http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/6/15/o3.htm


Perlu Revitalisasi Pertanian secara Tepat
Oleh Bagus Arya Kusuma 


SANGAT lucu rasanya mendengar kalau Bulog kesulitan mencari beras impor. 
Masyarakat Indonesia yang lebih dari 60% penduduknya adalah petani dan 
didominasi oleh petani yang menghasilkan padi (beras) tidak mampu lagi memenuhi 
harapan masyarakatnya. Pada era 70-80-an Indonesia pernah berhasil melaksanakan 
swasembada pertanian, bahkan mampu mengekspor beras ke luar negeri. Tetapi apa 
yang terjadi kini berbanding terbalik, jangankan mengekspor hasil pertanian, 
memenuhi kebutuhan sendiri pun kita tidak mampu. Ketergantungan kita terhadap 
beras dari negara lain menunjukkan lemahnya ketahanan pangan kita, sekaligus 
cerminan tidak seriusnya keberpihakan pemerintah terhadap pertanian.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ini sangat cocok untuk menggambarkan 
kehidupan para petani di Indonesia. Permasalahan yang dihadapi para petani 
begitu kompleks, kenaikan harga saprodi (sarana produksi pertanian) seperti 
obat-obatan, pupuk, ongkos traktor, pembelian bibit hingga ongkos buruh tani 
menyebabkan biaya produksi dipastikan makin merangkak naik. Belum lagi 
permasalahan lain yang kerap muncul setelah musim tanam seperti banjir, angin 
kencang dan musim kemarau panjang. Di sisi lain, petani sama sekali tidak 
memiliki hak untuk menentukan harga gabah dan beras yang mereka miliki. Kondisi 
lain diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah yang lebih senang mengimpor 
beras dengan alasan stabilitas harga dan menjaga stok beras nasional membuat 
petani makin tersudut.

Sikap pemerintah yang selalu mengimpor beras untuk menurunkan harga menunjukkan 
perhatian pemerintah hanya untuk kepentingan jangka pendek dan instan saja, 
yang menyebabkan beras petani mendapat saingan beras impor. Akibatnya, meski 
dilakukan kenaikan HPP (harga pembelian pemerintah untuk gabah) berkali-kali, 
petani tetap tidak akan dapat menikmati keuntungan, apalagi sejahtera. 
Kehidupan petani akan tetap berada di bawah dan dihadapkan dengan banyak 
tekanan. Kondisi ini sangat ironis mengingat beras adalah kebutuhan pokok 
rakyat dan penyokong perekonomian nasional. Jika kondisi ini tidak berubah, 
maka jangan heran kalau dari hari ke hari akan semakin sedikit orang tertarik 
menjadi petani dan alih fungsi lahan akan sulit untuk dicegah.



Garap Serius

Kondisi perekonomian Indonesia akan bisa bangkit kembali, dengan syarat sektor 
pertanian harus digarap secara serius oleh para stakeholder baik di tingkat 
pusat atau daerah. Kalau pemerintah sebagai pemegang otoritas serius dan dapat 
mengatur revitalisasi pertanian secara tepat, bukan tidak mungkin dalam 
beberapa tahun ke depan ekonomi kita sudah bisa bangkit secara signifikan. 
Pertanian merupakan sektor kunci kebangkitan ekonomi Indonesia, karena sektor 
ini memiliki multifungsi untuk menyokong berbagai aspek kehidupan. Tidak saja 
sebagai penyedia pangan tetapi juga berperan penting dalam konservasi sumber 
daya alam, memelihara pasokan air tanah, melestarikan tradisi budaya, kesenian, 
dan kehidupan sosial. Dapat pula sebagai penyerap lapangan kerja, basis bagi 
ketahanan pangan dan ketahanan nasional, termasuk basis bagi pengembangan 
ekonomi kerakyatan. Tetapi sungguh sayang, multifungsi pertanian hanya hangat 
diwacanakan di seminar-seminar, bahkan belum banyak dipahami secara utuh oleh 
para pengambil kebijakan, atau kalaupun dipahami cenderung untuk diabaikan.

Ke depan, penggarapan sektor pertanian harus mendapat prioritas lebih. Jangan 
lagi banyak alasan, seolah petani kita tidak mampu berproduksi beras dalam 
jumlah yang besar, hingga harus mengimpor dari Vietnam dan Thailand yang kalau 
dilihat ke belakang ternyata mereka pernah belajar pertanian dari kita. Adalah 
keliru besar kalau langkah mengimpor beras dianggap cara terbaik yang bisa 
dilakukan. Apalagi belakangan sering kita dengar lewat kasus korupsi, pejabat 
Bulog mendapat aliran dana trilyunan rupiah (gratifikasi) atas pengadaan impor 
beras. Jika saja komitmen pemerintah terhadap pertanian serius dijalankan, 
bukanlah hal mustahil, keinginan untuk kembali bisa berswasembada beras akan 
segera bisa terwujud.

Penulis, Ketua Sabha Yowana Kab. Tabanan, dosen Fak.Ekonomi Universitas Tabanan




[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke