Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
Catatan A. Umar Said
HM Suharto membangun
atau merusak citra Islam?
Hari ulang tahun mantan presiden Suharto yang ke-86, yang jatuh pada
tanggal 8 Juni 2007, telah dirayakan di rumahnya di jalan Cendana, Jakarta,
dengan cara-cara yang tidak seramai atau semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Walaupun ada mantan-mantan pejabat tinggi yang berdatangan, tetapi jumlahnya
tidak sebanyak yang sudah-sudah. Tetapi karangan-karangan bunga masih banyak
yang diterima.
Dalam rangka peringatan hari ulang tahun Suharto ke-86 ini, yang patut
mendapat perhatian dari kita semua adalah diterbitkannya buku yang berjudul
HM Suharto membangun citra Islam. Menurut berita Antara (8/7/07) dalam
peluncuran buku tersebut, selain AM Fatwa, juga tampak hadir pejabat tinggi
di masa kepemimpinan Soeharto, yaitu mantan menteri agama Tarmizi Taher..
Buku yang ditulis oleh Miftah H Yusufpati ini secara resmi diluncurkan
sehari sebelum peringatan ulang tahun Suharto. Menurut Miftah : « Banyak
perjuangan yang sudah dilakukan Soeharto terhadap Islam. Pak Harto terbukti
telah menegakkan prinsip-prinsip ajaran Islam dan memperjuangkan toleransi
beragama »
Ketika membaca judul yang berbunyi « HM Suharto membangun citra Islam » dan
kalimat bahwa « Pak Harto terbukti telah menegakkan prinsip-prinsip ajaran
Islam » maka mungkin saja di antara kita ada yang tercengang, atau mungkin
juga ada yang tertawa terkekeh-kekeh, atau, ada pula yang jengkel dan
marah-marah. Sebab, mungkin saja, ada orang yang menganggapnya sebagai
lelucon, atau sebagai bualan alias omong-kosong, atau bahkan sebagai hinaan
yang amat besar kepada Islam.
Dalam kaitan ini, tulisan ini mengajak para pembaca untuk merenungkan secara
dalam-dalam apakah sebutan « HM Suharto membangun citra Islam » itu memang
mengandung kebenaran, dan apakah sebutan itu akan mengangkat Islam, ataukah
sebaliknya, malahan memperburuk atau merusak citra Islam. Sebab, terbitnya
buku dengan judul yang demikian itu untuk memperingati hari ulangtahun
Suharto mencerminkan bahwa di kalangan sebagian golongan Islam memang
terdapat anggapan bahwa Suharto adalah tokoh pembangun citra Islam dan
penegak prinsip-prinsip ajaran Islam. Hal yang demikian ini adalah sangat
serius sekali. Dan menyesatkan sekali !
Oleh karena itu, alangkah baiknya, kalau masalah ini dibicarakan dan
ditelaah dengan teliti oleh para tokoh agama Islam di Indonesia, dan
dijadikan bahan studi atau riset di universitas-universitas dan
lembaga-lembaga ilmiah Islam. Singkatnya, masalah ini perlu sekali menjadi
kajian secara luas oleh ummat Islam di Indonesia.
Sebab, masalah apakah Suharto telah « membangun citra Islam » atau malahan
merusak citra Islam, adalah masalah penting yang bisa dipakai untuk menilai
berbagai politik rejim militer Orde Baru, dan juga untuk menelaah sikap
berbagai golongan Islam terhadap Suharto dan Orde Baru. Sikap berbagai
golongan Islam terhadap Suharto dan Orde Baru adalah satu hal yang mempunyai
pengaruh penting dalam persoalan politik dan sosial di negara kita, yang
buntutnya masih sama-sama kita saksikan sampai sekarang ini.
Sebagai bahan-bahan untuk renungan bersama, maka di bawah berikut ini
disajikan sejumlah pandangan mengenai masalah tersebut, yang dicoba dilihat
dari berbagai sudut pandang :
Apakah untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam ?
Suharto memang pernah memberikan bantuan kepada sejumlah pesantren,
memberikan sumbangan untuk membangun mesjid-mesjid, dan memberikan dana
kepada sejumlah kyai-kyai dan para pemuka agama Islam. Suharto juga sering
memberikan sedekah kepada anak-anak yatim piatu, atau memberi beasiswa
kepada pelajar-pelajar.
Tetapi, perlulah sama-sama kita renungkan dalam-dalam, apakah itu semua
telah dilakukan Suharto oleh karena memang ingin melaksanakan ajaran-ajaran
Islam dengan sungguh-sungguh dan secara tulus, ataukah karena sebab-sebab
dan pertimbangan lainnya. Selama pemerintahan rejim militer Orde Baru,
memang Suharto berusaha merangkul, menina-bobokkan, merekayasa, menggunakan,
mensalahgunakan, bahkan menipu atau menjerumuskan sebagian golongan Islam
Sejauh mana atau sebesar apa, dan juga bagaimana saja cara-caranya Suharto
telah merangkul dan menggunakan sebagian golongan Islam ini,
barangkali berbagai kalangan Islam sendiri dapat menganalisanya atau
menelitinya berdasarkan pengalaman-pengalaman pahit mereka masing-masing.
Yang sudah jelas yalah adanya kebutuhan atau keharusan bagi Suharto
(artinya rejim militer Orde Baru) untuk merangkul sebanyak mungkin
golongan Islam, demi kelanggengan diktatur militernya, dan untuk melawan
lawan-lawan politiknya.
Merangkul golongan Islam untuk bersekutu dengan AS
Seperti kita ketahui, stabilitas politik dan sosial telah dapat diciptakan
rejim militer Orde Baru, dengan menggunakan tangan besi atau berbagai
praktek otoriter, di samping merangkul, membujuk, menyiasati sebagian
terbesar golongan Islam. Ada yang mengatakan bahwa Orde Baru telah berhasil
« membeli » berbagai golongan Islam, dan menjadikan mereka sebagai pendukung
berbagai politik rejim militer Suharto, yang dalam jangka lama adalah
pro-Barat dan mengabdi kepada kepentingan politik AS.
Dengan « merangkul » sebagian golongan Islam, Suharto dkk telah berhasil
menjadikannya sebagai sekutu dan sekaligus tunggangan untuk
menghancur-leburkan kekuatan politik Bung Karno beserta
pendukung-pendukungnya yang terdiri dari golongan kiri (antara lain PKI),
yang melawan kekuatan-kekuatan nekolim (neo-kolonialisme dan imperialisme).
Untuk lebih jelas lagi : pada masa-masa yang panjang selama Orde Baru,
sebagian golongan Islam telah berhasil dibawa atau digiring oleh Suharto
untuk memihak nekolim (baca : AS) dalam menghancurkan kekuatan
anti-imperialis yang digalang Bung Karno beserta pendukung-pendukungnya.
Kalau dilihat dengan kaca-mata sekarang, dengan apa yang terjadi di Timur
Tengah dan peran AS dalam berbagai masalah internasional dewasa ini (antara
lain : masalah Israel-Palestina, masalah perang Irak, ancaman terhadap Iran)
maka kelihatanlah dengan jelas bahwa Suharto dkk pada akhirnya -- atau pada
dasarnya -- telah membawa golongan Islam di Indonesia pada jalan yang salah.
Dengan kalimat lain, bisalah kiranya dikatakan bahwa Suharto bukanlah
pembangun citra Islam yang baik.
Golongan Islam yang paling banyak dirugikan
Suharto telah melakukan penindasan besar-besaran , dan dalam jangka waktu
yang lama pula, terhadap sebagian terbesar rakyat Indonesia, yang agamanya
Islam. Memang, penindasan ini juga dilakukan terhadap semua golongan dalam
masyarakat Indonesia. Tetapi yang diberangus suaranya, atau yang dirugikan
kepentingannya, terutama adalah dari kalangan Islam. Ketika terjadi
pelanggaran HAM secara besar-besaran (ingat: peristiwa pembunuhan tahun
65-66, peristiwa Lampung, peristiwa Tanjung Priok, peristiwa di Madura,
peristiwa Trisakti, peristiwa Semanggi) bukanlah hanya orang-orang kiri yang
menjadi korban, melainkan sebagian terbesar juga orang-orang yang beragama
Islam.
Dalam kaitan ini perlu diketahui oleh banyak orang (terutama oleh para
pendukung Suharto) bahwa banyak sekali (untuk tidak mengatakan sebagian
terbesar) di antara orang-orang yang ditahan selama puluhan tahun di
penjara-penjara dan dibuang di Pulau Buru adalah orang-orang Muslim, yang
rajin sembahyang, bahkan mungkin melebihi apa yang dikerjakan Suharto
beserta anak-anaknya. Pertanggunganjawab Suharto atas kedholiman terhadap
ratusan ribu orang-orang Muslim yang ditahan atau jutaan yang dibunuhi
secara ganas dan sewenang-wenang adalah besar sekali. Karena itu amat tidak
patutlah kiranya untuk menempelkan embel-embel merek pembangun citra
Islam atau penegak ajaran-ajaran Islam kepada namanya, Haji Mohamad
Suharto.
Ketika Suharto (beserta anak-anaknya) menjadi maling-maling terbesar dalam
sejarah Republik Indonesia, maka sebenarnya (atau pada hakekatnya) harta
yang ditumpukkannya secara haram adalah milik rakyat, yang sebagian terbesar
beragama Islam pula. Karena jumlah harta haram yang sudah dirampoknya dari
rakyat dan negara adalah amat luar biasa besarnya (baca majalah Times 24 Mei
1999 dan tulisan George Aditjondro), maka dosanya terhadap ummat Islam di
Indonesia juga amat luar biasa besarnya!
Kalau menurut ajaran Islam tangan seorang pencuri bisa dipotong, maka
hukuman apakah yang sepantasnya dijatuhkan kepada Suharto, yang sudah
mencuri harta milik sebegitu banyak rakyat Indonesia ? Apakah segala
perbuatannya yang begitu serakah dan begitu haram itu bisa dikategorikan
sebagai menegakkan prinsip-prinsip ajaran-ajaran Islam?
Dosanya lebih besar dari pada amal-nya
Suharto memang sudah memberikan dana kepada sejumlah pesantren, kepada
berbagai organisasi (atau partai-partai) Islam, atau badan-badan
sosial-ekonomi-kebudayaan Islam. Tetapi, mengingat bahwa uang yang sudah
dicuri Suharto adalah begitu besarnya, maka dosanya adalah barangkali jutaan
kali jauh lebih besar dari pada amalnya.
Dan, apalagi, kalau kita ingat bahwa Suharto -- bagaimana pun juga! --
harus bertanggungjawab atas dibunuhnya sekitar 3 juta orang tidak bersalah
yang dituduh atau dicap Komunis (padahal ternyata kemudian bahwa sebagian
terbesar di antara mereka adalah orang-orang Muslim juga !!!), maka sulit
sekali untuk menganggap bahwa Suharto adalah orang yang membangun citra
Islam dan menegakkan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Haji Mohammad Suharto, yang mempunyai tanggungjawab besar sekali terhadap
terjadinya banyak pelanggaran HAM yang serius, yang menyebabkan ratusan ribu
eks-tapol (yang sebagian besar terdiri orang-orang Muslim juga) sampai
sekarang terlunta-lunta hidupnya, yang membikin macam-macam penderitaan
berlarut-larut terhadap puluhan juta keluarga korban peristiwa 65 (juga
sampai sekarang), sama sekali tidaklah pantas disebut Pembangun citra
Islam.
Sebab, kalau Haji Mohamad Suharto tetap terus disanjung-sanjung oleh
sebagian kalangan Islam sebagai pembangun citra Islam atau penegak
prinsip-prinsip ajaran Islam maka orang dapat mengartikan bahwa Islam
adalah agama yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Atau, bahwa korupsi
atau pengumpulan uang haram adalah citra Islam, atau bahwa Islam
membolehkan segala macam praktek-praktek nista yang sudah banyak dilakukan
oleh Suharto beserta keluarganya selama ini..
Suharto adalah perusak citra Islam
Dan lagi, karena Suharto sudah terkenal di Indonesia (dan juga di kalangan
internasional) sebagai koruptor kaliber raksasa, yang jarang tandingannya di
dunia, maka penamaan Suharto pembangun citra Islam adalah penamaan yang
sungguh-sungguh merugikan sekali citra Islam. Karena, dengan begitu bisa
saja diartikan bahwa citra koruptor besar adalah citra Islam. Jadi, kiranya,
julukan yang paling tepat baginya justru adalah Suharto perusak citra
Islam.
Di samping itu semuanya, kita bisa bersama-sama menilai apakah cara hidup
dan kegiatan sehari-hari Suharto beserta keluarganya (antara lain : Tutut,
Bambang, Sigit dan Tommy) di kompleks Cendana patut dinamakan membangun
citra Islam dan menegakkan prinsip-prinsip ajaran Islam ». Ketika sebagian
terbesar rakyat Indonesia (yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang
beragama Islam !!!) menderita sekali karena kemiskinan dan berbagai macam
kesulitan atau kesusahan, Suharto dan keluarganya hidup mewah sekali dan
foya-foya dengan uang najis yang diperolehnya dengan cara-cara haram.
Sekarang makin banyak bukti-bukti bahwa Suharto adalah sampah bangsa, karena
kejahatannya yang banyak dan besar-besar di bidang korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN) dan bidang HAM. Juga makin jelaslah bahwa Suharto adalah
pengkhianat besar terhadap Bung Karno dan terhadap Republik Indonesia
(ingat, antara lain Supersemar, dan pelecehan Pancasila).
Jadi, kalau ada orang-orang dari golongan Islam yang masih tetap bersikukuh
menjunjung tinggi Suharto dengan mengatakan bahwa ia adalah pembangun citra
Islam walaupun mereka sudah mengetahui segala dosa dan aibnya (akibat
berbagai kejahatannya di bidang politik, ekonomi, sosial, moral dan agama),
maka bisalah dikatakan bahwa orang-orang yang demikian adalah orang-orang
yang sesat imannya. Jelasnya, orang-orang semacam itu pada hakekatnya juga
ikut merusak citra Islam !!!
Paris, 12 Juni 2007.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.8.13/844 - Release Date: 11/06/2007
17:10
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/