http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/14/o3.htm


Fasilitas Berlebihan, Bentuk Hegemoni terhadap Rakyat
Oleh  Ir. I Wayan Jondra, M.Si. 


FASILITAS pejabat yang sebenarnya merupakan sarana untuk menunjang kinerja, 
sudah bergeser menjadi penunjang kenyamanan dan kemanjaan pejabat. Kondisi ini 
menggambarkan dengan jelas betapa para pejabat kita bermental priyayi, sangat 
bertentangan dengan semboyan pegawai negeri ''abdi negara'', yang artinya 
pejabat mestinya melayani rakyat, bukan dilayani oleh rakyat.

Fasilitas yang berlebihan ini merupakan upaya bagi pejabat untuk memberikan 
identitas kepada dirinya bahwa yang bersangkutan adalah pejabat, yang memiliki 
posisi/kedudukan  lebih tinggi/penting dibandingkan dengan yang lainnya, 
lebih-lebih terhadap rakyat kebanyakan. Penciptaan citra seperti ini bertujuan 
untuk menebarkan pengaruh kepada orang/kelompok yang dianggap bawahannya untuk 
tunduk, baik secara mental maupun fisik kepada para pejabat, walaupun para 
pejabat ini tidak menyampaikan secara langsung kepada orang yang 
dipengaruhinya. 

Menurut seorang penulis teori kritis dari Roma, Gramsci, hal tersebut merupakan 
suatu bentuk hegemoni. Hegemoni merupakan hubungan antara kelas dengan kekuatan 
sosial lain, kelas hegemonik, atau kelompok kelas hegemonik adalah kelompok 
yang memperoleh persetujuan dari kekuatan sosial yang lainnya (rakyat) dengan 
menciptakan dan mempertahankan sistem aliansi melalui perjuangan politik maupun 
ideologis. Dengan kata lain kelompok (rakyat) yang terhegemoni dengan penuh 
sukarela dikuasai oleh penguasa dengan berbagai identitas dan ideologi.

Di zaman globalisasi ini identitas dicirikan oleh seberapa besar teknologi dan 
konsumsi, baik barang maupun jasa (glamor) yang dikonsumsi oleh orang tersebut. 
Makin besar orang mengonsumsi teknologi, barang, maupun jasa memberikan 
identitas kepada yang bersangkutan makin tinggi. Artinya makin mewah handphone, 
rumah, pakaian, mobil, dan makin banyak bodyguard yang dimiliki, makin banyak 
pembantu/anak buah yang dimiliki, hal ini mengidentifikasikan identitas yang 
bersangkutan menjadi makin tinggi. Identitas yang tinggi ini digunakan untuk 
memberikan tekanan baik secara halus maupun kasar kepada bawahannya (rakyat).

Identitas global ini rupanya memberi pengaruh pada pemikiran para pejabat 
publik untuk memperoleh fasilitas yang makin banyak dan dengan harga makin 
tinggi, sehingga memberikan identias kepada mereka, bahwa mereka adalah orang 
yang harus dihormati, dituruti, dilayani, dan sebagainya. Peningkatan fasilitas 
ini akan terus ditingkatkan dan ditambah setiap waktu, sebab peningkatan 
fasilitas ini merupakan ciri peningkatan kekuatan hegemoni para pejabat. Karena 
menurut Gramsci, hegemoni bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tetapi 
merupakan sesuatu yang terus diperjuangkan setiap saat, perjuangan hegemoni ini 
diperjuangkan dari cara yang sangat halus sampai yang sangat kasar.

Menyadari perilaku hegemoni pejabat melalui upaya mendapatkan fasilitas yang 
berlebihan namun menggunakan uang rakyat, maka rakyat harus berlaku kritis 
terhadap perilaku pejabat ini, sehingga hak-hak rakyat tidak semakin dikebiri. 
Sebab, fasilitas yang cenderung berlebihan akan membuat gap/jarak pemisah yang 
makin dalam dan lebar antara pejabat dengan rakyat. Terlebih hal ini sangat 
bertentangan dengan prisip pejabat negara sebagai abdi negara yang mengabdi 
kepada rakyat. Atau dengan kata lain para pejabatlah yang mesti melayani rakyat 
dan bukan justru sebaliknya rakyat yang melayani pejabat. Cukuplah rakyat telah 
menggaji para pejabat melalui pajak yang telah mereka bayarkan kepada 
pemerintah, sehingga setelah terkumpul uang tersebut hendaknya digunakan 
semaksimal mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya 
untuk menyejahterakan pejabat.

Perilaku pejabat yang berebut fasilitas merupakan bentuk hegemoni tidak hanya 
dilakukan kepada rakyat, namun juga kepada instansi pemerintah lainnya. 
Kenyataan ini dapat kita lihat dari kendaraan dan fasilitas lain yang dimiliki 
oleh kepolisian, TNI, pengadilan, kejaksaan, jauh lebih rendah dibandingkan 
fasilitas yang dimiliki oleh eksekutif maupun legislatif. 

Bantuan dari eksekutif selaku penyelenggara pemerintahan kepada lembaga lainnya 
menambah bobot hegemoni dari eksekutif kepada instansi lainnya, maupun instansi 
swasta yang dibantu oleh eksekutif. Jika suatu ketika terjadi permasalahan 
antara rakyat dan eksekutif, rakyat akan cenderung menjadi korban daripada 
mendapat pembelaan dari aparat yang berwenang. Sehingga ke depan perilaku 
hegemoni melalui fasilitas ini haru dihentikan. Semua pejabat muspida, harus 
memiliki/mendapat fasilitas yang sama, dengan lebih mengedepankan fungsi dan 
bukan justru lebih mengedepankan makna hegemoni. 

Penulis, mahasiswa S3 Kajian Budaya Unud


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke