu sekali terus terang dikatakan: belum tentu !!!



Satu kekuatan berdiri dibelakangnya


Sebab, seperti yang diduga oleh banyak kalangan, di belakang peristiwa
pembunuhan Munir ini berdiri satu kekuatan yang selama puluhan tahun rejim
militer Suharto dkk sangat besar kekuasaannya dan pengaruhnya, yaitu TNI-AD
beserta segala aparat-aparatnya, termasuk BIN (atau BAIS).  Dalam banyak
artikel atau berita dalam pers mengenai kasus peracunan Munir ini nama-nama
tokoh-tokoh penting dalam BIN seperti  -- antara lain --, Muhdi,
Hendropriyono, Nurhadi, sudah disebut-sebut



Dugaan banyak orang ini didasarkan pengalaman selama puluhan tahun Orde
Baru, ketika banyak terjadi banyak peristiwa-peristiwa  pembunuhan atau
pelanggaran HAM di masa yag lalu, di mana unsur-unsur militer (terutama
TNI-AD) sudah sering tersangkut. Dalam kaitan ini perlu diingat bersama
pembunuhan besar-besaran terhadap jutaan orang tidak bersalah tahun
1965—1966, pembunuhan terhadap puluhan ribu kader-kader PKI tanpa
pengadilan, pembunuhan besar-besaran terhadap kalangan Islam di Lampung,
peristiwa berdarah di Tanjung Priok,  peristiwa Semanggi I dan II,
“hilangnya” sejumlah aktivis-aktivis PRD, peristiwa rasialis Mei 1998 dll
dll. Seperti halnya kasus Munir, orang-orang yang bertanggung-jawab terhadap
kasus-kasus ini (terutama dari unsur-unsur TNI-AD) juga  tidak pernah
dihukum seadil-adilnya.



Mungkin saja, kasus pembunuhan Munir baru akan terbongkar sepenuhnya dan
orang-orang yang bertanggungjawab  atasnya juga baru akan bisa dihukum
secara adil, kalau pimpinan TNI-AD dengan berani dan dengan tulus mau
membongkar segala borok-boroknya yang parah, yang sudah diidap selama
puluhan tahun. Sebab, seperti yang bisa diamati oleh banyak orang, selama
ini (sejak masa rejim militer Orde Baru) ada kebiasaan di kalangan pimpinan
TNI-AD untuk menutup-nutupi berbagai borok, kejahatan, atau kesalahan,  yang
dilakukan oleh kalangan TNI-AD pada khususnya, atau oleh kalangan ABRI pada
umumnya.



Yang demikian ini bisa dimengerti, kalau mengingat bahwa TNI-AD (di bawah
pimpinan Suharto) adalah pencipta, dan juga tulang-punggung utama Orde Baru.
Ada orang-orang yang mengatakan bahwa rejiim militer Orde Baru pada intinya
adalah TNI-AD, atau bahwa jati-diri  Orde Baru adalah sebenarnya TNI-AD.
Karena itu, begitu besarnya  kekuasaan dan pengaruh Suharto selama puluhan
tahun sehingga bisalah dikatakan bahwa Suharto adalah TNI-AD, dan TNI-AD
(dan Golkar!!!) adalah Orde Baru.



Sudah dijijikkan atau dinajiskan dalam tahun 1998



Dalam kaitan inilah  orang melihat bahwa Orde Baru sudah dijijikkan (atau
dinajiskan)  oleh gerakan nasional mahasiswa Indonesia sehingga  bisa
memaksa turunnya Suharto dalam tahun 1998. Gerakan besar-besaran mahasiswa
ini  sebenarnya juga merupakan penolakan atau perlawanan mahasiswa (dan
rakyat) terhadap praktek-praktek buruk yang sudah dijalankan oleh TNI-AD
(dan Golkar) selama puluhan tahun Orde Baru.



Jadi, sebenarnya, berbagai kesalahan berat (terutama di bidang HAM) yang
dilakukan oleh unsur-unsur atau kalangan TNI-AD sudah sejak lama diketahui
oleh banyak orang di Indonesia (dan juga di luar negeri). Dari segi ini,
dengan terus-terang dan jujur dapatlah dikatakan bahwa reputasi atau “nama
baik” TNI-AD sudah lama tidak “indah” lagi bagi banyak sekali orang di
Indonesia. Bahkan ada masanya, ketika berbagai kalangan TNI-AD sudah
dianggap memusuhi rakyat atau anti-rakyat. Karena, sudah terlalu banyak,
atau terlalu sering, adanya bermacam-macam pelanggaran atau kejahatan yang
dilakukan oleh mereka.



Mungkin dari sudut pandang ini pulalah kita bisa melihat kasus peracunan
Munir sekarang ini. Banyak kecurigaan atau dugaan orang yang
menyangkut-pautkan pembunuhannya dengan orang-orang tertentu di BIN, karena
adanya hubungan dekat  antara pilot Garuda Pollycarpus dengan instansi
militer ini. Meskipun dengan segala macam cara -- dan melalui berbagai
jalan -- fihak pimpinan TNI (terutama pimpinan BIN) berusaha “membersihkan
diri” dari ketersangkutannya dengan kasus peracunan Munir, namun dugaan
banyak orang (di Indonesia maupun di luarnegeri, terutama di kalangan
organisasi-organisasi nasional  dan internasional, termasuk di kalangan PBB)
tetap kuat bahwa BIN  “tersangkut” dalam kasus peracunan Munir.



Reputasi atau nama-baik TNI-AD (BIN)



Sekarang ini, kalau masih ada orang yang mengira bahwa reputasi atau nama
baik TNI-AD bisa dijaga dengan menyembunyikan dosa-dosa beratnya atau
kesalahan-kesalahan besarnya, antara lain dengan berusaha menghalangi
usaha-usaha pembongkaran kasus peracunan Munir, maka fikiran itu keliru.
Sebaliknya, reputasi atau “nama baik” BIN bisa dijaga atau diselamatkan
dengan kerjasama terbuka dan tulus dengan semua fihak yang berusaha mengusut
kematian pejuang HAM Munir ini secara tuntas.



Selama kasus peracunan Munir tidak bisa diselesaikan secara jujur dan adil,
maka selama itu pula kecurigaan banyak orang terhadap keterlibatan BIN masih
akan tetap tersimpan dalam hati banyak orang, baik di Indonesia maupun di
luarnegeri. Dan ini tidak menguntungkan bagi citra TNI-AD yang sudah
dicemari oleh berbagai praktek busuk atau kesalahan berat selama puluhan
tahun Orde Baru, dan yang juga sudah diketahui oleh banyak orang di
Indonesia maupun di luarnegeri.



Sebab, dari penyelidikan atau pengusutan berbagai fihak kelihatan indikasi
yang jelas bahwa kasus peracunan Munir adalah hasil dari konspirasi, yang
ada “dalang” di belakangnya. Pilot Pollycarpus (atau Indra Setiawan,
Ramelgia dan Rohainil) adalah hanya pelaku di lapangan saja. Bisa saja para
“pelaku di lapangan” juga diadili, namun yang paling penting adalah
menghukum “dalangnya”.



Peran presiden SBY penting


Dan, justru di sinilah terletak peran penting presiden SBY. Karena sesudah
ia membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) tentang kematian Munir dan sesudah
menerima laporan tentang hasil kerja TPF, banyak  orang mengharapkan
diumumkannya hasil kerja TPF ini secara terbuka, jujur, dan
sejelas-jelasnya. Ada kesan bagi banyak orang bahwa presiden SBY pun “segan”
, atau “takut”, atau “ragu-ragu” untuk ikut berusaha menuntaskan kasus
peracunan Munir. Apakah sikap yang begini ini karena ada unsur-unsur BIN
yang tersangkut di dalamnya?



Kiranya, bisalah dimengerti bahwa sebagai mantan jenderal TNI-AD presiden
SBY ingin menjaga nama baik atau reputasi TNI-AD berikut segala
aparat-aparatnya, termasuk BIN. Tetapi, bagi yang berfikiran secara jernih
(untuk tidak mengatakannya “secara waras”) adalah jelas bahwa sejarah TNI-AD
tidaklah selalu sebagus atau seindah seperti yang diagung-agungkan oleh
rejim militer Suharto selama puluhan tahun, karena banyaknya
kesalahan-kesalahan (atau kejahatan)  yang telah dibuat oleh berbagai
kalangannya.



Kalau banyak sekali kesalahan, atau kejahatan, atau pelanggaran HAM, yang
dilakukan oleh unsur-unsur TNI-AD  di masa Orde Baru tidak bisa dibongkar
dan ditindak, maka peracunan Munir kali ini telah menjadi persoalan nasional
(dan internasional) yang menarik perhatian banyak orang. Karenanya, Presiden
SBY, dan berbagai badan pemerintahan Indonesia, tidak lagi bisa mem”
peti-es”-kan begitu saja kasus ini dengan mudah. Lebih-lebih lagi, presiden
SBY sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia akan ikut berusaha menuntaskan
pengusutan terhadap pembunuhan Munir ini.



Menjadi perhatian besar di mana-mana



Bahwa persoalan peracunan Munir sudah menjadi perhatian banyak orang di
luarnegeri dapat dilihat dari banyaknya berita, tulisan, atau komentar yang
disajikan oleh Google (bahasa Inggris) di Internet. Kalau kita ketik
kata-kunci “Indonesian army- Munir’s death”, maka akan terhampar lebih dari
43.000 bahan bacaan. Dari bahan-bahan di Google ini nyatalah bahwa banyak
kalangan menganggap bahwa pembunuhan Munir ini merupakan aksi gelap  - -
yang disetir oleh unsur-unsur aparat TNI-AD -- untuk melenyapkan seorang
tokoh penting yang sangat berani melawan segala macam pelanggaran HAM.



Diangkatnya terus-menerus (dan degan gigih) persoalan peracunan Munir oleh
berbagai fihak di dalamnegeri dan juga di luarnegeri menandakan bahwa,
sekarang ini,  pelanggaran  HAM secara sewenang-wenang  -- atau
kejahatan-kejahatan pembunuhan politik -- sudah tidak bisa diteruskan lagi
dengan mudah seperti  yang biasa dilakukan seperti selama Orde Baru.



Dalam hal ini, adalah  besar sekali  jasa organisasi-organisasi semacam
KASUM (Komite Aksi Solidaritas untuk Munir) yang menghimpun aktivis-aktivis
terkemuka seperti Suciwati, istri almarhum Munir (aktivis Yayasan Tifa),
Asmara Nababan dari Demos, Rachland Nasidik dari Imparsial, Taufik Basari
dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Raffendi Djamin dari
Human Right Working Group (HRWG), dan Usman Hamid dari Komisi untuk Orang
Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).



Di luarnegeri, organisasi internasional yang mempunyai reputasi terkenal dan
dihormati oleh banyak kalangan, antara lain Human Rights Watch, Amnesty
International, Asian Human Rights Commission, Indonesia Watch, telah banyak
mengeluarkan pernyataan, protes atau seruan tentang kematian Munir. Berbagai
kegiatan organisasi-organisasi ini tentang kasus Munir mendapat dukungan di
banyak negeri. Jadi, masalah Munir sudah dikenal oleh berbagai kalangan di
dunia, termasuk di bagian-bagian tertentu di PBB.



Diangkatnya terus-menerus soal peracunan Munir di tingkat nasional dan
internasional mempunyai arti yang besar sekali bagi perjuangan bersama untuk
membela HAM. Juga merupakan sumbangan yang amat besar untuk terus membongkar
segala borok sisa-sisa rejim militer Orde Baru. Juga menjadi peringatan bagi
unsur-unsur militer (terutama TNI-AD) untuk tidak mengulangi (atau meruskan)
praktek-praktek buruk yang sudah dijalankan selama puluhan tahun. Juga
menjadi dorongan bagi TNI sebagai keseluruhan untuk membenahi diri atau
membesihkan diri, sehingga bisa berfungsi  sebagai alat negara yang normal,
seperti yang dipunyai negara-negara demokratik lainnya di dunia.



Jadi, singkatnya, mempersoalkan kasus kematian Munir, tidak berarti hanya
mengurus pembunuhan terhadap seorang jiwa manusia saja, yang kebetulan
adalah seorang pejuang HAM yang terkemuka. Melainkan lebih luas dan lebih
besar dari itu ! Pembongkaran kasus peracunan Munir berarti sumbangan
penting sekali dalam usaha pemberantasan praktek-praktek buruk dan jahat
dari sisa-sisa aparat Orde Baru. Karenanya, bisalah dikatakan bahwa
tuntasnya pengusutan terhadap kasus peracunan Munir adalah juga untuk
kepentingan kita semua. Artinya, untuk kebaikan negara dan bangsa kita
seluruhnya.



Paris, 20 April 2007



(Catatan akhir: sebagai bahan bacaan tambahan mengenai kasus peracunan Munir
ini harap disimak juga artikel panjang dan sangat menarik dalam Majalah
Tempo terbitan tanggal 16-22 April 2007).

--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 269.5.5/769 - Release Date: 19/04/2007
17:56


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke