Refleksi: Agaknya menteri baru, tetapi  problem lama tak terselesaikan.

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=284183

Senin, 07 Mei 2007,



Menteri Baru, Pesimisme Baru


Mulai besok, sejumlah menteri baru hasil perombakan (reshuffle) akan mengisi 
kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ada harapan baru. 
Ada harapan kinerja kabinet SBY akan lebih baik.

Tetapi, optimisme ini tidak lebih besar daripada pesimisme yang menggumpal di 
benak banyak kalangan. Selain sebagian belum teruji, menteri-menteri baru 
tersebut juga harus berpacu dengan waktu yang tersisa dua setengah tahun lagi. 

Dengan waktu yang tersisa itu, sehebat apa pun menteri-menteri baru tidak bakal 
mampu memicu kinerja lembaga kementerian yang dipimpinnya sesuai dengan harapan.

Persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini sungguh luar biasa besar. Tidak 
bisa diatasi dengan cara-cara yang normal dan standar. Dengan kata lain, 
dibutuhkan kemampuan lebih yang di atas kemampuan normal untuk menjawabnya.

Masalahnya, dengan waktu pemerintahan Presiden SBY yang tersisa dua setengah 
tahun saja, kemampuan hebat seorang menteri yang di atas normal sekalipun masih 
patut diragukan dapat menyelesaikan persoalan masyarakat dan bangsa Indonesia 
yang sangat besar.

Apalagi calon-calon wajah baru menteri yang sudah dipanggil SBY -untuk diberi 
arahan tentang tugasnya- juga biasa-biasa saja. Mereka -meskipun rekam jejak 
perilakunya tidak buruk- bukanlah manusia-manusia super yang sudah teruji 
mewujudkan kesuperannya.

Ada pula elemen-elemen pesimisme lain. Ternyata, SBY tetap "bermain-main" 
dengan kepentingan partai politik yang selama ini sudah berjasa mendukungnya.

Itu terlihat dari wajah-wajah baru calon menteri hasil reshuffle -jika tidak 
ada perubahan sampai saat-saat menjelang diumumkan. Pencopotan menteri lama 
ternyata memperlihatkan kesan tidak sepenuhnya disebabkan kinerja yang 
bersangkutan buruk.

Justru kesan dan nuansa yang terasa karena persoalan representasi partai. Dalam 
hal ini, menteri lama dicopot karena tidak lagi dianggap merepresentasikan 
parpol tertentu. 

Sebaliknya, SBY memilih orang baru dari parpol tertentu yang dianggap lebih 
representatif. Padahal, belum tentu menteri baru ini lebih kompeten dan 
memiliki kapasitas lebih mumpuni jika dibandingkan dengan menteri yang diganti.

Kalau dalam reshuffle masih ada semangat kepentingan parpol seperti ini -tetapi 
mudah-mudan penilaian ini salah- tidak banyak harapan yang agaknya bisa 
diwujudkan untuk menjawab pesimisme masyarakat.

Oleh sebab itu, menjadi berlebihan ketika Presiden SBY -baik ketika akan 
menyusun kabinetnya pada 2004 maupun ketika akan melakukan reshuffle- memakai 
cara-cara pemanggilan terlebih dahulu calon menterinya untuk ajak diskusi, 
ibarat uji kelayakan dan kepatutan. 

Mengapa? Sebab, selain cara-cara seperti itu terlalu bertele-tele -sekalipun 
menunjukkan kehati-hatian dan transparansi- juga bertabrakan semangat lain yang 
tidak relevan. Apa gunanya hati-hati dan bertele-tele dalam mengangkat dan 
me-reshuffle kabinet kalau tidak bisa sepenuhnya menepis kepentingan akomodasi 
partai politik. 

Bukankah desakan-desakan kepentingan politik itu dapat merendahkan semangat 
kompetensi, kapasitas, dan kredibilitas?



[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke