Refleksi: Apakah kebangkitan nasional bisa berada tanpa politik dan pelaksanaan 
pembagaian pendapat serta pendidikan bermutu yang merata?

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285897

Sabtu, 19 Mei 2007,


Kebangkitan Nasional dan Visi 2030 
Oleh 
I Basis Susilo 


Dua bulan sebelum Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, Yayasan Forum Indonesia 
meluncurkan buku Kerangka Dasar Visi Indonesia 2030. Menurut buku ini, 
Indonesia 2030 berpenduduk 285 juta jiwa, produk domestik bruto (PDB) USD 5,1 
triliun, jadi negara industri maju, masuk lima besar kekuatan ekonomi dunia, 
memiliki 30 perusahaan dunia yang tercatat dalam 500 perusahaan terbesar dunia, 
dan bependapatan USD 18 ribu per orang per tahun. 

Visi itu didasarkan pada asumsi pertumbuhan ekonomi riil 7,62 persen, inflasi 
4,95 persen, dan pertumbuhan penduduk 1,2 persen per tahun. Visi tersebut 
mensyaratkan: ekonomi berbasis keseimbangan pasar terbuka dengan dukungan 
birokrasi yang efektif.

Selain itu, ada pembangunan berbasis sumber daya alam, manusia, modal, serta 
teknologi yang berkualitas dan berkelanjutan; dan perekonomian yang 
terintegrasi dengan kawasan sekitar dan global.

Setiap bangsa memerlukan visi ke depan yang kuat sebagai dasar dan petunjuk 
arah bergerak maju. Tanpa dasar dan arah yang jelas, bangsa mudah 
terombang-ambing oleh dinamika perubahan. 

Kemajuan Tiongkok saat ini, misalnya, didasari visi yang jelas untuk 2020, 
2050, dan 2080, yang dibuat awal 1980-an, saat negeri itu masih miskin dan 
dianggap terbelakang. Kemajuan Singapura pun didasari visi yang dibuat 1959 
oleh Lee Kuan Yew yang mematok negeri pulau itu menyamai negara-negara Eropa 
Barat pada 1980. Tahun 1959, Singapura masih amat terbelakang sehingga visi itu 
dianggap mimpi.

Konsolidasi dan Koreksi Diri

Untuk menggapai visi itu, diperlukan konsolidasi dan koreksi diri yang memadai. 
Dengan konsolidasi diri, suatu bangsa memperkukuh komitmen bersama, memperkukuh 
fundamen bersama, dan memperkuat kapasitas. Dengan koreksi diri, kesalahan, 
penyelewengan, kerusakan bisa dideteksi secara dini untuk segera diperbaiki. 
Kita lihat contoh India, Jepang, dan Tiongkok.

Secara budaya, bahkan peradaban, India sudah mempunyai dasar yang amat kukuh 
karena terbentuk berabad-abad. Tetapi sebagai bangsa modern, sampai pengujung 
abad ke-20, India masih enggan membuka diri. Para pemimpinnya melihat kemajuan 
fisik Barat, tetapi tidak terpukau dan meniru begitu saja karena khawatir 
kehilangan jati diri. 

Namun, pelan tetapi pasti, bangsa itu memperkuat kapasitas industri dan 
membangun komitmen dengan demokrasi supaya lebih siap saat menghadapi 
globalisasi. Mekanisme koreksi diri bekerja secara memadai karena bangsa itu 
sejak merdeka sepakat menjalankan sistem demokrasi.

Jepang melakukan konsolidasi diri selama 250 tahun sebelum Restorasi Meiji pada 
awal 1860-an. Selama 250 tahun itu ia menata diri melalui konflik, persaingan, 
bahkan perang, komunikasi, membangun kejepangan, untuk mencapai keseimbangan 
yang mantap sebagai bangsa. 

Dengan itu, ia bisa bersepakat tentang hal-hal mendasar dan arah tujuan bersama 
yang dituju bangsanya. Pengalaman kalah pada Perang Dunia II tak mampu 
menghancurkan bangunan dasar dirinya.

Walau Tiongkok punya peradaban besar, dalam era modern ia mengalami proses 
konsolidasi dahsyat. Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Tiongkok 
dijadikan bulan-bulanan bangsa-bangsa Barat dan Jepang. Perasaan terhina dan 
dihina sedemikian itu memberikan pelajaran berharga baginya untuk membangun 
jati diri yang kuat. 

Setelah Perang Dunia II, Tiongkok mulai melakukan konsolidasi dan koreksi diri 
secara keras oleh Mao Tse-tung dengan Revolusi Kebudayaannya. Revolusi itu 
menyebabkan kemerosotan ekonomi, tapi keuntungan soft goods berupa kepercayan 
diri dan hati-hati terhadap kekuatan asing tidak bisa dipungkiri, bahkan oleh 
Deng Xiao-ping sekalipun. 

Selanjutnya, Deng melakukan koreksi diri Tiongkok dengan empat modernisasinya 
pada akhir 1970-an. Salah satu koreksi total adalah sistem pendidikan.

Bagaimana Kita?
Sudah cukupkah konsolidasi diri dan koreksi diri bangsa kita? Dibandingkan 
dengan Jepang, India, dan Tiongkok, bangsa kita memang tidak punya kesempatan 
cukup untuk konsolidasi dan koreksi diri. 

Tetapi jika dibandingkan dengan Malaysia, bangsa kita punya sejarah dan 
pengalaman berkonsolidasi dan koreksi diri yang lebih memadai. Namun, nyatanya 
kita merasakan kini kemajuan Malaysia tampaknya bisa lebih solid dibandingkan 
dengan kita.

Sejak 1908, melalui perjuangan ide, fisik, diskusi, dan konflik internal, 
bangsa kita sudah mempunyai fondasi yang cukup memadai. 

Tonggak-tonggak sejarah menunjukkan kesepakatan nasional. Ada lima tujuan 
bernegara: merdeka, berdaulat, bersatu, adil, dan makmur. Ada Sumpah Pemuda. 
Ada Pancasila. Ada UUD 1945. Ada NKRI. Ada Bendera Merah Putih. Ada Bahasa 
Indonesia. Ada Tritura. Ada Reformasi. Ada Rupiah. Dan sebagainya. 

Tetapi, kesepakatan-kesepakatan itu oleh beberapa pihak masih dianggap lonjong, 
tidak bulat, sehingga masih ada upaya-upaya untuk mengingkari 
kesepakatan-kesepakatan nasional tersebut. 

Misalnya, soal dasar negara kita, masih saja ada yang mempersoalkan dan mencoba 
mengubahnya. Akibatnya, terus-menerus kita menguras energi bangsa kita untuk 
hal-hal yang sudah seharusnya tidak kita persoalkan lagi.

Mekanisme koreksi diri pun sudah dilakukan dengan berbagai cara. Tetapi 
akhir-akhir ini kita terjebak untuk lebih asyik ber-guyon ria secara 
cengengesan untuk membahas soal-soal penting bagi bangsa kita. Kesalahan dan 
penyelewengan cenderung kita jadikan sasaran bulan-bulanan humor semata 
ketimbang sebagai soal serius yang harus diatasi bersama. 

Padahal, untuk bisa mewujudkan Visi Indonesia 2030, diperlukan konsolidasi dan 
koreksi diri yang memadai sehingga guncangan-guncangan yang disebabkan aksi 
kita untuk mewujudkan visi itu tidak akan merusak atau menghancurkan fondasi 
hidup kita dalam berbangsa dan bertanah air. 

Kita masih butuh proses konsolidasi dan koreksi diri. Misalnya, semua elite 
strategis bangsa kita menyepakati waktu khusus, misalnya satu jam dalam sehari, 
untuk membahas soal-soal kebangsaan kita di mana pun, terutama di dan melalui 
media massa. 

Artinya, semua media massa mesti memprogramkan acara-acara berperspektif 
nasional. Ide ini mungkin tampak aneh di tengah liberalisasi saat ini, tetapi 
untuk membangun landasan yang kukuh kebangsaan kita, sesuatu harus dilakukan 
sebelum terlalu terlambat.


I Basis Susilo, dosen pada jurusan Hubungan Internasional FISIP Unair, saat ini 
juga dekan FISIP Unair 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke