http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/052007/21/0701.htm
Bangkit? Pendidikan Harus Bermutu
KNPI Dorong Pemprov Jawa Barat Wujudkan Anggaran Pendidikan Minimal 20%
BANDUNG, (PR).-
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2007 yang jatuh Minggu harus
mendorong semua lapisan masyarakat Indonesia melakukan refleksi dan introspeksi
tentang realitas objektif bangsa ini. Hampir seabad sejak berdirinya Boedi
Oetomo, bangsa ini terus mengupayakan kesadaran kolektif tentang pentingnya
berbangsa dan hidup dalam suasana merdeka, lepas dari cengkeraman kolonialisme
dan imperialisme.
SISWA SMAN 13 Bandung berbincang menjelang pelaksanaan ujian nasional, 17
April lalu. Untuk maju dan mengejar ketertinggalan, bangsa Indonesia harus
membangun secara intensif bidang pendidikan. * HARRY SURJANA/"PR"
"Dengan senantiasa memupuk rasa nasionalisme, senasib dan sepenanggungan
sebagai suatu bangsa, Indonesia harus bangkit dari tidurnya yang panjang,
setelah bencana demi bencana, dan krisis multidimensi yang terus mendera. Dan
instrumen utama kebangkitan nasional adalah pendidikan yang bermutu," kata
Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat Drs. H. Rahmat
Sulaiman saat menyampaikan refleksi peringatan Harkitnas, di Bandung, Minggu
(20/5).
Menurut Rahmat, pendidikan merupakan investasi jangka panjang (a long terms
investmen) dan berdimensi sangat mulia yang akan menentukan hitam putihnya
bangsa ini di masa mendatang. Tanpa pendidikan yang berorientasi jelas,
terarah dan berkesinambungan, nasib bangsa ini akan terus terseok-seok bahkan
teralienasi dalam arus dinamika perubahan kontemporer.
Melalui pendidikan, kata Rahmat, kemiskinan material dan intelektual yang
dialami bangsa ini selama bertahun-tahun secara bertahap akan dapat diatasi.
Rendahnya tingkat literasi (melek huruf), kesehatan dan daya beli bangsa ini
yang menjadi indikator utama indeks pembangunan manusia (IPM) atau human
develpoment index (HDI) Indonesia yang berada pada level paling bawah dari
daftar bangsa-bangsa di dunia dipastikan akan terdongkrak bila semua komponen
bangsa, terutama pemerintah memiliki good will dan political action yang kuat
terhadap pendidikan.
"Begitu juga pengangguran yang makin membengkak hanya bisa diatasi oleh
tersedianya pendidikan yang baik dan sistemik. Karena dalam pendidikan,
pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill) akan mudah ditransfer kepada
para peserta didik sehingga mudah terserap di pasar kerja," kata Rahmat yang
juga anggota Komisi E DPRD Jawa Barat.
Ditegaskan, pendidikan adalah pemandu peradaban suatu bangsa. Semakin
terperhatikan pendidikan suatu bangsa, akan semakin beradab bangsa itu. Begitu
juga sebaliknya, bila pendidikan diabaikan, kehancuran moral akan merasuki
setiap lini kehidupan suatu bangsa.
"Tsunami moral akan mudah menghancurkan sendi-sendi kehidupan eksekutif,
legislatif, dan yudikatif. Bila ketiga pilar itu hancur, kita hanya berharap
masyarakat sipil sebagai pilar utama bangunan demokrasi bisa tumbuh dengan
baik," ujarnya.
Dalam kondisi demikian, Rahmat mengingatkan para pemuda agar mengambil
inisiatif dan peran untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Karena
dalam diri kaum muda itulah bersemai optimisme dan energi luar biasa untuk
bangkit guna mengejar ketertinggalan.
Gagasan tentang pentingnya pendidikan gratis mulai dari pendidikan dasar (SD)
hingga SMA sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Komitmen ini harus menjadi
tekad para pemimpin republik ini mulai dari presiden, gubernur, wali
kota/bupati. "Bila seseorang tidak memiliki komitmen kuat pada pendidikan, ia
tak layak menjadi seorang pemimpin. Masyarakat pun harus kritis dengan tidak
memilih mereka yang tidak peduli pada nasib pendidikan menjadi pemimpin," tegas
Rahmat.
Pendeknya, tak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia bila ingin maju dan
mengejar ketertinggalan, selain jalan keluarnya membangun secara intensif
bidang pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan harus menjadi panglima yang
memandu program-program di setiap sektor pembangunan.
Rahmat Sulaiman juga mengungkapkan, kemunculan negara-negara maju sekarang ini
lahir karena policy mereka yang menjadikan pendidikan sebagai panglima serta
prioritas pertama dan utama. Sekali pendidikan diabaikan, kita akan menanggung
akibat buruknya di masa mendatang yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
(A-79)***
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/