Copyright © 2007 Media Indonesia Online. All rights reserved.
Kamis, 30 Agustus 2007 08:40 WIB
OPINI
Tiga Tahun tanpa Munir
TIGA tahun sudah sosok kurus dan berkumis yang dikenal sederhana secara
fisik, namun kaya akan moral itu pergi jauh dari kita. Munir adalah Munir. Ia
tidak akan tergantikan sampai kapan pun. Tetapi, mengadaptasi moral yang
menyeruak dari perilakunya bisa dilakukan siapa pun.
Penyair Chairil Anwar pernah berujar dalam sajak berjudul Diponegoro,
''Sekali berarti, sudah itu mati.''. Sajak itu ditulis sebagai sebuah bentuk
kekaguman sang penyair pada semangat berjuang yang meluap tiada henti di
sanubari Pangeran Diponegoro. 'Sekali berarti' merupakan frasa yang
mengingatkan kita pada sebuah hasrat eksistensialisme manusia di dunia ini.
Manusia tidak hidup menunggu mati, tetapi ia harus hidup untuk memberi arti
bagi tubuhnya sendiri dan tubuh sosial (lingkungan) yang melingkupinya.
Munir berada dalam pengertian eksistensialisme itu. Ia tidak menikmati
hidup hanya untuk diri sendiri. Ia bergulat mencari makna hidup, bukan berputar
dengan sibuk pada tubuhnya saja. Ia bekerja untuk memberi arti kepada khalayak
ramai tentang makna hak asasi manusia (HAM). Lebih jauh, ia berusaha menanamkan
moral kritis kepada masyarakat Indonesia melalui kerja selama hidupnya.
Warga Aceh menderita di bawah rezim Orde Baru, informasi itu bukan
didapat secara bebas. Informasi itu dibongkar dengan sikap kritis yang berpihak
pada hak manusia untuk hidup. Munir ialah salah satu individu yang teguh
menyampaikan informasi itu sejak Orde Baru belum tumbang. Agar hidup menjadi
berarti, Munir memilih untuk membongkar tabu di tengah kemapanan yang dirasakan
masyarakat Indonesia di bawah Orde Baru.
Moral kritis yang dicontohkan Munir melalui perilakunya merupakan moral
yang selalu mencari kebenaran tanpa henti. Pengungkapan pembantaian massal di
Aceh, misalnya, membuat kita tahu bahwa Munir seolah selalu bertanya; benarkah
tindakan membunuh manusia demi persatuan dan keamanan negara? Pertanyaan itu
tidak mudah dijawab, ada teks dan konteks yang harus dikaitkan terlebih dahulu
untuk mencapai sebuah kebenaran.
Pencarian kebenaran haruslah dilandasi semangat aspiratif, distributif,
dan kolektif. Maka dari itu, kebenaran yang muncul karena hegemoni penguasa
bukanlah kebenaran dalam arti sesungguhnya. Ia bisa saja serupa mitos yang
digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Kebenaran itu boleh jadi merupakan
alat untuk membunuh sikap dan sifat kritis yang dianggap mengganggu kekuasaan.
Peter L Beger menyapa nurani pejabat negara melalui Pyramids of Sacrifice
(1974). Menurutnya, sebuah kebijakan haruslah pula menelurkan dua gagasan
penting di dalamnya, yaitu calculus of meanings (perhitungan makna) dan
calculus of pains (perhitungan penderitaan). Hal tersebut semata-mata karena
tiap kebijakan tentu akan pula menghadirkan perubahan dalam masyarakat.
Perubahan bisa membuat sebagian masyarakat menderita karena terjadi
transfigurasi makna dalam kehidupan. Untuk itulah, ruang publik berupa
diskursus atas suatu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah harus dibuka lebar.
Kebebasan berpendapat
Ruang diskursus itu merupakan sarana untuk mencapai sebuah kebijakan yang
mampu bermanfaat kepada rakyat banyak. Kebebasan mengeluarkan pendapat tidak
harus selalu berujung pada kekerasan. Pemerintah menjadi pihak yang siap untuk
berubah karena sekian pertimbangan yang muncul dari diskursus terhadap
kebijakan itu.
Entahlah, Munir mungkin sudah membaca buku Berger itu. Sebab, selama
hidupnya, ia selalu menggelar jumpa pers demi mengungkap kebenaran fakta
penindasan, pembunuhan, dan pelanggaran atas hak manusia di Indonesia. Ia tidak
pernah melakukan kekerasan agar suaranya didengar publik. Munir menempuh jalur
rasional untuk mengungkap seluruh sisi irasional yang muncul dari hegemoni
pembangunan yang dilancarkan negara ini.
Munir telah menegakkan suatu kesadaran reflektif yang kritis melalui data
empiris untuk membongkar 'gunung kebenaran' pembangunan yang dihegemoni
pemerintah. Sikap itulah yang seharusnya menjadi contoh bagi kita yang hidup di
tengah era kebebasan saat ini.
Modernisasi--yang di dalamnya mengandung pembangunan dan kebebasan--tanpa
sikap reflektif-kritis hanya akan menjadikan penderitaan akrab dengan
masyarakat. Seluruh sumber dalam suatu masyarakat--norma agama, adat, dan
aturan lainnya--harus digunakan untuk memandang dan menjalankan pembangunan
yang benar-benar laik. Masyarakat yang tumbuh menjadi konsumtif, individualis,
dan gemar memilih jalur kekerasan sebagai penyelesaian masalah ialah korban
dari modernisasi yang dimaknai secara tidak reflektif-kritis.
Munir tidak mempersoalkan hak atas kebebasan bagi tubuhnya sendiri. Ia
mempersoalkan kebebasan tubuh sosial yang diinjak-injak demi kepentingan tubuh
individu (baca: penguasa). Kritik Munir merupakan kritik untuk kemanusiaan,
sehingga ia berbeda dengan kritik politik yang selalu mengutamakan kepentingan
golongan tertentu.
HAM sering kali dimanfaatkan sekelompok pihak untuk keuntungan mereka
sendiri. Melalui sikap reflektif-kritis, niscaya kita tidak akan terjebak
dengan jargon HAM yang menjurus pada kepentingan individual semata. Di sinilah
pentingnya pembukaan ruang diskursus pada tubuh masyarakat. Seluruh wacana
dipaparkan tanpa ada yang harus tersembunyi demi tercipta makna dengan kegunaan
massal. Ruang diskursus yang sehat menihilkan hegemoni satu pihak kepada pihak
lain.
Kesadaran reflektif-kritis niscaya membawa kita pada sebuah pemahaman
bahwa tiap kebebasan akan berbenturan dengan kebebasan lain. Pada titik inilah,
semangat dialog menjadi keharusan dalam masyarakat. Sebuah pertanyaan mudah,
apakah menumpuk harta itu adalah HAM? Sejumlah jawaban bisa saja muncul dengan
sangat beragam. Tetapi, bukankah awal dari seluruh kejahatan adalah tidak
terciptanya keadilan pada masyarakat manusia? Maka, menumpuk kekayaan merupakan
jalan bebas menciptakan ketidakadilan dan kejahatan secara bersamaan. Sehingga,
order (keteraturan) dalam masyarakat merupakan sebuah mimpi yang tidak akan
terwujud.
Munir pernah menerima penghargaan dari sebuah LSM di Belanda. Sebuah
penghargaan tentu saja mengandung sejumlah uang di dalamnya. Munir tidak
menggunakan uang itu sendiri. Ia mengambil tidak lebih dari setengah jumlah
total uang itu, selebihnya disumbangkan untuk kerja-kerja penegakan HAM di
Indonesia. Sikap distributif yang diperlihatkan Munir ini tentu saja bisa kita
lakukan.
Tiga tahun ini, kita sudah kehilangan besar. Cahaya itu, Munir, hanya
akan menerangi perjalanan masyarakat Indonesia jika terus dijaga siapa pun.
Mengangkat Munir sebagai salah satu pahlawan HAM di Indonesia merupakan sebuah
kelaikan. Sebab, ia sudah memberi contoh tentang makna 'sekali berarti' bagi
seluruh masyarakat Indonesia di era modern ini.
Munir, walau tubuhnya ringkih dan kecil, ternyata mampu menjadi besar
dengan sikap hidupnya yang reflektif-kritis. Sebuah sikap hidup yang bisa dan
harus kita lakukan. Akhirnya, mengenang Munir adalah mengenang sebuah gerak
yang tidak hidup untuk tubuhnya sendiri.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/