http://www.suarapembaruan.com/News/2007/07/12/Sorotan/sorot01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Radikalisme, Ancaman Baru di Poso
Pengantar 


Masih segar dalam ingatan kita, kerusuhan Poso beberapa waktu lalu yang 
berlangsung cukup lama dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Korban luka 
dan hancurnya sejumlah bagunan karena dibakar, masih harus dibenahi. Kondisi 
Poso kini sudah jauh lebih baik. Sejumlah tokoh yang berada di balik kerusuhan 
tersebut sudah ditangkap dan sebagian lagi masih diburu oleh aparat kepolisian. 

Namun, permasalahan Poso belumlah selesai. Apalagi masih ada sebagian warga 
yang sampai saat ini memilih berada di tempat pengungsian karena takut kembali 
ke rumah mereka. Masih ada persoalan dan tersisa trauma akibat dari kerusuhan 
yang berkepanjangan tersebut. Masih dibutuhkan upaya yang komprehensif untuk 
menuntaskan masalah tersebut. Untuk mengetahui lebih banyak persoalan Poso 
kini, koresponden SP, Jeis Montesori menuliskannya dalam sorotan kali ini. 

 

 

SP/Jeis Montesori S 

Warga berjualan sayur-mayur di Pasar Sentral Poso. Suasana damai dan aman 
membuat aktivitas di pasar yang menjadi pusat perekonomian warga Poso itu hidup 
kembali. 

elum pernah dalam delapan tahun terakhir di mana saat ini orang kembali bisa 
dengan bebas keluar-masuk Poso, tanpa dihantui perasaan takut. Juga belum 
pernah terjadi warga begitu mudahnya bepergian pada malam hari melewati tanah 
Poso, dan tidak perlu lagi minta pengawalan aparat keamanan, seperti dulu. 

Situasi ini sudah berlangsung sejak sekitar empat bulan terakhir. Bukan hanya 
penduduk lokal, tapi warga dari luar Poso seperti Manado, Gorontalo, Makassar, 
dan Jakarta, akhir-akhir ini banyak yang bepergian ke Poso. Mereka tidak takut 
lagi pada ancaman ledakan bom atau penembakan misterius yang telah menjadi 
stigma bertahun-tahun dalam kehidupan masyarakat. 

Warga dari luar daerah itu umumnya ke Desa Meko, Kecamatan Lore Utara (sekitar 
75 km dari kota Poso). Di desa terpencil ini, sejak Februari memang dihebohkan 
dengan munculnya seorang anak kecil, Sherlin (8) yang mampu menyembuhkan 
bermacam-macam penyakit. Mulai dari sakit lumpuh, buta, tuli, stroke hingga 
beragam penyakit berat lain, dilaporkan bisa disembuhkan Sherlin hanya dengan 
doa dan menyanyi puji-pujian bagi Tuhan. 

Ribuan orang dari berbagai penjuru setiap minggu datang ke Meko dengan tujuan 
berobat pada Sherlin. Yang menarik, masyarakat yang datang itu berasal dari 
latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda. Ketika jadwal penyembuhan itu 
berlangsung setiap malam Jumat dan puncaknya hari Jumat, tidak peduli apa 
agamanya, semua yang ingin mendapatkan kesembuhan, bersatu dan berdoa bersama 
di Lapangan Meko, di mana Sherlin yang didampingi ibunya mengadakan doa dan 
jamahan penyembuhan. 

Seusai berobat warga itu kembali ke daerah asalnya dan harus melewati bekas 
basis-basis konflik di Poso. Yang sangat melegakan, tidak lagi ada aksi-aksi 
kekerasan atau teror bom seperti yang sering menimpa warga ketika melewati 
wilayah itu. Semua kembali dengan selamat. tidak lagi ada pemeriksaan KTP di 
pos-pos penjagaan polisi/tentara.. Pemilik/penumpang kendaraan cukup 
melambaikan tangan saja ke arah aparat, semua kendaraan sudah boleh lewat 
dengan nyaman. 

Ini menandakan, situasi Poso sudah berubah. Poso sudah benar-benar pulih, 
kondusif dan aman. Siapa pun, sudah boleh ke Poso tanpa pengawalan, tanpa perlu 
merasa takut dicurigai/dibuntutin seperti dulu ketika konflik berbau agama itu 
meletus mulai Desember 1998 dan berlanjut April-Mei 2000 sampai akhir 2006. 


Ditangkap 

Harus diakui, situasi Poso yang kondusif seperti itu, terutama tercipta 
pascadilakukan penegakan hukum oleh aparat keamanan atau yang dikenal dengan 
peristiwa 11 dan 22 Januari 2007. 

Dalam dua peristiwa itu, polisi menangkap paksa para aktor kekerasan di Poso. 
Mereka ditangkap di basis persembunyiannya di kawasan tanah runtuh, Kelurahan 
Gebang Rejo dan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota. 

Penangkapan itu juga tidak berlangsung mulus. Para tersangka yang sebelumnya 
sudah ditetapkan sebagai buron polisi atau dikenal istilah DPO (daftar 
pencarian orang), memberikan perlawanan keras pada polisi. 

Akibatnya, kontak senjata tak dapat dihindari. Sedikitnya 15 warga sipil 
terdiri dari DPO dan pendukungnya, tewas ditembak aparat. Sedang di pihak 
polisi terdapat dua prajurit (anggota Brimob dan Polmas) mati 
tertembak/dikeroyok massa. 

Selama hampir sebulan, polisi melakukan pembersihan di Poso di antaranya 
menggerebek wilayah Tanah Runtuh yang diidentifikasi sebagai sarang pelaku 
kekerasan. Dari tempat itu berhasil ditemukan berbagai jenis bahan peledak 
berbahaya yang diduga dipakai selama ini. 

Di antaranya diamankan 30 jenis senjata berat organik maupun rakitan, 10.786 
butir amunisi dalam berbagai kaliber, 235 bom rakitan aktif. Juga ditangkap dan 
menyerahkan diri 56 tersangka pelaku kekerasan. Dari penangkapan itu, berhasil 
diungkap 21 kasus kekerasan di Poso dan Palu yang diduga dilakukan para 
tersangka selama ini. 

Sejak penangkapan para DPO, volume kekerasan menurun drastis di daerah itu. 
Aksi-aksi kekerasan seperti peledakan bom dan penembakan misterius nyaris tak 
terdengar lagi di Poso maupun Palu, ibu kota Sulawesi Tengah (Sulteng). Hal itu 
juga diakui J Santo dan Daeng Raja, tokoh Kristen dan Muslim Poso. 

"Ya, saya kira terciptanya keamanan di Poso saat ini tidak terlepas dari 
tertangkapnya para tersangka pelaku kekerasan tersebut, dan tindakan seperti 
ini harus dipertahankan polisi sampai situasi Poso benar-benar aman," kata 
mantan Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang 
berpusat Tentena, Poso ini. 

Senada dengan itu, Daeng Raja, deklarator Malino untuk Perdamaian Poso 
mengatakan pihaknya merespon positif tindakan polisi namun ia juga meminta 
polisi harus obyektif dan tidak diskriminatif dalam menangkap semua pelaku 
kekerasan di Poso. 


Akar Masalah 

Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Badrodin Haiti dalam percakapan dengan SP 
mengatakan, penegakan hukum 11 dan 22 Januari barulah menyentuh bagian 
permukaannya saja. Seperti teori gunung es, polisi baru menangani pucuknya saja 
yakni menangkap para tersangka dan buronan. Tapi akar masalah masih banyak dan 
belum terselesaikan. 

Dalam seminar nasional membahas tentang "Evaluasi Kebijakan Penanganan Konflik 
di Poso" yang dilaksanakan Universitas Tadulako (Untad) di Palu baru-baru ini, 
terungkap sejumlah potensi konflik di Poso yang belum bisa terselesaikan. 

Di antaranya soal semakin mengakarnya ajaran radikalisme yang menjalar sampai 
ke desa-desa, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, trauma akibat 
konflik, masih ada krisis kepercayaan dan dendam di antara para korban konflik, 
masalah kependudukan, pengungsi dan pengembalian hak-hak keperdataan masyarakat 
yang belum tuntas serta bantuan-bantuan dana pemerintah untuk pemulihan 
ekonomi, sosial budaya masyarakat pasca konflik yang tidak transparan bahkan 
diduga sarat korupsi. 

Kapolda mengakui paham radikal sudah cukup tertanam luas di sebagian masyarakat 
Poso dan menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa. 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Poso, Yahya Mangun mengatakan, upaya 
deradikalisasi itu dapat dicegah dengan cara peningkatan dakwah (bagi umat 
Islam) atau evangelisasi (bagi umat Nasrani). Ini menjadi salah satu solusi 
menuntun kembali warga yang sudah telanjur terdoktrin dengan paham-paham yang 
menggiring pada aksi-aksi kekerasan. "Program cinta Tuhan, ini yang harus kita 
buat di Poso. Kalau orang sudah cinta Tuhan, ia tidak akan berbuat kekerasan," 
katanya. 

Persoalan kemiskinan dan tingginya angka pengangguran juga menjadi masalah 
serius di Poso. Karena perut lapar, begitu mudahnya warga terpancing melakukan 
aksi-aksi kekerasan. Hasil penyelidikan Polda Sulteng menyebutkan para pelaku 
kekerasan di Poso maupun Palu mendapat imbalan uang yang cukup setiap kali 
melaksanakan tugas meledakkan bom atau membunuh orang-orang tertentu yang sudah 
ditargetkan. 

Menurut Wakil Bupati Poso, Abdul Muthalib Rimi jumlah orang miskin di Poso 
mencapai sekitar 50.000 jiwa dari 194.241 jiwa total penduduk Poso saat ini. 
Jumlah rumah tangga miskin (RTM) mencapai sekitar 20.000 RTM, dan angka 
pengangguran terbesar adalah para tamatan SLTA sekitar 2.000 orang. Tingginya 
akan kemiskinan ini menjadi sangat ironi bila dibandingkan dengan Kabupaten 
Poso yang kaya sumber daya alam (SDA) sehingga tidak mesti rakyatnya hidup 
sengsara dan miskin. 

Contoh paling nyata saat ini, seperti dikemukakan Direktur Lembaga Penguatan 
Masyarakat Sipil (LPMS) Poso, Iskandar Lamuka, pembangunan sistem pembangkit 
listrik tenaga air (PLTA) Poso I, II dan III yang akan menghasilkan kekuatan 
energi hingga 690 megawatt (MW). Ternyata out put dari energi raksasa ini tidak 
dinikmati warga Poso. 

PLTA yang memanfaatkan potensi air terjun raksasa Sulewana di Kecamatan Lore 
Utara, Kabupaten Poso itu, mulai dibangun tahun 2005 (saat masih 
hangat-hangatnya konflik di Poso) oleh PT Poso Energi. * 



--------------------------------------------------------------------------------

Last modified: 11/7/07 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke