http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=23583&Itemid=75
Politik Hati Nurani
Kamis, 14 Juni 2007
Oleh: Markus Gunawan*)
Carut Marutnya kehidupan politik dewasa ini, ditengarai sebagai akibat
dari euforia yang tidak diikuti dengan kedewasaan berpolitik. Hal ini
diperparah dengan interpretasi yang keliru dalam memaknai kebebasan
berdemokrasi. Rakyat menafsirkan kebebasan menurut kriterianya sendiri,
sementara para politisi menterjemahkannya menurut kamus mereka masing-masing.
Atas nama pembelaan kepentingan rakyat, para politisi berjuang habis-habisan,
sementara dalam kerangka logika rakyat, banyak tindakan politisi yang tidak
berkenan kepada rakyat.
Akibatnya, pengelolaan kekuasaan dituduh sebagai permainan dan perebutan
kekuasaan semata-mata, dan selalu dilumuri intrik, fitnah, dengki, caci-maki,
dan iri hati. Kekuasaan tidak lagi menyejukkan kehidupan masyarakat, tetapi
menjadi bara api yang membakar dan merusak tatanan ketenteraman dan kerukunan
hidup masyarakat.
Realitas ini seakan menunjukkan semakin lebarnya jarak antara harapan
rakyat dengan kemampuan para politisi untuk memenuhi harapan tersebut. Idealnya
jarak tersebut harus dipersempit sehingga das sollen dan das sein menemukan
garis penghubungnya dan memungkinkan tidak adanya dusta di antara politisi dan
rakyat sebagai konstituennya.
Tidak mudah memang menemukan garis penghubung itu, di samping kecende
rungan akan munculnya harapan rakyat yang kerap berlebihan, situasi politik
yang riil tampaknya tidak akan dapat dengan mudah diterjemahkan dalam realitas
kehidupan nyata, bahkan para politisi sendiri terkadang terjebak dalam
posisi-posisi yang amat dilematis.
Akan tetapi, betapapun sulitnya menemukan garis pengubung tersebut,
berbagai cara yang layak perlu juga diupayakan. Karena itu, tulisan ini hadir
untuk mencoba menawarkan alternatif pemikiran yang diharapkan mampu menerobos
sekat-sekat kepicikan pelbagai praduga yang selama ini mengambang dalam
hubungan kehidupan politik antara rakyat dan para politisi. Setidaknya, politik
hati nurani dapat menjadi alternatif pilihan sebagai penyeimbang.
Urgensi Politik Hati Nurani
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dalam kaitannya dengan politik
hati nurani adalah apa saja urgensi penerapan politik hati nurani ini dalam
panggung perpolitikan dewasa ini. Beberapa jawaban sederhana berikut ini
diharapkan mampu menjawab pertanyaan krusial tersebut.
Pertama, kekuasaan memang luhur dan mulia, karena itu harus diperoleh,
dijalankan, dan ditujukan untuk kemuliaan dan keluhuran kemanusiaan. Ini
berarti egoisme politik yang selama ini menyekap para elite politik, dengan
hanya menganggap dirinya paling benar dan tidak mau mengakui kebenaran orang
lain, akan menge cil dan dengan sendirinya membuka komunikasi politik yang
sehat dan konstruktif. Tanpa komunikasi politik yang berbasis pada suara hati
nurani, maka setiap terjadi konflik para elite politik, dampaknya akan
memperkeruh kehidupan masya rakat secara keseluruhan, karena akan menyeret pada
politik massa yang cenderung anarkis dan tidak terkendali.
Kedua, tanggung jawab politik memiliki dimensi yang luas. Di samping
bertanggung jawab kepada rakyat pada umumnya, bertanggung jawab kepada partai,
para politisi juga perlu bertanggung jawab kepada diri sendiri. Dalam proses
pertanggungjawaban tersebut, amatlah dituntut berperannya hati nurani.
Ketiga, meminjam analisis Musa Asy'arie, pada hakikatnya, kekuasaan
mempunyai nurani, dan suara hati nurani kekuasaan menjelma dalam nilai-nilai
universal yang memberi pemaknaan pada kekuasaan itu sendiri. Hati nurani
kekuasaan adalah keadilan dan kemakmuran rakyat, karena keadilan dan kemakmuran
rakyatlah yang akan memberikan makna terhadap kekuasaan. Oleh karena itu, jika
kekuasaan tidak untuk keadilan dan kemakmuran rakyat, ia akan kehilangan
dimensi spiritualitasnya.
Panggilan Nurani
Bilakah hati nurani merasa terpanggil untuk menyatakan keberadaannya?
Terhadap hal ini, sangat terasa kebenaran uraian K Bertens tentang panggilan
hati nurani. Bertens menyatakan bahwa biasanya hati nurani akan berbicara
ketika harus berhadapan dengan berbagai dilema. Bagaikan buah simalakama, hati
nurani akan bergulat ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit yang
menghasilkan risiko yang tidak kalah besarnya.
Sebagai contoh, apakah harus mengungkap fakta pahit yang dilihat atau
berdiam diri demi keselamatannya sendiri. Bila berbicara, maka terancamlah
keselamatannya. Namun, bila berdiam diri, maka belum tentu dapat
mempertanggungjawabkan sikap tersebut terutama kepada dirinya sendiri.
Dalam politik, tentu saja banyak terdapat pilihan-pilihan dilematis
seperti ini. Bahkan berbagai kompromi tampaknya kerap tak terhindarkan. Tidak
ada yang salah dengan berbagai kompromi yang telah berhasil diwujudkan, namun
akses dari kompromi tersebut justru yang harus dipertanggungjawabkan. Sejauh
mana kompromi tersebut benar-benar ditujukan untuk keadilan dan kemakmuran
rakyat.
Jika kita mau jujur melihat fenomena sosial yang meluas dalam kehidupan
masyarakat, betapa seseorang yang kehilangan kekuasaan menjadi kecewa,
frustrasi, dan sakit hati atas risiko berpolitik yang dihadapinya? Dengan
asumsi kehilangan kekuasaan berarti kehilangan segala-galanya, baik martabat,
gengsi, ataupun rezeki, semuanya itu kerap menyeret orang pada posisi
menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaannya.
Akan tetapi, menurut Musa Asy'arie, jika hati nurani kekuasaan melekat
pada nurani seseorang yang berkuasa, maka kekuasaan adalah amanat rakyat yang
harus tetap dijaga nuraninya, sehingga saat kekuasaan sebagai amanat itu
selesai, mereka tidak akan kehilangan martabat, harga diri, maupun rezeki.
Sebaliknya, ia akan dapat mensyukuri bahwa dirinya telah melaksanakan amanat
dengan baik, dan ia masih tetap produktif, tidak kehilangan relasi dan
komunikasi sosialnya, karena semata-mata pandangan hidupnya bahwa kekuasaan
bukanlah segala-galanya. Kekuasaan hanyalah ama nah yang harus
dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
Pertanggungjawaban tersebut pada hakikatnya terpulang kepada hati nurani
masing-masing, apakah memilih mengikuti putusan nurani dengan segenap risiko
atau lebih memilih mengingkarinya atau memilih sekadar berdiam diri. Namun,
disadari maupun tidak, hati nurani tidak pernah bisa mewakili dan diwakili oleh
orang lain, dan pengkhiatan yang paling sadis adalah kebohongan pada diri
sendiri.
Permasalahannya adalah sanggupkah para elit politik di negeri ini,
mengamalkan tuntutan hati nurani dalam berpolitik. Tentu saja sanggup, karena
kesejatian politik bukan merupakan seni untuk berbohong dan mengingkari hati
nurani. Semoga!***
*)Markus Gunawan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/