REPUBLIKA Senin, 03 September 2007
Hard and Soft Nation Oleh : Ahmad Tohati Malaysia yang muncul sebagai negara merdeka sejak 1959 mempunyai riwayat hubungan yang turun naik dengan Indonesia. Pada awalnya kelahiran negeri tetangga itu amat ditentang Bung Karno karena presiden pertama itu menganggap Malaysia sebagai proyek neo kolonialisme/imperialisme. Tidak kepalang, Bung Karno mengajak rakyat Indonesia untuk mengganyang proyek Nekolim itu. Konfrontasi militer pun terjadi dan korban sudah mulai berjatuhan. Namun sebelum perang besar antarsesama bangsa Melayu itu terjadi Bung Karno jatuh. Dan perubahan yang drastis pun terjadi. Tak lama sesudah berganti penguasa, maka hubungan Indonesia dan Malaysia pun dipulihkan. Masa-masa manispun kemudian berkembang di antara keduanya. Bahasa Melayu di Malaysia dan Bahasa Indonesia disamakan ejaannya. Kemudian menyusul hadirnya mahasiswa Malaysia yang berlajar di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Mereka terutama belajar ilmu pertanian, teknik, kedokteran, ekonomi dan kependidikan. Bahkan Petronas, perusahaan perminyakan kebangsaan Malaysia dulu banyak belajar dari Permina yang sekarang berubah nama menjadi Pertamina. Memang dulu sering terjadi ketegangan antara Indonesia, namun ketegangan itu bukanlah permusuhan melainkan persaingan, yakni di bidang olah raga bulu tangkis. Zaman terus berkembang dan terbukti Malaysia yang dulu banyak belajar dari Indonesia, kini sudah berada di depan, terutama di bidang ekonomi. Pendapatan per kapita Malaysia sudah sepuluh kali lebih besar dari kita. Dunia pendidikan kita sudah mereka lampaui sehingga terjadi hal yang ironis. Dulu mereka mengirim mahasiswa ke Indonesia dan mengimpor guru untuk mengajar di sana. Sekarang terbalik, banyak mahasiswa kita yang belajar di sana dan guru-guru Malaysia didatangkan ke Riau. Ratusan ribu tenaga kerja Indonesia kini mencari makan di Malaysia, termasuk mereka yang dibilang pendatang haram. Belum lagi cerita tentang para TKW yang mendapat perlakuan buruk dari majikan atau dilecehkan secara seksual. Dan ternyata pemerintah Malaysia enggan bersikap tegas terhadap para majikan yang nakal. Kasus Blok Ambalat yang kaya minyak juga menunjukkan Malaysia sudah punya keberanian untuk melecehkan negara sebesar Indonesia. Klaim atas Blok Ambalat membuktikan betapa meraka telah merasa unggul terhadap Indonesia. Dan terakhir, pemukulan oleh empat polisi Malaysia terhadap wasit karate kita; apakah semua ini merupakan rangkaian kasus yang membuktikan bahwa mereka memang melecehkan kita karena merasa lebih unggul? Martabat dan harga diri bangsa memang harus dibela. Dan terkait kasus pemukulan terhadap wasit karate kita itu, kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Tetapi selebihnya kita patut merenung, mengapa Malaysia yang lebih muda bisa, melampaui kita dalam kemajuan tata negara, ekonomi, pendidikan, dan militer? Bukankah mereka sama-sama Melayu, sama-sama mayoritas Islam, sama-sama bekas negeri jajahan? Ada orang bilang Malaysia bisa cepat maju karena dulu mereka dijajah Inggris, bukan Belanda. Orang ini bilang, dalam hal menjajah suatu negeri, Inggris lebih manusiawi daripada Belanda. Ah, tapi alasan ini kurang masuk akal. Ada juga pendapat yang mengatakan, Malaysia cepat maju karena penduduk di sana 30 persen Cina sementara di Indonesia hanya 5 persen. Jadi unsur Cina sangat menentukan. Rasanya tidak pas juga. Jadi apa? Almarhum Dr Nurcholish Madjid melihat suatu perbedaan yang nyata antara Indonesia dan Malaysia. Dan perbedaan itu diyakininya sebagai sebab mengapa mereka lebih maju dari kita. Cak Nur memasukkan Malaysia dalam kategori hard nation dan bangsa kita ke dalam kategori soft nation meski keduanya di dominasi oleh ras Melayu. Bangsa yang keras ditandai oleh kelugasan dalam penegakan hukum, dan sebaliknya. Memang terasa, dalam hal penegakan hukum Malaysia lebih lugas dan konsisten, sementara kita sudah menjadi pengetahuan umum; hukum bisa disiasati, diatur-atur, bahkan bisa dibeli. Padahal menurut ahli dan pelaku ekonomi, tegaknya hukum adalah syarat mutlak bagi pengembangan dan kemajuan bangsa, tak terkecuali di bidang ekonominya. Sekarang pertanyaan kita jadi lebih mengerucut; mengapa Malaysia bisa membangun diri menjadi hard nation dan kita tetap asyik sebagai soft nation yang lemah dalam hal penegakan hukum? Mungkin jawabnya tidak jauh dari hal yang sejak lama kita anggap sebagai musuh namun tetap hadir dalam berbagai bentuk dan manifestasinya: keningratan. Dalam tatanan kekuasaan yang masih berbau keningratan, hukum memang bisa ditekuk-tekuk menurut selera orang yang berkuasa. Jadi tidak aneh ketika Pollycarpus, tertuduh dalam kasus kematian Munir, pada rekaman percakapan mantan direktur Garuda mengatakan antara lain, (dalam kasus Munir) hukum tidak ada. Poly berkata demikian sebab kematian Munir agaknya menyangkut invisible power yang sangat berkuasa di negeri ini. Ya, kalau begitu, kapan kita bisa menjadi hard nation yang lugas dan tegas dalam menegakkan hukumnya sendiri? Ini pertanyaan yang membuat kita gelisah. [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
