http://www.suarapembaruan.com/News/2007/08/25/Editor/edit01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Perbudakan yang Pernah Biasa Saja
 

K Bertens 



Tahun 2007 ini Inggris memperingati 200 tahun yang lalu dikeluarkan Abolition 
of the Slave Trade Act, tepatnya 25 Maret 1807. Undang-Undang ini melarang 
praktik perdagangan budak di seluruh British Empire. Di wilayah Inggris 
sendiri, seperti di seluruh Eropa, pada waktu itu praktik perdagangan budak 
memang tidak ada. Tetapi di koloni-koloni Inggris perdagangan budak masih 
banyak dilakukan, karena perbudakan menjadi unsur hakiki dalam perekonomian dan 
sistem kerja di situ. Walaupun dengan demikian perdagangan budak dilarang, 
pemakaian budak di perkebunan atau tempat kerja lain masih dapat diteruskan dan 
perbudakan sebagai institusi baru dihapus dalam Imperium Inggris 26 tahun 
kemudian. 

Bagi orang modern, cukup mengherankan perdagangan budak sebenarnya belum lama 
dilarang. Sebab, apa artinya 200 tahun, jika dipandang dalam perspektif 
sejarah? Sebagian terbesar sejarah umat manusia mengenal institusi perbudakan, 
baik di dunia Barat maupun di dunia Timur. Dalam negara seperti kawasan Yunani 
kuno dan kekaisaran Roma perbudakan termasuk pola-pola sosio-ekonomi pada waktu 
itu. Hampir tidak dapat dibayangkan lagi dalam periode begitu lama perbudakan 
dianggap sebagai suatu institusi biasa saja dan tidak pernah dipersoalkan. 


Kemajuan Moral 

Kadang-kadang terdengar diskusi tentang pertanyaan, apakah di bidang moral 
terjadi kemajuan dalam sejarah atau tidak. Kalau kita memandang hal-ihwal di 
sekitar perbudakan, kesimpulan tidak terelak lagi bahwa bisa terjadi kemajuan 
besar di bidang moral. 

Kini perbudakan di mana-mana ditolak sebagai lembaga sosial yang sangat tidak 
etis. Di seluruh dunia tidak ada satu negara pun yang dapat mempertahankan 
perbudakan sebagai sistem sosial-ekonomi. Dan tidak mungkin sama sekali pada 
suatu hari kita kembali lagi ke masyarakat di mana perbudakan diterima sebagai 
biasa saja. Sekarang perbudakan disadari sebagai perlakuan manusia yang paling 
bertentangan dengan martabatnya. Sebab, di sini manusia satu diperlakukan 
sebagai sarana belaka bagi manusia lain. 

Inti martabat manusia adalah bahwa setiap manusia merupakan tujuan sendiri, 
yang tidak pernah boleh ditaklukkan seratus persen pada tujuan manusia lain. 
Dan justru hal itulah terjadi, bila manusia dijadikan sarana belaka. Jika kita 
menjadi karyawan bagi orang lain, kita dapat mempertahankan tujuan kita 
sendiri, antara lain karena setiap saat kita bisa berhenti. Jika kita dijadikan 
budak, hal itu tidak mungkin lagi. 

Sebetulnya cukup mengejutkan, kalau kita lihat ahli etika besar seperti 
Aristoteles sama sekali belum menyadari hal itu. Bagi Aristoteles, budak adalah 
alat saja dalam tangan tuannya. Ada alat tidak berjiwa, seperti pacul atau 
palu, dan ada alat berjiwa seperti kuda atau keledai. Budak termasuk kategori 
kedua ini. "Bagi budak, tidak ada sesuatu pun yang bersamaan dengan tuannya; 
dia adalah sebuah alat yang hidup, sama seperti alat adalah budak yang tidak 
berjiwa" (Etika Nikomakheia VIII, 11). Dalam pemikiran Yunani, kita harus 
menunggu sampai mazhab Stoa untuk menyaksikan bersitnya pengakuan persamaan 
derajat manusia. 

Dalam kalangan agama juga, lama sekali perbudakan diterima sebagai biasa saja. 
Hal itu tampak dengan jelas dalam Kitab Suci Kristen, umpamanya. Terjemahan 
Indonesia sering menggunakan istilah "hamba", tapi maksudnya adalah budak 
belian. Berulang kali para budak dianjurkan menaati tuannya dengan sepenuh 
hati. "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, 
bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis" (1 
Petr 2:18). 

Di sisi lain, para tuan diperingati untuk memperlakukan budaknya dengan baik. 
Namun, tidak pernah ada protes terhadap perbudakan sebagai institusi. Tidak 
pernah perbudakan ditolak karena bertentangan dengan martabat manusia. Surat 
kepada Filemon, karangan paling singkat dalam Perjanjian Baru, ditulis Paulus 
untuk dititip kepada Onesimus, budak yang melarikan diri, ketika ia dikirim 
kembali kepada tuannya. Paulus minta kepada Filemon untuk menerimanya dengan 
baik dan mengakui secara eksplisit budak ini sebagai milik Filemon. Perbudakan 
sebagai institusi tidak dipersoalkan. 

Beberapa bulan lalu, dalam majalah Newsweek dimuat diskusi antara seorang ateis 
dan seorang pendeta Protestan tentang peranan agama. Keberatan yang diajukan 
orang ateis terhadap agama Kristen, antara lain bahwa Kitab Suci Kristen 
terkesan menerima perbudakan begitu saja dan tidak pernah menolaknya. Namun, 
tuduhan itu tidak fair. Seperti juga tidak fair bila kita mempersalahkan 
Aristoteles, karena ia belum menyadari institusi perbudakan itu tidak etis. 
Jika kita melihat lebih jauh, akan tampak bahwa penolakan terhadap perbudakan 
di kemudian hari sebagian besar dihasilkan oleh agama dan barangkali juga oleh 
pemikiran filsafat di mana Aristoteles memainkan peranan begitu besar. 


William Wilberforce 

Orang yang mempunyai jasa paling besar dalam memperjuangkan Undang-Undang 
Inggris yang melarang perdagangan budak adalah William Wilberforce (1759-1833). 
Karena itu bicentenary atau peringatan 200 tahun ini terutama terfokus pada 
tokoh Inggris ini. Wilberforce berasal dari kota pelabuhan Hull, Yorkshire, dan 
pada usia 21 tahun dipilih sebagai anggota DPR Inggris. 

Ia terkenal memiliki bakat elokuensi yang besar, sehingga pidatonya di parlemen 
bisa berlangsung beberapa jam, dengan tetap memikat perhatian pendengarnya. 
Selama kira-kira 20 tahun, Wilberforce memperjuangkan undang-undang yang 
melarang perdagangan budak dan ketika akhirnya diterima pada tahun 1807, hal 
itu dianggap sebagai sukses besar bagi Wilberforce secara pribadi. Kendati 
begitu, dengan itu perjuangannya baru setengah jalan. Wilberforce yakin, 
institusi perbudakan itu sendiri harus dihapus. Dan ketika ia mengundurkan diri 
sebagai anggota DPR Inggris pada 1825, tujuan itu semakin mendekat. 

Sebulan sesudah Wilberforce meninggal (1833), parlemen Inggris menerima 
Aboliton of Slavery Act yang memberikan kebebasan kepada semua budak dalam 
Imperium Inggris. Peristiwa itu dapat dipandang sebagai sukses anumerta bagi 
William Wilberforce. 

Yang menarik sekali, Wilberforce dalam perjuangannya mendapat inspirasi besar 
dari imannya. Pernah ia mempertimbangkan menjadi pendeta dan mengisi hidupnya 
dengan mewartakan injil, sampai ia menemukan bahwa ia bisa mewujudkan imannya 
secara lebih efektif sebagai anggota DPR dengan melawan institusi perbudakan, 
walaupun sikap itu agak bertentangan dengan kepentingan ekonomis Inggris waktu 
itu. 

Pada 1787 Wilberforce bergabung dengan sekelompok umat Anglikan dan Quaker yang 
membentuk Society for Effecting the Abolition of the Slave Trade (Himpunan 
untuk menghasilkan penghapusan perdagangan budak). Gagasan pokok Wilberforce 
adalah bahwa semua manusia merupakan saudara, sehingga tidak boleh terjadi lagi 
yang satu diperbudak oleh yang lain. Pikiran itu sejalan dengan anjuran Paulus 
kepada Filemon untuk menerima kembali Onesimus "bukan lagi sebagai budak, 
melainkan lebih daripada budak, yaitu sebagai saudara yang terkasih" (Fil: ayat 
16). 

Kini perdagangan budak sudah lama dihapus. Tidak ada negara lagi yang dalam 
hukumnya masih mengizinkan hal seperti itu. Namun, praktiknya tetap 
berlangsung. Ada yang mengatakan dewasa ini malah terdapat lebih banyak budak 
daripada dalam koloni-koloni Inggris abad ke-19. Istilahnya sekarang people 
trafficking: manusia lemah dan sederhana, kerap kali anak dan perempuan, yang 
dengan tipu daya dibawa ke tempat lain dan dijual sebagai budak seks atau 
tenaga kerja paksaan. 

Syukurlah, banyak LSM dan instansi lain berjuang melawan praktik yang tidak 
manusiawi ini. Semoga orang beriman tetap di baris depan perjuangan mereka. 


Penulis adalah anggota Staf Pusat Pengembangan Etika, Universitas Atma Jaya, 
Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke