Tokoh perempuan dalam sastra Sunda tidak hanya menjadi pelengkap cerita kaum laki-laki saja. Tokoh Dayang Sumbi, dalam cerita Sangkuriang, sama pentingnya dengan tokoh Sangkuriang. Tanpa tokoh Dayang Sumbi, cerita Sangkuriang tidak akan tercipta. Dalam mempertahankan kebenaran akan keyakinannya, walaupun Dayang Sumbi seorang perempuan, tidak kalah dengan Sangkuriang akan kegigihannya mempertahankan keyakinannya.
Dalam cerita sastra "Lutung Kasarung", tokoh utamanya bahkan seorang perempuan, Nyi Mas Purba Sari Ayu Wangi. Walaupun cerita ini terkenal dengan nama "Lutung Kasarung", tetapi tokoh Guru Minda yang menjelma menjadi lutung bukanlah tokoh utama. Guru Minda baru muncul dalam cerita setelah Purba Sari mengalami ketidak adilan dari kakaknya Purba Rarang. Dalam cerita sastra ini, sebagian sastrawan memberi judul 'Purba Sari Ayu Wangi', karena tokoh ini lah yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Yang menderita ketidak adilan dan ahli bertapa dalam cerita ini bukan seorang satria seperti Mundinglaya di Kusumah, melainkan seorang putri. Kecantikan Purba Sari, dikatakan 'geulis datang ka nu lahir' (jelita sampai ke jasmani), adalah kecantikan rohani sampai juga kecantikan jasmani. Kecantikan yang demikian tidak hanya menyilaukan orang-orang di Buana Pancatengah (dunia), melainkan tembus sampai langit ke tujuh. Jelas, kehidupan dunia (materi) tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan langit (spiritual). Ketika di dunia terjadi ketidak adilan, maka Sunan Ambu yang berkuasa di kahyangan menitahkan putranya Guru Minda agar turun ke dunia. Guru Minda disebutkan sebagai anak semata wayang Sunan Ambu, anak dewata yang sulung, yang merupakan titisan Sang Hyang Tunggal. Titisan ini bukan berarti anak tetapi penjelmaan. Dalam hal ini, dalam kepercayaan masyarakat Sunda lama, sudah menunjukkan bahwa mereka adalah penganut monotheisme, dengan adanya istilah 'Tunggal'. Menarik untuk diperhatikan bahwa yang berkuasa di kahyangan, menurut kepercayaan masyarakat Sunda, adalah Sunan Ambu, seorang perempuan. Diceritakan, dibawah Sunan Ambu ada empat orang laki-laki sakti yang disebut bujangga. Bujangga Tua, Bujangga Sakti, Bujangga Seda dan Bujangga Tapa, tugasnya melaksanakan segala perintah dari Sunan Ambu untuk mengerjakan apapun juga di Buana Pancatengah (dunia). Disamping para bujangga, ada lagi pembantu Sunan Ambu yang disebut pohaci. Para pohaci ini adalah perempuan. Tidak jelas ada berapa jumlah pohaci, namun dalam cerita Mundinglaya di Kusumah ada pohaci yang bernama Wiru Mananggay yang menghidupkan kembali Mundinglaya di Kusumah ketika dia tewas dikalahkan oleh Guriang Tujuh. Perkataan Ambu sendiri bukanlah berarti perempuan melainkan ibu, menunjuk kepada sifat perempuan sebagai lambang kesuburan. Kata Sunan adalah sebutan untuk orang yang sangat dihormati, sehingga dapat memberi kesan adanya penghormatan atau pemujaan terhadap perempuan sebagai ibu. Seperti penghormatan lain, 'indung pare' (ibu padi), yaitu padi yang dipanen terlebih dulu daripada yang lainnya dan diperlakukan dengan sangat mulia. Tokoh Purba Sari yang sabar, suka mengalah, gemar bertapa, dipertentangkan dengan tokoh Purbararang, kakak Purba Sari, yang pemarah, serakah, tidak adil. Digambarkan tentang Purbararang dalam pantun, "urat nganteng dina tarang, pangaruh jalma nu bedang" (urat merentang pada dahi, akibat selalu mau menang sendiri). Purbararang, yang diangkat sebagai penguasa sementara, berusaha hendak melenyapkan pewaris tahta yang sah, Purba Sari, dengan segala tipu akal muslihat. Seperti juga dalam cerita Mundinglaya di Kusumah, dalam cerita 'Lutung Kasarung' ini, dasarnya kepercayaan manusia akan kebenaran dan keadilan niscaya menang, dengan kekuatan pertolongan dari Kahyangan (spiritual), melawan keserakahan dan ketidak adilan. Bagaimanapun Mundinglaya dan Purba Sari hendak dihancurkan dan dimusnahkan, mereka akhirnya muncul juga sebagai pemenang dengan kesabaran dan bertapa (berdoa kepada Hyang Tunggal). Ketika Purba Sari mengerjakan ladang, maka Sunan Ambu selalu datang dalam impian memberinya petunjuk bagaimana tata cara berladang yang baik. Karena itu maka ada sebagian orang yang mengatakan cerita 'Lutung Kasarung' ini sudah sangat tua, karena mengisahkan manusia Sunda belajar berladang. Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
