http://www.tribun-timur.com/view.php?id=48694&jenis=Opini

                  Sabtu, 08-09-2007  
                 

                  Dampak Terparah Perubahan Iklim
                    
                  INDONESIA disebut-sebut sebagai negara yang bakal mengalami 
akibat paling buruk dari perubahan iklim. Perubahan cuaca seperti badai yang 
makin sering terjadi, kemarau yang berkepanjangan, gelombang pasang menerjang 
pantai merupakan tanda-tanda dampak dari pemanasan global atau efek rumah kaca. 

                  Perubahan iklim yang sangat radikal, tidak hanya kian merusak 
lapisan ozon pada atmosfer Bumi. Suhu udara yang kian memanas juga telah 
melelehkan salju-salju yang berada kutub utara dan kutub selatan. Di pulau 
terbesar dunia, Green Island, terbentuk kolam raksasa yang kian membesar.
                    
                  Para ahli memprediksikan, salju yang telah mencair dan 
membentuk kolam raksasa di pulau itu, jika tumpah ke laut, bakal menenggelamkan 
kawasan-kawasan di pesisir pantai. Tidak terkecuali kota-kota besar di 
Indonesia. Bayangkan, permukaan air laut di dunia, secara otomatis akan naik 
setinggi 7 meter! 

                  Keadaan tersebut bakal menenggelamkan kota-kota yang berada 
di dekat laut. Indonesia sebagai negara kepulauan, bakal kehilangan ribuan 
pulau. Dari 17.580 pulau, mungkin hanya 3.000 atau 4.000 pulau yang bisa 
bertahan. Selebihnya akan hilang ditelan laut. Begitu pula kota besar seperti 
Jakarta, Makassar, Surabaya, Medan yang berada di tepi pantai, akan habis 
tertelan. 

                  Saat ini, masyarakat sudah bisa merasakan dampak pencairan es 
di kutub. Gelombang pasang di pesisir Pulau Jawa dan Sumatera sudah mencapai 
tinggi satu meter dan masuk ke daratan sejauh satu kilometer. Kondisi itu juga 
menimbulkan perubahan pola angin dengan seringnya muncul angin puting-beliung. 
Badai yang seharusnya terjadi di laut, kini malah menerjang wilayah daratan. 

                  Pemanasan global terjadi antara lain karena ozon yang 
berfungsi sebagai filter sinar matahari di atmosfer sudah berlubang besar. 
Ukurannya kini tiga kali luas benua Australia. Lubang ozon muncul karena 
penggunaan bahan-bahan yang mengandung sulfur, nitrogen, atau klor. Alhasil, 
semua elemen sinar matahari, termasuk sinar infra merah dan ultra violet yang 
berbahaya, langsung memanasi bumi. 
                  Penyebab lain perubahan iklim adalah gas rumah kaca akibat 
kegiatan manusia sehari-hari. Mulai dari emisi buangan kendaraan bermotor, 
pembakaran batu bara, hingga pembakaran hutan yang menghasilkan gas karbon. Gas 
itu membentuk satu lapisan di atmosfer bumi. Panas matahari yang dahulu bisa 
dipantulkan ke angkasa luar, kini tertahan oleh gas rumah kaca. Akibatnya, 
panas bumi semakin meningkat. 
                  Dalam menghadapi masalah tersebut, seluruh negara di dunia 
menyatakan komtimen untuk bekerja keras menahan laju, sekaligus beradaptasi 
terhadap perubahan iklim. Di Indonesia, rasanya, perlu segera peningkatan 
ketahanan dalam masyarakat untuk mengurangi risiko bahaya perubahan iklim lewat 
upaya adaptasi dan migitasi. 
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke