Ibu Tahu Rahasiaku  

Cerpen: Puthut EA  
Sumber: Kompas,  Edisi 08/26/2007  
---------------------------------------------------------
 
Ketika aku turun dari angkutan, orang-orang yang mengantar jenazah 
Bido baru saja pulang dari kuburan. Sepintas aku melihat, di depan 
warung kopi Bido, masih ada tenda kecil dan jajaran kursi, juga 
ceceran bunga. Aku terus saja berjalan menuju rumah.

Sore ini, ibuku tidak banyak bicara. Ia hanya membuatkanku kopi, 
memasukkan tasku ke kamar, dan membiarkanku sendirian di teras 
samping. Ia tahu untuk apa aku pulang, tapi tidak bertanya mengapa 
aku terlambat mengikuti pemakaman. Aku juga tidak sempat bertanya, 
mengapa di dapur ada banyak orang, tikar tergelar di ruang tamu dan 
beranda depan. Mungkin akan ada arisan.

Aku bahkan tidak tahu persis apakah aku benar-benar kenal Bido dengan 
baik atau tidak. Aku jarang berbicara dengannya, semakin jarang 
ketika aku sudah tidak tinggal di kampung lagi. Tapi tidak bisa 
kumungkiri, ada beberapa peristiwa di masa laluku yang membuatku 
merasa mempunyai hubungan khusus dengannya.

Dua puluhan tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku merasa 
dikhianati teman-teman sepermainanku. Saat itu, aku baru duduk di 
kelas lima sekolah dasar. Jauh hari, aku dan teman-teman sebayaku 
merancang untuk menonton wayang kulit di kota lain yang jaraknya 60-
an kilometer dari kampungku. Dalangnya, Ki Manteb Sudarsono. Semua 
rencana sudah matang. Tapi tepat di sore hari saat kami seharusnya 
berkumpul di pertigaan jalan besar untuk bersama mencegat angkutan, 
tidak ada seorang pun yang datang. Padahal aku telah membayar mahal 
rencana itu karena sore sebelumnya, aku merengek meminta izin 
orangtuaku untuk tidak ikut piknik bareng mereka ke Bali. Sore itu, 
aku bertekad untuk berangkat sendirian dengan rasa marah.

Tepat di saat aku hampir melambaikan tangan ke sebuah angkutan yang 
terlihat dari jauh, seseorang menyapaku. Aku menoleh. Orang itu 
bernama Bido. Umurnya jauh lebih tua dari umurku. Tahu kalau aku akan 
berangkat sendirian dan tahu kalau aku tidak mungkin membatalkan 
rencanaku, ia langsung ikut nangkring di atas angkutan. Saat aku 
tanya ia hendak ke mana, ia menjawab ingin menemaniku. Rasa ragu 
bepergian jauh dan sendirian, tidak punya famili dan teman di kota 
tujuan, mendadak rampung jadi pikiran begitu Bido menemaniku.

Malam itu akhirnya aku menonton sampai tuntas pagelaran wayang yang 
sudah kutunggu- tunggu. Malam itu pula, aku merasa seperti laki-laki 
yang sudah dewasa. Tidak jauh dari si dalang, aku kelepas-kelepus 
merokok, bahkan Bido memberiku segelas kopi yang sudah dicampur 
dengan sedikit arak, supaya aku tidak masuk angin karena pagelaran 
itu diadakan tepat di bibir pantai. Itulah kali pertama aku minum 
arak.

Tapi saat itu bukan kali pertama aku merasa ditolong oleh Bido. 
Beberapa tahun sebelumnya, Bido juga mengulurkan tangannya, memberi 
jalan kepadaku untuk melakukan sesuatu.

Saat itu ada lomba catur menjelang tujuh belasan di kampung. Malam 
itu aku masuk babak final. Musuhku bernama Anton, anak seorang mantri 
suntik yang baru saja pindah ke kampungku. Ia kelas enam dan aku baru 
kelas tiga kalau tidak kelas dua. Aku yakin aku pasti menang di 
pertandingan itu. Tapi malam itu, orang-orang berpihak kepada Anton. 
Mereka itu ada Pak Camat, Pak Lurah, beberapa polisi dan tentara, ada 
juga guru ngajiku, semua memihak Anton. Aku menduga karena bapak 
Anton juga menonton. Berkali-kali, Anton mengulang langkah. Kalau aku 
berpikir lama, mereka menyuruhku cepat-cepat melangkah, kalau Anton 
berpikir lama, mereka sibuk mengajarinya. Aku kalah. Aku hanya bisa 
membalas ketika di malam resepsi para pemenang diundang naik ke 
panggung, aku malah pergi. Ibu yang mengambilkan hadiahku. Begitu 
sampai di rumah, ketika hadiah itu diulungkan kepadaku, aku 
membantingnya. Ibuku hanya diam dan mengelus-elus rambutku, lalu 
membuatkanku mi goreng dan telor gulung kesukaanku.

Kemarahanku kepada Anton mereda ketika suatu saat, sepulang sekolah, 
Bido mencegatku. Ia membisiki sesuatu. Segera aku berlari ke rumah. 
Malamnya, aku tidak bisa tidur.

Pagi harinya, kampung kami geger. Di halaman depan rumah yang disewa 
keluarga Anton terdapat pohon nangka yang sedang berbuah. Dan di 
pohon itu ada buah nangka besar yang terpotong separuh. Di dekat buah 
yang terpotong itu, ada kertas tertempel dengan bunyi: Njaluk 
nangkamu separo, ya!

Bukan pencurian nangka yang membuat geger, tapi pencurian nangka 
dengan tulisan di pohonlah yang membuat geger. Peristiwa seperti itu 
baru terjadi pertama kali di kampungku. Aku semestinya merasa aman. 
Pohon itu terlalu tinggi untuk kunaiki. Buah yang hilang separuh itu 
juga terlalu besar untuk dibawa oleh anak seumuranku. Lagi pula, 
malam itu, ibu dan bapakku tahu aku berada di rumah. Tapi yang tidak 
pernah kupikirkan adalah, tulisan di kertas itu memakai spidol besar. 
Di kampungku saat itu, spidol besar tidak dijual di toko-toko. Tidak 
sembarang orang memilikinya. Aku baru sadar kalau aku melakukan 
kebodohan ketika siang sepulang sekolah, ibu merapikan spidol besar 
dari laci dan menyimpannya di lemari, lalu dikunci. Saat itu, ibu 
menatapku tajam sekali.

Aku bahkan lupa nama asli Bido. Ia tinggal dengan emaknya di pinggir 
kampung, dekat sungai. Rumahnya kecil dan reyot. Mbok Nah, emak Bido, 
menafkahi diri dengan mencari kayu bakar dan daun jati yang dicari di 
hutan.

Awalnya, aku tidak begitu tahu kenapa Bido terlihat begitu perhatian 
kepadaku. Barulah ketika aku beranjak besar, aku mengumpulkan kabar-
kabar yang bisa menyusun alasan itu.

Dulu, ibuku adalah wali kelas Bido di sekolah dasar. Tiba-tiba suatu 
saat, ibuku diberi tahu kalau Bido ditangkap karena dituduh mencuri 
kayu dari hutan. Ibuku marah sekali. Ia lalu ngeluruk pergi seorang 
diri ke kantor Perhutani untuk mengeluarkan Bido. Ibuku sangat yakin, 
Bido tidak bersalah. Bido hanya membantu emaknya mencari rencek, kayu 
bakar yang dipunguti dari dahan-dahan yang sudah jatuh ke tanah. 
Konon terjadi pertengkaran hebat di kantor Perhutani. Mungkin karena 
ibuku menangis, mungkin juga karena ibuku perempuan dan seorang guru 
sehingga para petugas Perhutani merasa malu, atau mungkin karena saat 
itu ibuku sedang hamil, hari itu juga Bido dikeluarkan dari tahanan 
polisi hutan yang terletak di kompleks kantor Perhutani. Aku adalah 
bayi yang dikandung ibuku saat ia ngeluruk ke kantor Perhutani itu.

Selepas peristiwa itu, Bido tidak lagi mau meneruskan sekolah. Ia 
keluar. Dan semenjak itu, ia tumbuh nyaris menghabiskan waktu di 
hutan membantu emaknya. Konon nama Bido diberikan kepadanya karena 
suatu saat, ia menangis di sepanjang jalan kampung, melempari dua 
pemburu yang datang dari kota karena menembak seekor bido, sejenis 
elang kecil, yang kerap bertengger di atas pohon sukun di belakang 
rumahnya. Bido menangis, melempar kedua pemburu itu dengan batu 
sambil berteriak, "Bidoku! Bidoku! Bidoku!"

Jauh di dalam hatiku, aku ingin sekali membalas pertolongan Bido. Dan 
itu terjadi ketika aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat 
itu, aku harus sekolah di luar kampung, dan setiap akhir pekan aku 
pulang. Suatu saat, aku membawa pulang beberapa kaset film biru. Aku 
menontonnya dengan beberapa orang di kampung, termasuk Bido. Setelah 
itu, Bido sering bertanya kepadaku kapan lagi aku membawa film ohyes, 
begitu Bido menyebut film biru karena ada banyak kata 'oh yes' di 
film itu. Beberapa kali aku menyewa film-film ohyes agar Bido senang.

Tetapi balas budi kepada Bido kurasa impas ketika suatu saat ia 
tertimpa masalah. Aku mendengar Bido digelandang ke kantor polisi 
karena dilaporkan oleh Haji Munawir. Bido dituduh mencuri rokok di 
toko kelontong Haji Munawir. Orang-orang kampung kemudian bisa 
meyakinkan pihak kepolisian kalau Bido tidak melakukannya sebab di 
malam kejadian, Bido tengah berjudi di desa sebelah. Tapi pengakuan 
dari orang-orang itu terlambat, Bido sudah telanjur dimasukkan ke sel 
berhari-hari, dan ia sudah telanjur malu. Begitu keluar dari sel, 
Bido mengasah parang, hampir melabrak Haji Munawir, tapi untunglah 
ada banyak orang yang melarang dan menghentikannya di tengah jalan. 
Yang membuatku tersentuh dan tiba-tiba merasa ikut terlibat adalah, 
ketika tengah mabuk arak di warung, Bido mengatakan betapa menderita 
emaknya yang sudah tua karena tuduhan itu.

Berminggu-minggu aku berpikir keras, sering pulang ke kampung 
walaupun tidak akhir pekan, mengamati sesuatu, membuat perhitungan di 
secarik kertas, dan menunggu. Hingga kemudian suatu malam, kupaparkan 
rencanaku kepada Bido.

Aku bilang, baru saja Haji Munawir menebar benih di kolam ikannya. 
Jika habis magrib Bido menutup saluran air yang menuju ke kolam, lalu 
membobol tanggulnya dengan lubang dua kepal tangan, maka tepat di 
tengah malam, kolam itu akan asat. Dan kalau ia menutup lubang itu 
lalu membuka lagi saluran air, maka menjelang pagi, kolam itu akan 
kembali tergenang air seperti sedia kala. Tapi kolam itu sudah 
kosong, tidak ada benih ikan lagi.

Hanya selang beberapa hari, Bido melakukan aksi itu dengan sukses. 
Butuh waktu lebih dari sebulan bagi Haji Munawir untuk menyadari 
bahwa kolamnya sudah tidak berisi ikan lagi. Tiap sore ia masih ke 
kolam menebarkan pakan ikan. Baru sebulan lebih kemudian, seluruh 
orang kampung melihat Haji Munawir meraung di sepanjang jalan, 
menangis, mengumpat dan berdoa.

Setelah kejadian itu, setiap aku bertemu Bido kami saling tersenyum 
penuh arti. Tetapi lagi-lagi aku melakukan kesalahan. Saat aku duduk 
di meja kamarku, ibu melempar kertas yang berisi coretan-coretan 
strategi menguras kolam itu. Coretan itu kusimpan di saku tas 
sekolahku, dan kali itu aku melemparkan tas itu di bak pakaian kotor. 
Seperti biasa, sebelum dicuci, ibu selalu memeriksa ulang adakah 
sesuatu yang tertinggal di pakaian-pakaian kotor. Kali itu, ibu bukan 
hanya memandangku tajam sekali, tetapi ada air yang berlinang di 
kedua pelupuk matanya.

Setelah aku kuliah dan bekerja, hanya sesekali saja aku bertemu Bido, 
terutama saat pulang kampung menjelang Lebaran. Beginilah kisah yang 
kudengar dan kuamati sepintas, terutama saat aku pulang.

Ketika emak Bido meninggal dunia, Bido menjual tanah dan rumah 
warisannya, lalu mendirikan warung kopi di dekat lapangan sepak bola. 
Ia menyekat warung kopinya menjadi dua, satu ruang untuk jualan kopi, 
satu ruang untuk berjudi. Segera warung kopi itu menjadi warung 
paling ramai di kampungku. Semua orang datang ke sana, juga para 
aparat keamanan. Dan beginilah yang khas dari Bido, ia duduk-duduk di 
atas lincak yang terletak di depan warungnya, dengan tenang menemui 
polisi atau tentara yang datang. Sementara itu, dua pekerja meladeni 
para pengunjung warung kopi dan mereka yang sedang berjudi. Saat itu, 
Bido selalu mengenakan sarung, berkopiah, dan memakai pakaian Korpri 
lengan panjang yang sudah mangkak, entah lungsuran dari siapa.

Tidak lama kemudian, di warung Bido tersedia arak. Warung itu semakin 
ramai saja oleh pembeli dan para penjudi. Bido tetap seperti biasa, 
menunggu warung dengan duduk-duduk di depan, tapi saat itu ia sudah 
mengganti 'seragamnya' dengan kaus kepolisian berlengan panjang. Dan 
satu lagi, sebuah jam tangan melingkar di pergelangan tangannya. 
Hanya yang aneh, jam yang dikenakannya tidak jalan lagi alias mati.

Tak lama kemudian, desas-desus berkecamuk. Seusai reformasi, konon 
Bido ikut terlibat dalam pencurian kayu di hutan. Ketika nama-nama 
yang sering disebut berada di belakang aksi itu membangun rumah mewah 
dan membeli mobil, tidak ada yang berubah di diri Bido. Dan saat 
banyak pencuri tertangkap, para makelar kayu kehilangan rumah dan 
mobil mereka, para aparat yang terlibat dipecat dan dipindah, Bido 
masih tetap tenang di warung kopinya.

Bido juga disebut-sebut berada di belakang maraknya bisnis judi 
togel. Tapi ketika orang-orang penjaga togel berseliweran dengan 
memakai sepeda motor baru dan memegang telepon genggam, Bido masih 
anteng saja, tetap menunggu warung dan duduk tenang di atas lincak. 
Hanya lagi-lagi 'seragamnya' yang berubah, ia memakai jaket doreng 
ala tentara. Saat para penjaga togel lari ketakutan karena operasi 
judi besar-besaran terjadi, Bido hanya cukup menutup bilik judinya.

Selentingan terakhir yang kudengar tentang Bido adalah saat ia diduga 
terlibat mensponsori seorang calon bupati dalam pemilihan langsung di 
daerahku. Siapa pun yang tidak mengikuti Bido secara langsung, 
mungkin akan menepis tudingan itu, termasuk aku. Bagaimana mungkin 
seorang yang hanya memiliki warung kopi dan arak bisa ikut 
mensponsori pencalonan seorang bupati? Tapi banyak orang yang bilang, 
bahwa tandonan uang Bido sejak terlibat pencurian kayu sampai togel 
menumpuk, dan semua dipakai untuk urusan pencalonan itu.

Jago Bido kalah. Konon karena kekalahan itulah Bido gampang uring-
uringan. Warung kopinya mulai sepi, dua orang yang membantunya di 
warung kopi keluar karena tidak tahan diomeli Bido. Warung kopi Bido 
semakin sepi ketika bermunculan warung-warung kopi lain yang 
memadukan antara warung kopi dengan meja biliar dan playstation. Bido 
kemudian jatuh sakit lalu meninggal dunia.

Menjelang magrib, ibu menghampiriku. Ia menyorongkan handuk dan kain 
sarung, sambil berpesan singkat, "Cepat mandi. Nanti kamu ya yang 
mimpin tahlilan untuk Bido…."

Aku terkejut. Tapi kemudian aku teringat sesuatu. Bido tidak punya 
istri dan kerabat. Aku melupakan rasa terkejutku dan segera bertanya 
ke ibu, di mana tahlilan akan dilaksanakan?

"Di sini," jawab ibu singkat. Sepasang mata ibu menatapku, tapi kali 
ini tidak tajam lagi…. *** 
  
http://sriti.com/storyview.php?key=2514



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke