http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/14/b4.htm



WARUNG GLOBAL-------------
Sulit Cari Pemimpin yang Jujur  

DALAM kondisi krisis multidimensi ini, pemimpin yang kritis juga sulit didapat. 
Untuk itu desakan agar krama Bali berani melakukan gerakan moral membangun 
pemerintahan yang bersih dan berpihak kepada publik harus menjadi agenda 
strategis. Sebenarnya banyak krama yang optimis ingin menjadi pemimpin, hal ini 
terlihat dari calon pemimpin Bali yang ramai telah menunjukkan diri dan 
melakukan kampanye menjelang pemilihan bupati atau gubernur. Meski demikian, 
tetap saja sulit mencari figur pemimpin yang benar-benar jujur. Itulah salah 
satu opini dan saran yang muncul dalam acara Warung Global, Sabtu (12/5) yang 
disiarkan Radio Global FM Bali. Berikut rangkumannya.

========================================================= 

Menurut pengasuh Ashram Gandhi Puri BR Indra Udayana, saat ini Bali membutuhkan 
pemimpin yang mampu mengayomi masyarakat Bali. Pemimpin harus bisa mengatur 
lalu lintas keinginan masyarakat, jujur dalam arti ketika berkampanye dan 
aplikasinya dilaksanakan real, dan mengedepankan hati nurani. Namun,  saat ini 
Indra Udayana melihat pemimpin justru kebanyakan menerapkan 3L yakni lihai, 
linglung dan lupa. Dan, masyarakat selama ini tidak diberikan kesempatan untuk 
memberikan evaluasi kepada pemimpin. Apalagi saat ini parpol-parpol mengadakan 
penggodokan calon pemimpin. Karena itu, ia mengharapkan dari pihak independen 
tidak ragu-ragu menunjukkan jati diri untuk ikut berpolitik tanpa kendaraan 
parpol. 

Namun, saat ini UU yang mengatur siapa yang akan maju jadi calon pemimpin masih 
harus melalui parpol. Ia menilai saat ini kepercayaan masyarakat terhadap 
partai sudah mulai menurun. Dari mana pun asal pemimpin baik, apakah dari 
parpol ataupun independen untuk itu perlu diuji dengan cara gerakan moral. Ia 
melihat sebenarnya banyak krama Bali berpotensi menjadi pemimpin namun karena 
masih bersikap ragu-ragu dan juga koh ngomong.

Untuk itu, ia mengajak serta masyarakat untuk bangkit dari keragu-raguan ini. 
Pihaknya juga mengajak seluruh komponen dan segenap pemuda Bali untuk melihat 
krisis kepemimpinan ini mulai bangkit untuk menyadarkan pemimpin Bali menjelang 
pilkada. Ia memang melihat ada benih kejujuran dan satya wacana, namun yang 
terpenting adalah bagaimana implementasinya di lapangan. Karena masyarakat 
ingin bukti, pemimpin tak harus menggunakan uang namun bagaimana sikap kita 
bersama-sama membangun Bali. 

Ia mengatakan gerakan moral ini harus dimulai dari segmen kecil. Namun sayang 
sekali sekarang kelompok diskusi sudah langka sekali. Dengan gerakan ini, ia 
mengajak semua masyarakat untuk bersama-sama membangun Bali ke depan yang lebih 
baik. 

Lanang Sudira di Batuan sepakat dengan Indra Udayana. Ia sangat menyangkan 
calon pemimpin Bali saat ini melakukan kampanye berkedok masimakrama untuk 
mencari simpati dari masyarakat dibarengi dengan pemberian bantuan, 
menyumbangkan uang dan sebagainya. Ia melihat orang Bali memang optimis ingin 
menjadi pemimpin, hal ini terlihat start kampanye belum dibuka tapi ada yang 
sudah gentayangan berkampanye.

Lain halnya dengan Ledang Asmara di Denpasar. Ia melihat Bali yang berada di 
tengah krisis multidimensi, agak pesimis tak akan ada masyarakat yang jujur 
bahkan satya wacana yang diharapkan oleh masyarakat. Untuk itu, demokrasi 
secara mutlak harus ditumbuhkembangkan kembali, hukum yang belum tegak 
benar-benar harus ditegakkan. Di zaman ini, rasanya sulit menyadarkan pemimpin 
menjadi bermoral baik. Karena masih banyak masyarakat tidak mengakui pemimpin 
mereka.

Walek di Gelogor melihat ternyata banyak figur yang mesti dimunculkan dan 
banyak figur yang jujur, namun sejauhmana kita memandang figur itu sesuai 
dengan kriteria, ukuran mana yang dipakai. Ia melihat banyak orang Bali yang 
mampu membawa Bali lebih baik ke depan, kalau pesimis, bagaimana bisa mencapai 
target yang ingin dicapai. Yang sudah menjadi pemimpinlah yang patut melakukan 
diskusi ke masyarakat. Jangan hanya janji.

Ketut Kari di Songan mengiyakan bahwa di Bali kini mengalami krisis pemimpin. 
Banyak masalah krama Bali, terutama masalah adat yang mestinya bisa 
diselesaikan dengan baik. Kalau saja figur panutan bertindak sebagai penyelesai 
masalah maka permasalahan dan fenomena di bawah tidak akan terjadi. Kalau figur 
tidak sanggup, maka disintegrasi makin melebar. 

Goatama di Tampaksiring menambahkan, selama ini banyak pendapat yang mengatakan 
bahwa menjadi seorang pemimpin minimal sarjana. Kenapa bisa krisis panutan, 
karena pemimpin sekarang tak mampu lagi memberikan rasa nyaman. Sedangkan saat 
ini yang paling tepat menjadi pemimpin Bali adalah orang yang peduli di semua 
sektor jika tak dipenuhi, mereka dianggap tidak akan mampu.

Pande di Pandakgede melihat bukan di Bali saja mengalami krisis pemimpin, kini 
bangsa Indonesia sedang mengalaminya. Paradigma sempit akibat pendeknya wawasan 
memandang kehidupan tanpa kasat mata. Jadi kita tidak bisa berpikir sekarang 
ataupun besok. Sangat susah mendapat pemimpin yang jujur, karena masyarakat dan 
para elite berada dalam posisi yang saling mencurigai maka tak bisa dihindari 
berbagai macam krisis terjadi. Oleh karena itu, dari sekaranglah kita mulai 
bergerak agar sesuai dengan konstitusi.

Sridham di Mengwi melihat bahwa pemimpin juga harus menguasai spiritual. Di 
Bali sudah lengkap dari brahmana sampai ke tingkat bawah. Jadi tinggal 
dikoreksi untuk menjaring pemimpin yang lebih baik. 

Ngurah Setyawan di Ubud menyarankan kalau demikian kenapa tidak mengambil 
pemimpin dari kalangan militer, yang sudah teruji dan digembleng. Sebab, ia 
melihat masyarakat Bali saat ini membutuhkan rasa aman. * 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke